Selamat Datang dan Bergabung Bersama Perssilam Silampari News teknologi app iconDownload App Perssilam Silampari News: Search results for Penyakit
×
    Advertising
    ☰ Menu
W3.CSS
Dark Mode

Pages

Memuat berita...
Showing posts sorted by relevance for query Penyakit. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Penyakit. Sort by date Show all posts

Sunday, 16 August 2026

Jangan Sepelekan Nyeri Sendi yang Terulang, Karena Bisa Menjadi Penyakit Autoimun


Musi Rawas, Perssilam News - Nyeri sendi yang berlangsung lama atau muncul berulang kali sering dianggap sebagai keluhan biasa akibat kelelahan, kurang tidur, atau aktivitas fisik yang berlebihan. Pada sebagian orang, nyeri memang dapat membaik setelah beristirahat. Namun, keluhan perlu mendapat perhatian jika terus muncul, semakin berat, atau disertai tanda lain seperti pembengkakan, rasa hangat, kekakuan, dan keterbatasan gerak. Kekakuan yang terasa paling berat pada pagi hari juga perlu diperhatikan. Sebagian pasien membutuhkan waktu cukup lama sebelum jari, pergelangan tangan, lutut, atau bagian tubuh lain dapat digerakkan dengan nyaman. Berbeda dengan nyeri akibat aktivitas yang biasanya membaik setelah istirahat, nyeri karena peradangan dapat menetap dan membuat tubuh terasa kaku ketika bangun tidur. Keluhan tersebut dapat menjadi tanda penyakit reumatik. Salah satunya adalah Rheumatoid Arthritis atau RA. Penyakit autoimun kronis ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat, terutama lapisan yang melindungi sendi. Serangan tersebut memicu peradangan yang berlangsung terus-menerus. Jika tidak ditangani, peradangan dapat merusak tulang rawan, tulang, dan jaringan di sekitar sendi. Kerusakan itu bisa mengurangi kemampuan sendi untuk bergerak. Pada kondisi yang lebih berat, bentuk sendi dapat berubah dan pasien mengalami kesulitan melakukan kegiatan sederhana, seperti membuka tutup botol, memegang alat makan, mengenakan pakaian, atau berjalan. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi Siloam Hospitals Lippo Village, dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR, FACR, mengatakan bahwa tidak semua nyeri sendi disebabkan oleh kondisi yang sama. Penyakit reumatik mencakup lebih dari 80 jenis penyakit. Kelompok tersebut meliputi gangguan jaringan lunak, penyakit non-autoimun seperti gout dan osteoarthritis, serta penyakit autoimun seperti RA dan lupus. Setiap penyakit memiliki penyebab, pola gejala, dan cara penanganan yang berbeda. Gout, misalnya, berkaitan dengan penumpukan kristal asam urat pada sendi. Osteoarthritis lebih sering berkaitan dengan kerusakan tulang rawan yang membantu melindungi ujung tulang. Sementara itu, RA muncul akibat gangguan sistem kekebalan yang memicu peradangan pada lapisan sendi.
Advertising


BACA JUGA:
Petugas KAI Services berhasil menangkap seorang pencuri kabel persinyalan di Cikarang
"Nyeri sendi yang berkepanjangan sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai keluhan biasa. Kita perlu mengetahui penyebabnya karena setiap penyakit memiliki penanganan yang berbeda," kata dr. Sandra pada acara media gathering di Tangerang, Rabu, 12 Agustus 2026. Pada RA, peradangan dapat berlangsung meski nyeri tidak selalu terasa sangat berat. Karena itu, kemampuan menahan rasa sakit tidak dapat dijadikan patokan bahwa kondisi sendi aman. Sebagian pasien baru mencari pertolongan setelah bengkak semakin sering muncul atau gerak tubuh mulai terganggu. Pola keluhan menjadi salah satu hal yang dinilai dokter. Nyeri dan kekakuan pada tangan, terutama ketika pagi hari, termasuk tanda yang perlu dicermati. Kekakuan biasanya berkurang setelah tubuh mulai bergerak atau beraktivitas. Namun, jika keluhan berulang dan berlangsung dalam waktu lama, pemeriksaan tetap diperlukan. Sendi yang sering terdampak RA antara lain sendi jari dan pergelangan tangan. Keluhan dapat muncul secara simetris, misalnya terjadi pada tangan kanan dan kiri dalam waktu yang hampir bersamaan. Pola ini berbeda dari beberapa jenis cedera atau gangguan sendi yang hanya mengenai satu bagian tubuh. Pada tahap awal, gejala RA kerap dianggap ringan. Pasien mungkin merasa jari lebih sulit ditekuk saat bangun tidur. Jari juga dapat tampak bengkak atau terasa penuh. Cincin yang biasanya longgar bisa menjadi lebih ketat pada pagi hari. Ada pula pasien yang kesulitan menggenggam gelas, memutar kunci, mengetik, atau membuka kancing pakaian. Keluhan tidak selalu muncul dengan intensitas yang sama setiap hari. Nyeri bisa membaik sementara, lalu kembali muncul. Pola naik turun seperti ini membuat pasien menunda pemeriksaan. Padahal, peradangan tetap dapat berjalan ketika rasa sakit sedang berkurang. "Pasien sering datang setelah cukup lama mengalami keluhan karena merasa nyerinya masih bisa ditahan. Padahal, jika nyeri dan kaku terus berulang, terutama disertai pembengkakan pada beberapa sendi, kita perlu mencari tahu penyebabnya," ujarnya. Jika peradangan terus berlangsung, RA dapat menyerang lebih banyak sendi, termasuk lutut, bahu, siku, dan pergelangan kaki. Pasien dapat merasa lebih cepat lelah, kesulitan menaiki tangga, atau tidak mampu berdiri dan berjalan dalam waktu lama. Pada sebagian orang, penyakit ini juga dapat menimbulkan keluhan umum yang perlu dinilai bersama gejala sendi. Kondisi yang terlambat ditangani berisiko menyebabkan perubahan bentuk sendi hingga kecacatan permanen. Kerusakan tersebut tidak selalu dapat dipulihkan hanya dengan mengurangi nyeri. Karena itu, pemeriksaan sejak gejala awal membantu dokter menentukan langkah sebelum gangguan pada sendi semakin luas.
Jangan Hanya Mengandalkan Obat Pereda Nyeri
Nyeri sendi yang berulang membuat sebagian masyarakat memilih mengonsumsi obat penghilang nyeri. Sebagian lainnya menggunakan produk herbal atau obat tradisional karena mudah diperoleh. Obat pereda nyeri memang dapat mengurangi rasa sakit untuk sementara, tetapi tidak menghilangkan penyebab peradangan atau menghentikan proses penyakit. Efek obat yang membuat nyeri berkurang sering memberi kesan bahwa masalah sudah selesai. 
Advertising

