Selamat Datang dan Bergabung Bersama Perssilam Silampari News teknologi app iconDownload App Perssilam Silampari News: Search results for emisi karbon
×
    Advertising
    ☰ Menu
W3.CSS
Dark Mode

Pages

Memuat berita...
Showing posts sorted by relevance for query emisi karbon. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query emisi karbon. Sort by date Show all posts

Thursday, 4 June 2026

Kementerian Perindustrian Mengembangkan Teknologi SPPOT untuk Mengurangi Emisi dari Sawit


Indonesia, Perssilam - Industri kelapa sawit Indonesia sedang mengarah pada perubahan besar dalam cara mengolah buah sawit. Fokus utamanya adalah menghilangkan uap air dan limbah cair dalam proses produksi. Teknologi baru ini disebut Steamless POME-less Palm Oil Technology atau SPPOT. Intinya, SPPOT adalah proses kering yang tidak menghasilkan limbah cair. Hal ini sangat penting untuk menurunkan emisi karbon di sektor hulu sawit. Kabar ini muncul dalam laporan Investor Daily. Sistem proses kering untuk Tandan Buah Segar (TBS) ini sangat cocok bagi petani sawit rakyat. Pemerintah sedang serius mengembangkan teknologi ini karena ukurannya kecil. Kapasitas produksinya modular, mulai dari 5 sampai 10 ton per jam. Ukuran kecil ini memudahkan pemasangan di lahan yang luas.
Advertising

BACA JUGA:
Ederson mengungkapkan pesan yang misterius setelah terjadinya kesepakatan antara Atalanta dan Manchester United
Posma Sinurat dari P3PI menjelaskan bahwa ide inovasi ini sudah ada sejak tiga atau empat tahun lalu. Para pemilik kebun rakyat sudah lama menunggu alat ini. Kebun rakyat biasanya tersebar di banyak titik dan tidak terpusat. Posma mengatakan hal ini saat konferensi pers 4th TPOMI 2026 di Jakarta pada Selasa, 2 Juni 2026. Menurutnya, teknologi kering ini solusi tepat bagi masyarakat dengan lokasi kebun yang terpencar. Jika melihat cara lama, pabrik sawit memakai teknologi basah. Proses ini menghasilkan limbah cair yang disebut Palm Oil Mill Effluent atau POME. POME harus ditampung di kolam besar dan melepaskan gas rumah kaca. SPPOT bekerja berbeda karena tidak membuat POME sama sekali. 
Hasilnya, emisi karbon berkurang drastis. Posma menyebut sekitar 75 persen emisi berasal dari kolam limbah tersebut. Tanpa kolam, polusi udara jadi jauh lebih rendah. Banyak pengusaha sawit sudah mulai bertanya tentang cara memakai sistem ini. Namun, SPPOT masih dalam tahap riset laboratorium dan persiapan uji coba. Posma menyarankan para pelaku usaha untuk bersabar. Mereka perlu menunggu aturan resmi dari pemerintah dan kesiapan teknis alat tersebut agar tidak salah langkah. Gapki juga memberikan perhatian pada rencana ini. Mereka mengingatkan bahwa biaya teknologi ini cukup mahal. Gapki menekankan pentingnya membenahi pasokan bahan baku sebelum alat ini dipakai massal. 
Advertising

BACA JUGA: 
Rupiah mengalami pelemahan hingga mencapai level Rp 17.967 per Dolar AS
Ketua Bidang Perkebunan Gapki, R Azis Hidayat, khawatir biaya besar terbuang jika buah sawit yang masuk ke pabrik tidak cukup. Untuk mencegah masalah itu, Gapki memberi tiga saran. Pertama, pemerintah harus membuat Peta Jalan PKS Nasional. Tujuannya agar jumlah pabrik tidak terlalu banyak dan tidak saling berebut buah. Jarak antara kebun petani dan pabrik juga harus dijaga maksimal 50 kilometer agar biaya angkut murah. Kedua, program Peremajaan Sawit Rakyat atau PSR harus dipercepat. Saat ini, realisasi PSR baru mencapai sepertujuh dari target awal. Gapki juga membentuk konsorsium untuk membawa bibit unggul dan serangga penyerbuk dari Afrika guna meningkatkan hasil panen. Ketiga, masalah hukum lahan sawit di kawasan hutan harus segera selesai. Aturan kemitraan bahan baku juga perlu diperkuat. Hal ini mendesak karena sertifikasi ISPO akan jadi syarat wajib bagi produk hilir pada tahun 2027.
Kementerian Perindustrian kini sedang mematangkan pengembangan SPPOT. Detail teknologi ini akan dibahas dalam acara Technology and Talent Palm Oil Mill Indonesia atau TPOMI 2026 di Medan pada 8 sampai 10 Juli 2026. Posma Sinurat selaku ketua panitia menyebut perpindahan dari proses basah ke kering adalah kunci dekarbonisasi. Langkah ini juga akan membantu menciptakan produk sawit dengan nilai jual lebih tinggi.
Advertising

BACA JUGA: 
Korlantas Polri Mengembangkan ETLE dengan Teknologi Pengenalan Wajah yang Terintegrasi dengan Dukcapil
Selain soal proses kering, TPOMI 2026 akan membahas peran kecerdasan buatan atau AI dan Internet of Things atau IoT. IoT dipakai untuk memantau suhu dan kondisi mesin secara langsung. AI digunakan untuk menebak kapan mesin rusak dan mencegah minyak terbuang sia-sia saat proses produksi. Pembaruan teknologi ini harus dibarengi dengan peningkatan skill pekerja pabrik. Sebagai bentuk penghargaan, TPOMI 2026 akan memberikan Medbun Award. Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan yang paling produktif dan menjaga kelestarian lingkungan.
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait
Share:

Friday, 10 April 2026

Otomotif : Kendaraan Ramah Lingkungan Dengan Hidrogen dan Revolusi


Indonesia,Perssilam - Bayangkan jalan raya sibuk setiap hari. Kendaraan lalu-lalang tanpa bau knalpot yang menyengat. Yang muncul hanya uap air tipis dari ekor kendaraan. Dulu, pemandangan ini seperti cerita fiksi ilmiah. Kini, riset energi bersih di banyak negara ubah itu jadi nyata. Para ilmuwan dan perusahaan dorong transisi ke transportasi ramah lingkungan. Adam Febriyanto Nugraha, ahli Teknik Energi Terbarukan dengan gelar S.T. dan Ph.D., bahas topik ini di Siniar HOHOHIHI On The Weekend. Ia tekankan masa depan otomotif tak hanya andalkan baterai listrik. Teknologi fuel cell berbahan hidrogen tumbuh cepat. Fuel cell ini ubah hidrogen jadi tenaga langsung.
Prinsip kerjanya sederhana tapi canggih. Bukan bakar bahan bakar seperti mobil biasa yang pakai bensin atau solar. Di fuel cell, hidrogen bereaksi dengan oksigen dari udara lewat proses elektrokimia. "Di sana, ion hidrogen bertemu oksigen," kata Adam. Reaksi itu hasilkan listrik. Listrik ini gerakkan motor roda mobil. Sisa buangannya cuma air, H2O.
Tak ada pembakaran, jadi nol karbon dioksida. Uap air panas keluar, mirip asap dari rice cooker. Itu sebabnya disebut zero tailpipe emission. Emisi nol di knalpot pengguna. Emisi mungkin ada saat produksi hidrogen, tapi di titik akhir pengguna, bersih total.
Beberapa pabrik mobil sudah jual model ini. Toyota luncurkan Mirai sejak 2014. Mobil itu isi hidrogen penuh dalam 5 menit. Jarak tempuh capai 650 kilometer sekali isi. Hyundai tawarkan Nexo. Model ini kuat di segala cuaca. Jaraknya sekitar 666 kilometer. Kedua mobil pakai fuel cell Proton Exchange Membrane, atau PEMFC, yang efisien di suhu ruang. Jepang pimpin pengembangan. Mereka bangun lebih dari 160 stasiun hidrogen pada 2023. 
Advertising