BACA JUGA: Dari Fikih Disabilitas menuju NU Inklusif, penyandang disabilitas didorong untuk menjadi subjek yang aktif
Padahal, gejala dapat kembali ketika efek obat berakhir. Penggunaan obat berulang tanpa pemeriksaan juga dapat menunda diagnosis. Akibatnya, pasien kehilangan waktu untuk memulai terapi yang sesuai. "Kalau nyeri sendi hanya sesekali, obat penghilang nyeri mungkin dapat digunakan satu atau dua kali. Namun, jika nyeri terus berulang, jangan bergantung pada obat penghilang nyeri saja," kata dr. Sandra. Penggunaan obat juga perlu memperhatikan kondisi kesehatan lain. Beberapa obat dapat menimbulkan gangguan pada lambung, ginjal, hati, atau tekanan darah, terutama jika dikonsumsi terlalu sering dan tanpa petunjuk dokter. Risiko tersebut dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada usia, penyakit penyerta, serta obat lain yang sedang digunakan. Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap produk alami atau tradisional yang tidak mencantumkan komposisi dengan jelas. Sejumlah produk dapat mengandung kortikosteroid atau obat antiinflamasi nonsteroid, yang biasa disebut NSAID, tanpa informasi yang cukup pada kemasan. Kandungan tersebut dapat membuat nyeri cepat berkurang, tetapi tetap memiliki efek samping jika digunakan tanpa pengawasan. Produk tanpa izin dan tanpa keterangan dosis yang jelas juga menyulitkan dokter ketika menilai kondisi pasien. Pasien sebaiknya menyampaikan semua obat, suplemen, dan produk tradisional yang dikonsumsi saat berkonsultasi. Informasi itu membantu dokter menghindari kombinasi obat yang berisiko.
Diagnosis Tidak Bisa Hanya dari Satu Pemeriksaan
RA tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan satu gejala atau satu hasil pemeriksaan laboratorium. Nyeri tangan saja belum cukup untuk menyatakan seseorang mengalami RA. Begitu pula hasil laboratorium tertentu tidak dapat berdiri sendiri tanpa melihat keluhan dan kondisi sendi pasien. Dokter perlu menanyakan kapan nyeri mulai muncul, sendi mana yang terdampak, apakah keluhan terjadi pada kedua sisi tubuh, serta berapa lama kekakuan berlangsung setelah bangun tidur. Riwayat penyakit, obat yang sedang dikonsumsi, serta gangguan kesehatan dalam keluarga juga dapat menjadi bagian dari penilaian. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat pembengkakan, rasa hangat, nyeri saat ditekan, dan kemampuan sendi bergerak. Dokter juga dapat menilai apakah beberapa sendi mengalami peradangan pada waktu yang sama. Temuan tersebut membantu membedakan RA dari penyebab nyeri sendi lainnya. Pemeriksaan penunjang dapat meliputi pemeriksaan darah seperti Rheumatoid Factor atau RF dan Anti-Citrullinated Protein Antibody atau ACPA, termasuk anti-CCP. Dokter dapat meminta pemeriksaan lain untuk melihat tanda peradangan atau menilai kondisi kesehatan secara menyeluruh. Pemeriksaan pencitraan juga dapat dilakukan jika diperlukan untuk melihat perubahan pada sendi. Hasil RF negatif tidak otomatis menyingkirkan kemungkinan RA. Sebagian pasien mengalami RA seronegatif, yaitu RA dengan hasil RF atau penanda antibodi tertentu yang tidak terdeteksi. Karena itu, hasil laboratorium perlu dibaca bersama gejala, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang lain. "Rheumatoid Factor yang negatif tidak otomatis berarti seseorang tidak mengalami Rheumatoid Arthritis. Ada kondisi yang disebut Rheumatoid Arthritis seronegative. Karena itu, diagnosis tetap harus berdasarkan kombinasi gejala klinis, pemeriksaan dokter, dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan," ujarnya menjelaskan. Pemeriksaan mandiri melalui hasil laboratorium juga tidak disarankan. Nilai yang berada di luar batas normal belum tentu menunjukkan RA. Sebaliknya, hasil yang tampak normal juga belum tentu menyingkirkan penyakit. Dokter perlu melihat hubungan antara angka pemeriksaan dan kondisi pasien. Pasien dengan nyeri sendi yang dicurigai sebagai penyakit reumatik autoimun disarankan berkonsultasi dengan dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi atau Rheumatologist. Dokter dengan keahlian tersebut dapat membantu menilai pola penyakit, memastikan diagnosis, dan memilih terapi sesuai kondisi pasien.
Deteksi Dini Cegah Kerusakan Sendi
Deteksi dan terapi sejak dini menjadi bagian penting dalam pengelolaan RA. Semakin cepat penyakit dikenali, semakin cepat dokter dapat menyusun strategi untuk mengendalikan peradangan. Tujuannya adalah menjaga fungsi sendi dan mencegah kerusakan yang menetap. Penanganan RA tidak hanya berfokus pada rasa nyeri. Dokter juga perlu mengendalikan aktivitas penyakit agar peradangan tidak terus merusak sendi. Terapi dapat membutuhkan pemantauan berkala untuk menilai respons tubuh, perubahan gejala, dan kemungkinan efek samping. Setelah diagnosis ditegakkan, terapi akan disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Dokter mempertimbangkan jumlah sendi yang terdampak, tingkat peradangan, lama penyakit, usia, penyakit penyerta, serta obat yang sedang digunakan. Pasien tidak dianjurkan menghentikan atau mengubah dosis obat tanpa berkonsultasi.
Advertising


BACA JUGA: 
Kapolri Cup 2026 Membuka Peluang bagi Generasi Muda untuk Meraih Prestasi Digital
Pengelolaan RA juga mencakup edukasi mengenai penyakit. Pasien perlu memahami tanda kekambuhan, cara menggunakan obat, serta waktu yang tepat untuk kembali ke dokter. Pengetahuan ini membantu pasien mengambil keputusan yang lebih aman ketika keluhan berubah. Selain pengobatan medis, pasien perlu menjaga berat badan, mengatur pola makan, mencukupi waktu istirahat, dan mengelola stres. Aktivitas fisik tetap dibutuhkan untuk membantu menjaga kekuatan otot dan kelenturan sendi, tetapi jenis serta intensitasnya harus disesuaikan dengan kondisi. Saat sendi sedang bengkak dan nyeri berat, aktivitas yang membebani sendi mungkin perlu dikurangi. Setelah kondisi lebih terkendali, dokter atau tenaga kesehatan dapat membantu menyusun latihan yang aman. Olahraga yang dipaksakan dapat memperburuk keluhan, sedangkan terlalu lama tidak bergerak dapat membuat tubuh semakin kaku. "Tujuan pengobatan Rheumatoid Arthritis bukan sekadar menghilangkan rasa nyeri. Kita perlu mengendalikan penyakit dan mencegah kerusakan sendi agar pasien tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik," kata dr. Sandra. Masyarakat disarankan segera memeriksakan diri apabila mengalami nyeri sendi yang menetap atau berulang. Pemeriksaan semakin penting jika keluhan disertai pembengkakan, kekakuan pada pagi hari, keterbatasan gerak, atau nyeri pada beberapa sendi sekaligus. Keluhan yang mengganggu pekerjaan, tidur, berjalan, atau aktivitas rumah tangga juga tidak sebaiknya dibiarkan. Setelah diagnosis ditegakkan, terapi akan disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Dokter mempertimbangkan jumlah sendi yang terdampak, tingkat peradangan, lama penyakit, usia, penyakit penyerta, serta obat yang sedang digunakan. Pasien tidak dianjurkan menghentikan atau mengubah dosis obat tanpa berkonsultasi. Pengelolaan RA juga mencakup edukasi mengenai penyakit. Pasien perlu memahami tanda kekambuhan, cara menggunakan obat, serta waktu yang tepat untuk kembali ke dokter. Pengetahuan ini membantu pasien mengambil keputusan yang lebih aman ketika keluhan berubah. Selain pengobatan medis, pasien perlu menjaga berat badan, mengatur pola makan, mencukupi waktu istirahat, dan mengelola stres. Aktivitas fisik tetap dibutuhkan untuk membantu menjaga kekuatan otot dan kelenturan sendi, tetapi jenis serta intensitasnya harus disesuaikan dengan kondisi. Saat sendi sedang bengkak dan nyeri berat, aktivitas yang membebani sendi mungkin perlu dikurangi. Setelah kondisi lebih terkendali, dokter atau tenaga kesehatan dapat membantu menyusun latihan yang aman. Olahraga yang dipaksakan dapat memperburuk keluhan, sedangkan terlalu lama tidak bergerak dapat membuat tubuh semakin kaku. "Tujuan pengobatan Rheumatoid Arthritis bukan sekadar menghilangkan rasa nyeri. Kita perlu mengendalikan penyakit dan mencegah kerusakan sendi agar pasien tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik," kata dr. Sandra. Masyarakat disarankan segera memeriksakan diri apabila mengalami nyeri sendi yang menetap atau berulang. Pemeriksaan semakin penting jika keluhan disertai pembengkakan, kekakuan pada pagi hari, keterbatasan gerak, atau nyeri pada beberapa sendi sekaligus. Keluhan yang mengganggu pekerjaan, tidur, berjalan, atau aktivitas rumah tangga juga tidak sebaiknya dibiarkan. Pemeriksaan perlu dilakukan lebih cepat jika muncul nyeri berat, kemerahan, pembengkakan pada sendi, demam, atau keluhan setelah trauma. Tanda-tanda tersebut dapat berkaitan dengan kondisi yang membutuhkan penanganan segera. Dokter akan menentukan pemeriksaan berdasarkan gejala dan hasil evaluasi langsung. "Jangan menunggu sampai bentuk sendi berubah atau aktivitas sehari-hari terganggu. Cari tahu penyebab nyeri sendi sejak awal. Penanganan yang tepat sejak dini dapat membantu mencegah kerusakan sendi dan menjaga kualitas hidup," kata dr. Sandra menandaskan.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Tags :
Artikel Terkait
Share:

Monday, 24 August 2026

Menteri Kesehatan Budi mendorong para dokter di Indonesia untuk memperkuat kolaborasi internasional Dokter Internasional


Musi Rawas, Perssilam News - Penyakit otak dan gangguan saraf semakin mendapat perhatian seiring meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Indonesia. Ketika seseorang hidup lebih lama, risiko mengalami penyakit yang berkaitan dengan proses penuaan juga ikut meningkat. Stroke, Parkinson's disease, demensia, Alzheimer, serta berbagai movement disorder menjadi tantangan kesehatan yang membutuhkan deteksi dan penanganan sejak awal. Gangguan tersebut dapat memengaruhi banyak sisi kehidupan pasien. Stroke, misalnya, dapat menyebabkan kelemahan pada satu sisi tubuh, gangguan bicara, kesulitan menelan, hingga masalah pada daya ingat. Parkinson's disease dapat memicu tremor, gerakan tubuh yang melambat, kekakuan otot, dan gangguan keseimbangan. Sementara itu, demensia memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, serta kemampuan seseorang dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Kondisi-kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada pasien. Keluarga juga sering harus memberikan pendampingan dalam waktu panjang. Beban perawatan dapat meningkat ketika penyakit baru diketahui setelah gejalanya berat. Karena itu, pemahaman masyarakat dan tenaga kesehatan mengenai tanda awal penyakit menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup pasien. Perhatian terhadap isu tersebut menjadi salah satu bahasan utama dalam The 1st International King's-EMC Neuroscience Masterclass & Symposium 2026. Kegiatan ini mempertemukan dokter dan ahli neurologi dari Indonesia dengan sejumlah pakar dari berbagai negara, termasuk para ahli dari King's College London. Forum tersebut menjadi ruang untuk membahas perkembangan ilmu saraf, tantangan diagnosis, pilihan perawatan, serta kebutuhan riset di Indonesia. Pertemuan semacam ini juga memberi kesempatan bagi tenaga kesehatan untuk bertukar pengalaman mengenai kasus yang mereka temui dalam praktik. Pengetahuan dari pusat layanan kesehatan di berbagai negara dapat menjadi bahan pembelajaran bagi pengembangan layanan neurologi di Indonesia. Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama akademik antara EMC Healthcare dan King's College London yang telah berlangsung selama tiga tahun. Pada tahap awal, kerja sama tersebut berfokus pada peningkatan kompetensi dokter dan tenaga kesehatan EMC Healthcare. Program pelatihan mencakup dokter spesialis neurologi, dokter rehabilitasi medik, serta tenaga kesehatan yang bekerja di bidang rehabilitasi. Kini, kerja sama itu diperluas dengan mengikutsertakan tenaga medis dari luar jaringan EMC Healthcare. Perluasan ini membuka akses yang lebih luas bagi dokter dan tenaga kesehatan Indonesia untuk memperoleh pengetahuan dari para ahli internasional. Dengan lebih banyak peserta, hasil pembelajaran diharapkan dapat menyebar ke rumah sakit dan layanan kesehatan lain.
Advertising