BACA JUGA:
Badminton : Sepuluh Perwakilan Indonesia Mengamankan Tiket ke 16 Besar BAC 2026
Rencana tambah ratusan lagi hingga 2030. Pemerintah dukung subsidi. Ini ciptakan jaringan luas di kota besar seperti Tokyo dan Osaka. Pengemudi isi ulang mudah, seperti bensin biasa. Di Indonesia, hidrogen fokus ke penggunaan tetap dulu. Contoh, pembangkit listrik mandiri untuk pabrik atau rumah sakit. PLN dan Pertamina uji coba ini. Untuk mobil pribadi, infrastruktur jadi hambatan besar. Belum ada stasiun pengisian standar. Biaya bangun mahal. Standarisasi tekanan hidrogen, biasanya 700 bar, butuh investasi besar. Tanpa itu, adopsi lambat.
Mengapa hidrogen unggul lawan mobil listrik baterai? Isi ulang cepat banget. Baterai butuh 30 menit hingga 8 jam di charger rumah. Hidrogen hanya 3-5 menit. Setara isi bensin di pompa. Bobot mobil lebih ringan. Baterai lithium-ion berat, capai 500 kg. Tangki hidrogen ringan, sekitar 100 kg untuk jarak sama.
Advertising

BACA JUGA:
Otomotif : Toyota Memperlihatkan Konversi Hilux Rangga dari Kotak Pendingin Hingga Mobil MBG
Jarak tempuh juga kompetitif. Mirai bisa 650 km. Tesla Model S Long Range sekitar 652 km. Tapi hidrogen tak khawatir cuaca dingin. Baterai lemah di musim dingin. Hidrogen stabil. Kapasitas bagasi lebih besar tanpa tumpuk baterai di lantai. Riset global lihat hidrogen sebagai teman, bukan musuh baterai. Investasi capai miliaran dolar. 
Uni Eropa target 40.000 km jaringan hidrogen pada 2030. AS dan Korea Selatan ikut. Di transportasi, keduanya tekan emisi karbon. Truk besar dan bus cocok hidrogen karena jarak jauh. Masa depan transportasi bersih sudah dekat. Teknologi siap. Tinggal bangun stasiun isi ulang. Butuh komitmen pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Indonesia bisa ikut jika atasi infrastruktur sekarang. Jalan ramai tanpa polusi bukan mimpi lagi.
EditorRedaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait
Share:

Tuesday, 26 May 2026

Ilmuwan Memperkenalkan Baterai Magnesium Karbon Dioksida Sebagai Penyimpan Energi Bersih


Indonesia, Perssilam - Tim peneliti gabungan baru saja memperkenalkan baterai magnesium-karbon dioksida atau Mg-CO2 yang bisa diisi ulang. Laporan dari Media Indonesia menyebutkan bahwa riset ini melibatkan pakar dari Universitas Peking, Universitas Nankai, Harbin Institute of Technology, dan City University of Hong Kong. Teknologi ini tidak hanya menyimpan daya listrik. Sistem ini juga mengambil gas karbon dioksida dari udara untuk dijadikan bahan aktif pembangkit daya.
Cara kerjanya berbeda dengan baterai lithium-ion yang umum dipakai ponsel atau laptop. Pada saat baterai mengeluarkan listrik atau discharge, magnesium pada bagian anoda mengalami oksidasi. Elektron yang lepas kemudian bergerak menuju katoda. Di sana, elektron bereaksi dengan CO2. Reaksi kimia ini mengubah gas menjadi senyawa padat seperti magnesium karbonat atau oksalat. Artinya, baterai ini mengunci karbon dalam bentuk stabil saat sedang memberi daya.
Para peneliti memilih magnesium karena jumlahnya sangat banyak di kerak Bumi. Magnesium jauh lebih mudah ditemukan dibanding lithium yang jumlahnya terbatas dan mahal. Hal ini bisa membuat biaya produksi baterai jadi lebih murah. Selain itu, magnesium punya kapasitas teoritis yang tinggi. Satu atom magnesium bisa melepas dua elektron. Ini lebih banyak dibanding satu atom lithium yang hanya melepas satu elektron. Baterai ini juga lebih aman. Magnesium tidak mudah membentuk dendrit, yaitu kristal tajam yang sering menyebabkan baterai lithium terbakar atau meledak.
Advertising