BACA JUGA:
Fabian Hurzeler memuji penampilan Brighton setelah mereka mengalahkan Aston Villa dengan telak
CEO EMC Healthcare Jusup Halimi mengatakan, kerja sama tersebut berawal dari perhatian terhadap masih banyaknya kasus Parkinson's disease dan movement disorder yang terlambat didiagnosis. Movement disorder merupakan kelompok gangguan yang memengaruhi kecepatan, kelancaran, atau pola gerak tubuh. Gejalanya dapat berupa tremor, gerakan yang tidak terkendali, kekakuan, atau kesulitan memulai gerakan. Menurut Jusup, keterlambatan diagnosis dapat membuat proses perawatan menjadi lebih sulit. Dokter perlu melakukan pemeriksaan lebih menyeluruh untuk membedakan satu gangguan dengan gangguan lain. Pada sebagian pasien, gejala juga dapat terlihat seperti masalah biasa yang berkaitan dengan usia, kelelahan, atau gangguan pada sendi. "Parkinson dan movement disorder lainnya sering kali terlambat didiagnosis. Ketika diagnosis dilakukan terlambat, treatment-nya menjadi lebih kompleks, lebih sulit, dan tentunya meningkatkan biaya," ujar Jusup. Diagnosis yang lebih awal memberi kesempatan bagi pasien untuk memperoleh perawatan sesuai kebutuhannya. Dokter dapat memantau perubahan gejala, menyusun rencana terapi, serta memberi arahan kepada keluarga mengenai perawatan di rumah. Pasien juga dapat mengikuti rehabilitasi untuk membantu menjaga kemampuan bergerak dan menjalankan kegiatan sehari-hari. Jusup menilai kondisi tersebut mendorong EMC Healthcare meningkatkan perhatian terhadap Parkinson's disease dan demensia di Indonesia. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membangun kerja sama akademik dengan King's College London. Melalui kerja sama itu, dokter dan tenaga kesehatan mendapat kesempatan untuk memperbarui pemahaman mengenai diagnosis, perawatan, serta rehabilitasi pasien dengan gangguan saraf. Selama tiga tahun terakhir, EMC Healthcare mengirimkan dokter spesialis neurologi, dokter rehabilitasi medik, dan tenaga kesehatan di bidang rehabilitasi untuk mengikuti pelatihan bersama King's College London. Pelatihan tersebut juga berlangsung melalui program di Dubai. Kegiatan ini memberi peserta paparan terhadap pendekatan klinis dan pengalaman dari para pengajar yang menangani penyakit saraf di tingkat internasional. Peningkatan pengetahuan menjadi penting karena masih ada anggapan bahwa perubahan fungsi tubuh pada usia lanjut merupakan hal yang normal dan harus diterima. Tangan yang sering bergetar, langkah yang makin pendek, tubuh yang kaku, atau kemampuan mengingat yang menurun kadang dianggap sebagai bagian biasa dari proses penuaan. Padahal, gejala tersebut dapat menjadi tanda penyakit yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. "Padahal banyak hal seperti ini sebenarnya bisa diatasi sehingga kualitas hidup para penderitanya dapat ditingkatkan," kata Jusup.
Penanganan tidak selalu berarti menghilangkan seluruh gejala. Perawatan dapat membantu mengurangi gangguan, mempertahankan kemampuan pasien, dan mencegah penurunan fungsi berlangsung lebih cepat. Pendekatan yang diberikan juga dapat melibatkan obat, latihan fisik, terapi okupasi, terapi wicara, serta dukungan bagi keluarga. Pilihannya bergantung pada kondisi dan kebutuhan setiap pasien. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang hadir dalam pembukaan The 1st International King's-EMC Neuroscience Masterclass & Symposium 2026 berharap kerja sama semacam ini mendorong lebih banyak dokter dan peneliti Indonesia terhubung dengan para ahli di luar negeri. Hubungan tersebut dapat membuka ruang pertukaran pengetahuan, pengalaman klinis, serta gagasan penelitian. Menurut Budi, hubungan antara tenaga medis Indonesia dan ahli dari negara lain dapat membantu mempercepat pemahaman mengenai penyakit saraf. Dokter Indonesia dapat mempelajari perkembangan pemeriksaan dan perawatan di luar negeri. Pada saat yang sama, peneliti internasional juga dapat memahami kebutuhan dan tantangan yang dihadapi sistem kesehatan Indonesia. "Saya berharap bisa menstimulasi keinginan dokter-dokter di Indonesia dan peneliti Indonesia terkait penyakit neuro seperti ini untuk bisa berhubungan dengan teman-teman di luar negeri," ujar Budi. Budi juga berharap simposium yang digelar EMC Healthcare bersama King's College London dapat membantu meningkatkan pengetahuan dokter Indonesia agar setara dengan pengetahuan dokter di luar negeri. Kesetaraan tersebut dibutuhkan supaya pasien di Indonesia memperoleh kesempatan yang lebih baik untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan sesuai standar ilmu kedokteran yang terus berkembang. "Terpenting nantinya bisa mengakselerasi pemahaman teman-teman Indonesia terhadap penyakit ini setara dengan yang di luar negeri," kata dia. Pemerintah, menurut Budi, telah memperluas akses terhadap fasilitas diagnostik. Salah satunya melalui pengembangan layanan CT scan di 514 kabupaten dan kota. CT scan dapat membantu dokter memeriksa kondisi otak, terutama pada pasien dengan dugaan stroke atau gangguan lain yang membutuhkan pemeriksaan cepat. Perluasan fasilitas tersebut membantu memperpendek waktu menuju diagnosis. Dalam kasus stroke, waktu menjadi faktor penting karena kerusakan pada jaringan otak dapat terus bertambah ketika aliran darah terganggu. Dokter membutuhkan informasi yang cepat untuk menentukan langkah perawatan yang sesuai dengan kondisi pasien. Pemerintah juga menyiapkan cath lab dan meningkatkan kompetensi dokter untuk menangani kasus stroke serta gangguan neurovaskular yang lebih kompleks. Cath lab merupakan fasilitas yang digunakan untuk memeriksa dan menangani pembuluh darah, termasuk pembuluh darah yang berkaitan dengan jantung dan sistem peredaran darah. Penguatan fasilitas dan kemampuan tenaga medis diperlukan agar pasien dengan kondisi berat dapat memperoleh penanganan yang tepat. Namun, Budi menilai tantangan berikutnya berada pada penyakit seperti Alzheimer dan demensia. Kedua penyakit ini masih menyimpan banyak pertanyaan ilmiah. Dokter dan peneliti masih terus mempelajari penyebab, proses perkembangan, faktor risiko, serta cara menemukan penyakit tersebut sebelum gejalanya menjadi berat. Demensia juga memiliki banyak bentuk dan penyebab. Penurunan daya ingat tidak selalu menunjukkan satu jenis penyakit yang sama. Pemeriksaan yang tepat diperlukan untuk melihat kondisi pasien secara menyeluruh, termasuk perubahan kemampuan berpikir, perilaku, bahasa, dan kemampuan menjalankan aktivitas harian. Karena itu, penelitian dan pengembangan teknologi untuk mendeteksi penyakit otak secara lebih dini menjadi penting. 
Advertising

BACA JUGA: 
Mengenal ScaleOcean Atlas: Satu Platform untuk Setiap Kompleksitas Bisnis
Budi mendorong pengembangan teknologi diagnostik, biomarker, genomik, kecerdasan buatan, dan bioteknologi. Biomarker merupakan tanda biologis yang dapat membantu menunjukkan adanya proses penyakit dalam tubuh. Pemeriksaan semacam ini berpotensi membantu dokter mengenali gangguan sebelum kerusakan fungsi menjadi lebih luas. Genomik juga dapat membantu peneliti memahami hubungan antara faktor genetik dan risiko penyakit tertentu. Kecerdasan buatan dapat dipelajari untuk membantu membaca hasil pemeriksaan atau mengenali pola yang sulit terlihat melalui pemeriksaan biasa. Sementara itu, bioteknologi dapat mendukung pencarian metode pemeriksaan dan terapi baru. Pengembangan teknologi tetap perlu berjalan bersama peningkatan kemampuan dokter dan tenaga kesehatan. Alat pemeriksaan yang lebih baik membutuhkan tenaga yang mampu menggunakannya dengan tepat serta menafsirkan hasil sesuai kondisi pasien. Pasien juga memerlukan layanan lanjutan, termasuk rehabilitasi dan pendampingan keluarga. The 1st International King's-EMC Neuroscience Masterclass & Symposium 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara pendidikan, layanan kesehatan, dan penelitian penyakit saraf. Melalui kerja sama yang berkelanjutan, EMC Healthcare dan King's College London mendorong peningkatan kemampuan tenaga medis serta membuka akses pembelajaran bagi peserta yang lebih luas.  Penguatan tersebut diharapkan membantu Indonesia menghadapi meningkatnya kebutuhan layanan neurologi. Diagnosis yang lebih cepat, penanganan yang sesuai, dan riset yang terus berkembang dapat membantu pasien mempertahankan fungsi tubuh serta menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Tags :
Artikel Terkait
Share:

Monday, 4 May 2026

Stres ternyata dapat menyebabkan penyakit ini


indonesia, Perssilam - Stres adalah kondisi biasa yang sering dialami orang. Tapi jangan biarkan itu berlangsung lama. Dampaknya buruk untuk kesehatan. Stres bisa picu sakit kepala hebat. Suasana hati jadi naik turun. Tidur pun terganggu. Aktivitas sehari-hari jadi kacau. Tanpa penanganan, stres panjang lemahkan daya tahan tubuh. Sistem imun turun. Tubuh mudah kena penyakit. Makanya, redakan stres dengan cara sederhana. Nikmati hobi favorit. Lakukan ibadah rutin. Curhat ke orang dekat yang dipercaya.
Advertising

BACA JUGA: 
FIFA Menyatakan bahwa Piala Dunia 2026 Akan Menjadi Simbol Persatuan Dunia
Berdasarkan berbagai sumber terpercaya. Berikut daftar penyakit dari stres berkepanjangan.
1. Depresi
Stres lama bukan cuma rusak fisik. Ia dorong orang ke depresi berat. Orang depresi rentan bertindak kasar. Bisa salah pakai obat. Bahkan lukai diri sendiri. Kasus ekstrem capai percobaan bunuh diri. Bayangkan, pikiran terus gelisah. Hati hancur. Hidup terasa sia-sia.
2. Penyakit Jantung
Stres tingkatkan risiko jantung. Penyakit ini pembunuh nomor satu di dunia. Cara kerjanya gini. Denyut jantung cepat. Lemak darah naik. Tekanan darah melonjak jadi hipertensi. Kalau dibiarkan, serangan jantung datang. Stroke pun mengintai. Contohnya, orang stres kerja lembur terus. Jantungnya bekerja ekstra keras setiap hari.
Advertising

3. Gangguan Tidur
Otak penuh beban pikiran. Emosi campur aduk. Hasilnya, susah tidur. Insomnia muncul malam demi malam. Kalau berlarut, tekanan darah naik lagi. Usia pendek pun mengancam. Orang kurang tidur sering lelah siang hari. Konsentrasi hilang. Kecelakaan kerja naik. Semua dari stres yang tak reda.
4. Gangguan Pencernaan
Emosi berubah cepat. Perut langsung bereaksi. Lambung dan usus terkait erat dengan otak. Saat stres, maag kambuh. GERD menyiksa dada. Sindrom usus iritasi atau IBS bikin perut kembung. Diare atau sembelit bergantian. Banyak orang alami ini pas deadline ketat. Makan jadi tak enak. Nutrisi kurang.
Advertising

BACA JUGA: 
Toko Resmi Garuda Kini Tersedia di Living World Cibubur
5. Diabetes
Stres picu diabetes lewat dua jalan. Pertama, pola makan buruk. Kedua, kebiasaan hidup berantakan. Stres ganggu pankreas. Produksi insulin terganggu. Gula darah sulit dikontrol. Orang stres sering makan manis buat tenang. Gerak kurang. Berat badan naik. Diabetes tipe 2 datang pelan tapi pasti.
Lihat daftar ini. Stres panjang hubungkan dengan kematian dini. Tangani serius sekarang. Olahraga ringan tiap pagi. Meditasi sebentar sebelum tidur. Makan bergizi seimbang. Cari dukungan dari keluarga teman. Kesehatan badan dan pikiran tetap kuat. Hidup lebih panjang dan bahagia.
Advertising