BACA JUGA: 
Luis de la Fuente memilih 8 pemain dari Barcelona untuk memperkuat tim nasional Spanyol
Namun, ada kendala teknis yang harus diselesaikan. Senyawa magnesium karbonat yang terbentuk sangat sulit diurai saat baterai diisi ulang atau charging. Jika tidak bisa terurai, baterai tidak bisa dipakai kembali. Para ilmuwan mengatasi masalah ini dengan mengubah struktur katoda. Mereka membuat cacat mikro pada katoda dan mengganti campuran elektrolitnya. Perubahan ini mengarahkan reaksi kimia agar membentuk oksalat. Oksalat jauh lebih mudah terurai sehingga proses pengisian daya menjadi lancar.
Inovasi ini sangat cocok untuk penyimpanan energi skala besar. Contohnya adalah pembangkit listrik tenaga surya atau kincir angin. Listrik dari alam seringkali tidak stabil karena tergantung cuaca. Baterai Mg-CO2 bisa menyimpan kelebihan listrik tersebut. Sambil menyimpan energi, baterai ini juga membantu mengurangi polusi karbon di udara. Ini menjadi jalan baru untuk membersihkan industri dari emisi gas rumah kaca.
Advertising

BACA JUGA: 
RM Padang Non-Minang Dianggap Meningkatkan Popularitas Kuliner Minangkabau
Saat ini, tim peneliti masih fokus meningkatkan siklus hidup baterai. Mereka ingin baterai bisa diisi ulang ribuan kali tanpa rusak. Jika sudah stabil, teknologi ini akan masuk ke pasar komersial. Target utamanya adalah sistem penyimpanan energi stasioner untuk gedung atau kota di masa depan.
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait
Share:

Thursday, 11 December 2025

Musim 2025 telah selesai, F1 2026 akan menerapkan regulasi baru


Indonesia, Setelah musim 2025 berakhir, Formula 1 musim 2026 akan dimulai dengan aturan baru. Dewan Fédération Internationale de l’Automobile (FIA) sudah memutuskan hal ini. Mereka juga rilis dokumen resmi soal aturan teknis anyar.

Aturan baru ini ubah beberapa bagian mobil F1 2026. Ini termasuk ukuran keseluruhan mobil, desain aerodinamika, dan jenis bahan bakar. FIA bilang tujuannya sederhana: bikin mobil lebih ringan, lebih cepat, tapi tetap penuh teknologi canggih.

Konsep utamanya adalah "nimble car". Artinya mobil yang lincah, mudah dikendalikan, dan kompetitif di lintasan. Ini bantu pembalap bertarung lebih seru. Sebagai contoh, bobot mobil turun 30 kilogram. Berat minimum jadi 768 kilogram, dari 798 kilogram di 2025. Perubahan ini bikin mobil lebih gesit saat belok atau akselerasi.

Advertising

Panjang mobil dipangkas 10 sentimeter. Jarak sumbu roda menyusut 20 sentimeter. Ukuran baru ini bantu mobil bergerak dinamis. Pembalap bisa lebih mudah salip lawan di tikungan ketat. Bayangin duel sengit di Monza atau Silverstone; mobil pendek ini akan tambah aksi overtaking.

Sistem Drag Reduction System (DRS) hilang. DRS dulu buka sayap belakang untuk kurangi hambatan udara di lurusan. Sekarang ganti dengan aerodinamika aktif. Pembalap bisa atur sayap depan dan belakang sendiri. Di lintasan lurus, aktifkan 'X-Mode' untuk kecepatan maksimal. Di tikungan, pindah ke 'Z-Mode' agar stabil dan nempel aspal.