BACA JUGA: 
Elon Musk mengajukan gugatan terhadap OpenAI dan Sam Altman di Pengadilan California
Amerika Utara siap jadi tuan rumah sempurna. Stadion megah sudah tunggu. Penggemar dunia akan saksikan sejarah baru. Infantino tutup pidato dengan optimis. Sepak bola bukan sekadar permainan. Ia jadi alat ubah dunia. Satukan yang terpecah. Bangun harapan di tengah badai. Kongres ini bukti FIFA serius jalankan misi itu.
EditorRedaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait
Share:

Tuesday, 10 February 2026

Kesehatan : Pemerintah Provinsi Jawa Barat Menanggung Iuran BPJS untuk Warga Miskin


Indonesia, Perssilam - Pemprov Jawa Barat siap tanggung iuran BPJS Kesehatan untuk warga miskin yang derita penyakit kronis. Fokus utama pada mereka yang dulunya peserta segmen Penerima Bantuan Iuran atau PBI dari Kementerian Sosial. PBI ini adalah program bantuan iuran BPJS untuk keluarga tak mampu. Banyak warga kehilangan akses setelah Kemensos sesuaikan data penerima. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ungkap kebijakan ini lahir dari keprihatinan nyata. Banyak warga miskin sakit kronis tak bisa rawat diri. Mereka dicoret dari daftar PBI Kemensos usai penyesuaian data nasional. Akibatnya, biaya pengobatan jadi beban berat. Gubernur tekankan langkah ini cegah penderitaan lebih lanjut.
Advertising
BACA JUGA:Liga Italia : Gol Kalulu Menyelamatkan Juventus dari Kekalahan Melawan Lazio
Pemprov akan catat semua penderita penyakit kronis di Jawa Barat. Yang dulunya peserta PBI. Contohnya, pasien kanker butuh kemoterapi rutin. Penderita thalasemia mayor harus transfusi darah berkala. Pasien gagal ginjal jalani cuci darah dua hingga tiga kali seminggu. Semua biaya iuran BPJS mereka ditanggung Pemprov. Jaminan ini pastikan pengobatan lancar tanpa hambatan finansial.
"Pemprov Jabar segera data warga tak mampu dengan penyakit kronis," kata Gubernur Dedi Mulyadi. "Iuran BPJS Kesehatan mereka dibayar penuh oleh Pemprov." Ia sampaikan hal itu ke wartawan pada Senin, 9 Januari 2026. Tujuannya jelas. Warga miskin sakit kronis tetap dapat layanan kesehatan penuh. Tak ada lagi penundaan pengobatan. Rumah sakit langsung tangani tanpa syarat.
Advertising

Harapannya, semua warga Jawa Barat akses layanan kesehatan merata. "Kami ingin tak ada warga kesulitan berobat karena iuran BPJS," tambahnya. Kebijakan ini jawab keluhan riil di lapangan. Pasien kronis sering abaikan pengobatan jika tak ada jaminan biaya.Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Jawa Barat, Noneng Komara Nengsih, beri data terkini. Sebanyak 1,9 juta peserta BPJS segmen PBI Kemensos dinonaktifkan. Ini hasil evaluasi berkala dari pemerintah pusat lewat Kemensos. Pemeriksaan lapangan atau ground check temukan ketidaksesuaian. Banyak penerima dari kelompok desil 6 ke atas. Desil ini ukur kemiskinan berdasarkan pendapatan rumah tangga. Mereka dianggap tak layak lagi terima bantuan.
Tapi, verifikasi juga ungkap warga baru yang pantas. Sekitar 2,1 juta warga Jawa Barat sedang diproses aktifkan keanggotaan PBI. Jumlah baru ini lebih besar dari yang dicoret. Dari 2025 hingga 2026, penerima PBI naik sekitar 145 ribu orang. Perubahan ini tunjukkan penyesuaian data bawa dampak positif bersih. Pemprov Jabar adaptasi cepat dengan tanggung iuran untuk kelompok rentan. Langkah ini lindungi pasien kronis dari celah program nasial. Warga miskin kini punya jaring pengaman ganda untuk kesehatan.
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Tag :
Artikel Terkait
Share:

Thursday, 13 November 2025

Kenali Makanan dan Minuman Pemicu Asam Urat dan Strategi Pencegahannya

Kenali Makanan dan Minuman Pemicu Asam Urat dan Strategi Pencegahannya

Indonesia, Penyakit asam urat, yang dikenal juga sebagai gout, sering kali muncul karena kebiasaan hidup di zaman sekarang. Kondisi ini menyerang sendi dengan peradangan hebat. Nyeri yang timbul sangat tajam, disertai pembengkakan parah. Biasanya, serangan ini menargetkan jempol kaki. Tapi, bisa juga melanda lutut, pergelangan tangan, atau siku. Orang yang mengalaminya merasa sulit bergerak. Bahkan, tugas sederhana seperti berjalan pun jadi tantangan besar.

Penyebab utama gout adalah penumpukan asam urat berlebih di dalam tubuh. Asam urat terbentuk dari pemecahan purin, zat alami dalam makanan. Saat kadarnya naik, kristal asam urat menumpuk di sendi. Ini memicu radang dan nyeri. Gejala gout datang dalam serangan mendadak, disebut flare. Serangan ini bisa berlangsung berulang kali. Setiap episode membuat penderita lemas dan terganggu. Tanpa penanganan cepat, aktivitas harian seperti bekerja atau olahraga jadi terganggu. Banyak orang merasa frustasi karena serangan ini muncul tiba-tiba, terutama malam hari. Penting untuk mengenali tanda awal seperti kemerahan dan panas di sendi.

Advertising

Baca Juga:

Sempurna untuk Borneo FC di BRI Super League 2025/26

Spesialis penyakit dalam, dr. Rudy Kurniawan, SpPD, sering menangani kasus seperti ini. Ia bilang pola makan dan gaya hidup modern jadi pemicu besar. Konsumsi makanan kaya purin dan gula membuat kadar asam urat melonjak. "Anak muda kini banyak makan tinggi gula dan purin," kata dr. Rudy. "Mereka jarang bergerak, jadi risiko naik." Menurutnya, perubahan sederhana dalam kebiasaan bisa cegah penyakit ini. Ia sarankan kurangi makanan penyebab, tambah aktivitas fisik. Langkah ini turunkan risiko secara signifikan.

Jenis Makanan dan Minuman yang Harus Dihindari

Beberapa makanan dan minuman berisiko tinggi karena kandungan purin dan fruktosa. Purin berubah jadi asam urat di tubuh. Fruktosa, gula alami dari buah tapi berlebih dari minuman, juga tingkatkan produksi asam urat. Hindari ini untuk jaga keseimbangan.

Makanan Tinggi Purin:

Jeroan hewan seperti hati sapi, ginjal ayam, dan ampela bebek. Makanan ini kaya protein, tapi purinnya tinggi. Contohnya, semangkuk gulai hati bisa tambah kadar asam urat cepat.

Seafood seperti kerang kerang, udang galah, dan ikan sarden kaleng. Kerang mengandung purin dua kali lipat dari daging biasa. Udang sering dimasak goreng, yang bikin efeknya lebih buruk.

Daging merah seperti daging sapi atau domba. Potongannya yang berlemak paling berbahaya. Kulit ayam juga masuk daftar, karena purin terkonsentrasi di sana.

Minuman Tinggi Gula atau Fruktosa:

Bubble tea dengan tambahan sirup manis. Satu gelas bisa punya gula setara enam sendok makan. Minuman soda seperti cola atau soda rasa buah. Kandungan fruktosanya picu lonjakan asam urat dalam hitungan jam. Teh manis botolan atau minuman kemasan lain. Gula tambahannya capai 20 gram per porsi. Ini bikin ginjal kerja keras keluarkan asam urat.

Konsumsi berlebih dari daftar ini percepat akumulasi asam urat di darah. Orang dengan riwayat keluarga gout atau genetik sensitif lebih rentan. Serangan bisa datang lebih sering. Misalnya, seseorang makan seafood berat setiap akhir pekan mungkin alami flare minggu depan.

Dr. Rudy tekankan kesadaran soal ini. "Hindari pola makan tinggi purin dan gula sebagai langkah pertama," katanya. Gaya hidup modern dorong konsumsi cepat ini. Tapi, pilihan pintar bisa ubah segalanya.

Strategi Pencegahan Asam Urat Secara Alami

Pola makan saja tak cukup. Perubahan gaya hidup harus konsisten untuk cegah gout. Berikut langkah praktis yang bisa diikuti. Hidrasi yang Baik: Minum air putih minimal 2-3 liter setiap hari. Air bantu ginjal buang asam urat lewat urine. Dehidrasi bikin kristal asam urat lebih mudah menumpuk. Contoh, bawa botol air ke kantor dan minum setiap jam. Diet Seimbang: Kurangi makanan tinggi purin dan minuman manis. Ganti dengan sayur hijau seperti bayam atau brokoli. Buah ceri atau lemon bisa turunkan kadar asam urat alami. Pilih karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau oatmeal. Ini jaga energi tanpa tambah gula berlebih. Gaya Hidup Sehat: Tinggalkan junk food seperti keripik atau burger. Hindari daging berlemak. Ambil protein dari ikan salmon rendah purin, tahu goreng, tempe bacem, atau kacang almond. Porsi kecil tapi sering bantu kendalikan berat badan.

Advertising

Baca Juga:

KPK telah menyerahkan kasus suap terkait proyek jalan di Sumatera Utara

Aktivitas Fisik: Lakukan olahraga 30 menit sehari. Jalan kaki cepat, berenang, atau yoga ringan cocok untuk pemula. Ini bakar kalori, jaga berat ideal, dan tingkatkan metabolisme. Tubuh aktif kurangi produksi asam urat. Hindari olahraga berat saat flare, tapi rutin cegahnya efektif. Kesehatan Umum: Jaga berat badan stabil hindari tekanan pada sendi. Kondisi tubuh baik kurangi peradangan keseluruhan. Ini juga lindungi dari penyakit lain seperti diabetes.

Konsultasi Medis: Periksa kadar asam urat rutin setiap enam bulan. Bicara dengan dokter soal gejala. Jika perlu, obat seperti allopurinol bisa diresepkan. Ini cegah komplikasi seperti kerusakan sendi permanen. Lakukan perubahan ini terus-menerus. Hasilnya tak hanya turunkan risiko gout. Tubuh dapat manfaat luas, seperti jantung lebih kuat, peradangan berkurang, dan energi harian naik. Orang yang terapkan ini sering rasakan sendi lebih lentur dan tidur lebih nyenyak.

Kesadaran dan Edukasi Kunci Pencegahan

Orang perlu tahu lebih banyak soal risiko asam urat. Edukasi bantu pahami cara hindarinya. Belajar makanan pemicu dan keuntungan hidup sehat bisa tekan angka penderita. Di Indonesia, gout makin umum di kalangan usia 30-50 tahun, terutama pekerja kantor. Keluarga bisa dukung dengan masak menu rendah purin, seperti sup sayur tanpa daging merah. Di tempat kerja, sediakan air infus buah alih-alih soda. Dorong rekan ikut jalan pagi bersama. Langkah kecil ini bangun kebiasaan baik.

Dr. Rudy ingatkan pencegahan lebih mudah daripada obati gejala. "Kenali dini dan tetap konsisten di pola makan serta gaya hidup," ujarnya. Serangan gout bisa hindari dengan kesadaran ini. Ambil langkah sederhana sekarang. Minum air cukup, pilih makanan bergizi, olahraga rutin, dan cek kesehatan. Risiko flare gout menurun drastis. Tubuh tetap kuat, sendi aman, dan hidup lebih berkualitas.

Reaksi :
Share:

Friday, 13 March 2026

Kesehatan : Kementerian Kesehatan Mempercepat Penghapusan Kusta melalui Deteksi Dini


Indonesia, Perssilam -  Kementerian Kesehatan teguh berkomitmen untuk mempercepat hilangnya kusta di Indonesia. Mereka fokus pada deteksi dini kasus baru. Pengobatan harus dilakukan sampai selesai. Pencegahan diberikan ke kontak erat pasien. Langkah ini bisa tekan penularan kusta. Akses layanan kesehatan juga melebar ke daerah rawan seperti Papua dan Maluku. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bicara tegas soal kusta. Penyakit ini menular. Sudah ada sejak ribuan tahun. Banyak orang hubungkan dengan stigma sosial. Ada diskriminasi berat di masyarakat. Padahal ilmu pengetahui jelas. Kusta disebabkan bakteri Mycobacterium leprae. Obatnya tersedia dan bisa sembuhkan pasien. "Kusta ini sering diasosiasikan dengan negara miskin," kata Budi Gunadi Sadikin. "Sejak ribuan tahun lalu, penyakit ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Muncul berbagai stigma. Padahal sekarang kita sudah tahu penyebabnya adalah bakteri. Obatnya sudah tersedia." 
Advertising

BACA JUGA:
Nasional : Kapolri memberikan instruksi kepada jajarannya untuk mengantisipasi potensi bencana selama periode
Ia sampaikan ini di Puncak Peringatan Hari Kusta Sedunia. Acara digelar di Jakarta. Tepatnya Rabu, 11 Maret 2026.  Budi tekankan pengendalian kusta dimulai dari cari kasus sebanyak mungkin. Pasien harus cepat dapat obat. Ini putus rantai penularan. Lindungi masyarakat dari bahaya penyebaran. "Jangan takut jika kasus yang ditemukan banyak," ujarnya. "Itu justru tunjukkan sistem deteksi kita bekerja baik. Temukan sebanyak-banyaknya agar bisa segera diobati. Obatnya ada. Pengobatannya bisa selesai."
Pengobatan kusta sederhana. Cukup rutin minum obat selama enam bulan. Pasien harus taat sampai habis. Kementerian Kesehatan kuatkan skrining lewat Cek Kesehatan Gratis. Program ini cari kasus dini di masyarakat. Petugas posyandu atau puskesmas lakukan pemeriksaan kulit sederhana. Bisa deteksi gejala awal seperti bercak numbuh tak sakit. Strategi Kemenkes jelas. Pertama, temukan kasus sebanyak mungkin. Kedua, obati sampai tuntas dengan obat multi-drug therapy gratis. Ketiga, beri pencegahan ke kontak erat. Seperti keluarga atau tetangga dekat. Mereka minum obat pencegah selama tiga bulan. Hasilnya, penularan berhenti. Eliminasi kusta di Indonesia jadi lebih cepat.
Advertising

BACA JUGA:
Ekonomi : KCI Sebut Lebih dari 18 Juta Kartu Multi Trip Beredar
Di Indonesia Timur, Budi dorong pemeriksaan ekstra. Cek kemungkinan bakteri tahan obat. Pakai tes genetik. Pasien langsung dapat terapi tepat. Wilayah ini endemis tinggi. Prevalensi kusta masih di atas satu per sepuluh ribu jiwa. Langkah ini cegah kegagalan pengobatan. PLT Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Andi Saguni, sebut Hari Kusta Sedunia sebagai momen besar. Ini kuatkan komitmen nasional. Hapus stigma di masyarakat. Percepat eliminasi kusta. "Peringatan ini momentum global," kata dr. Andi. "Untuk tingkatkan kesadaran. Kuatkan komitmen pemerintah dan semua pihak. Hapus stigma dan diskriminasi pada penderita kusta."BACA JUGA:Nasional : Menteri Dalam Negeri mendorong pemerintah daerah untuk mengawasi penerapan aturan yang melarang anak-anak bermain media sosial
Tahun ini, acara penuh kegiatan. Ada skrining mandiri di keluarga. Warga periksa kulit sendiri atau saudara. Cari tanda bercak putih atau mati rasa. Lomba tulis untuk jurnalis. Dorong liputan lebih dalam soal kusta. Puncaknya kampanye edukasi massal. Beri penghargaan ke puskesmas atau rumah sakit rajin temukan kasus baru. Semua ini bangun sistem deteksi kuat. Bantu capai target nol kusta di 2030.EditorRedaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Tag :
Reaksi :
Artikel Terkait
Share:

Wednesday, 25 February 2026

Kesehatan : Apakah Puasa Tidur Terus Sehat atau Tidak


Indonesia, Perssilam - Saat berpuasa, rasa lapar sering datang tiba-tiba. Ini bikin kita malas bergerak atau justru tidur lebih lama. Padahal, tidur berlebih bisa rusak kesehatan kita. Healthline bilang, tidur panjang itu cuma cara cepat bayar utang tidur. Utang tidur muncul saat kita kurang istirahat di hari biasa. Bayangkan, sepanjang minggu Anda begadang untuk belajar ujian akhir. Akhir pekan, tubuh balas dendam dengan tidur 10 jam atau lebih dalam sehari. Tubuh butuh pulih, tapi ini hanya sementara.
Kalau tidur berlebih jadi kebiasaan, itu tanda hipersomnia. Hipersomnia berarti kantuk hebat di siang hari. Atau tidur total melebihi 18 jam seminggu. Orang dengan kondisi ini sulit bangun walau sudah lama tidur. Ini beda dengan lelah biasa saat puasa Ramadhan. Dampak tidur berlebih tergantung durasi dan sebabnya. Kalau cuma jangka pendek karena kurang tidur, bisa timbul cemas ringan. 
Otak jadi bingung, badan lemas seharian. Misal, setelah sahur kurang jam tidur, lalu tidur siang 5 jam. Tubuh capek, tapi besok pulih. Tapi kalau kronis, risikonya besar. Tidur rutin lebih dari 9-10 jam tiap hari bisa picu obesitas. Metabolisme melambat, kalori susah terbakar. Stroke juga naik karena pola hidup kacau. Diabetes tipe 2 pun mengintai akibat hormon tidur yang terganggu. Studi tunjukkan orang oversleeper dua kali lipat rentan diabetes.
Dokter diagnosis oversleeping lewat pemeriksaan lengkap. Mereka tanya detail kebiasaan tidur harian. Catat jam tidur malam dan siang. Periksa pola makan, seperti makan malam berat. Cek juga penyakit lama, misal tiroid atau depresi. Kadang pakai alat pantau tidur semalaman. Pengobatan ikut penyebab utama. Kalau karena penyakit seperti sleep apnea, obati dulu itu. BACA JUGA:Budaya : Sekilas Sejarah Puasa di Jawa sebelum Ajaran Islam Masuk
Pasien pakai alat bantu napas malam. Hasilnya, tidur jadi normal dan nyenyak. Kalau depresi picu, terapi obat atau konseling bantu atasi. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika beri tips sederhana. Jaga jadwal tidur tetap setiap hari, termasuk akhir pekan. Olahraga ringan 30 menit di siang hari bikin tubuh capek alami. Hindari gadget satu jam sebelum tidur, cahaya biru ganggu hormon melatonin. Jauhi kafein sore hari, alkohol malam, dan makanan pedas. Ikuti ini, tidur puasa jadi lebih berkualitas. Badan segar saat buka.EditorRedaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Tag :
Reaksi :
Artikel Terkait
Share:
Nasional
Loading 6 berita Nasional...
RECOMMENDED
Loading 9 berita nasional...
Liga Inggris
Loading 6 berita Liga Inggris HD...
Anda Mungkin Juga Suka
You Might Like

🛒 Shopee Hari Ini

MOST VIEWED BRI SUPER LEAGUE

X
×

Other Latest

Loading...

Daftar Isi

    📧 Dapatkan Berita Terbaru Langsung ke Email!

    Premier League

    Close Ads
    Close Ads

    Serie A

    Archive

    🔥 Flash Sale Shopee Hari Ini

    Dapatkan voucher & gratis ongkir


    Total Pageviews

     

    ×