Advertising

Bahan bakar juga berubah total. F1 2026 pakai 100 persen bahan bakar ramah lingkungan. Sumbernya dari limbah biomassa, seperti sisa tanaman atau kayu. Bisa juga dari karbon di udara. Ini bukan bahan bakar fosil lagi. Perubahan ini selaras dengan janji F1 capai "Net-Zero by 2030". Artinya nol emisi karbon bersih pada 2030.

Dengan begitu, F1 tetap relevan di dunia otomotif sekarang. Banyak pabrik mobil beralih ke listrik dan hijau. Aturan 2026 jaga daya tarik balap ini. Penggemar bisa lihat balapan cepat, lincah, dan bertanggung jawab lingkungan. FIA yakin ini tarik pembalap muda dan tim baru masuk. Mobil ringan ini juga kurangi ban kempes cepat, hemat biaya tim. Semua ini bikin musim 2026 lebih seru ditonton.

Reaksi :

Share:

Saturday, 7 March 2026

Otomotif : Paling efisien dalam penggunaan BBM dan memberikan kenyamanan bagi keluarga serta bersahabat dengan lingkungan, inilah daftar SUV 2026


Indonesia, Perssilam - SUV sudah lama dikenal tangguh. Kapasitasnya besar. Nyaman untuk segala keperluan. Tapi, banyak orang anggap SUV boros bahan bakar. Bandingkan saja dengan mobil kecil. Itu stigma lama yang melekat. Tahun 2026 ubah semuanya. Teknologi mesin maju pesat. Sistem hybrid gabungkan mesin bensin dan motor listrik. Kecerdasan buatan kelola energi pintar. Hasilnya, SUV saingi efisiensi mobil kompak. Dulu, SUV andalkan mesin besar untuk tenaga. Sekarang, produsen campur tenaga dan hemat. Hybrid berarti dua sumber daya. Elektrifikasi parsial tambah listrik tanpa ganti total. Perangkat lunak atur pergantian mesin dan listrik halus. Konsumsi BBM turun drastis. Beberapa model capai 20-23 km per liter. Angka itu dulu milik mobil kecil saja.
Advertising

BACA JUGA:
Timnas : Pengundian grup Piala AFF U-17 2026 telah dilaksanakan pada hari Jumat (6/3/2026)
Ambil contoh Toyota Innova Zenix Hybrid. Ini ikon SUV keluarga paling irit di 2026. Duduk tujuh orang nyaman. Di Indonesia, Innova selalu favorit keluarga. Update software hybrid buat transisi mesin bensin ke listrik tak terasa. Pengemudi tak sadar pergantiannya. Konsumsi BBM stabil 21-23 km per liter. Cocok untuk keluarga butuh mobil besar tapi kantong aman. Kabin luas beri ruang lega. Fitur keselamatan lengkap seperti rem darurat otomatis. Infotainment canggih dukung Apple CarPlay dan Android Auto. Suara jernih dari speaker premium. Innova Zenix buktikan hemat tak kurangi kenyamanan. Performa tetap kuat untuk tanjakan atau jalan rusak.
Toyota tak berhenti di situ. Corolla Cross 2026 hadir sebagai SUV kompak unggulan. Teknologi hybrid generasi baru lebih irit dari model lama. Desainnya elegan, garis bodi aerodinamis kurangi hambatan udara. Kamera 360 derajat bantu parkir mudah di kota padat. Sistem keselamatan aktif seperti pengenali pejalan kaki aktif. Cocok untuk pengendara kota. Butuh irit, praktis, dan bergaya. Efisiensi tinggi buat Corolla Cross jadi SUV paling dinanti 2026. Bayangin, isi bensin lebih jarang. Tabung uang untuk keperluan lain. Honda BR-V tetap laris di kelas SUV menengah. Versi 2026 tingkatkan pembakaran mesin. Efisiensi naik berkat injeksi bahan bakar presisi. Honda Sensing tambah lapisan aman. Fitur ini pantau jalan depan. Rem otomatis kalau deteksi tabrakan. Pengemudi dan penumpang terlindungi maksimal. BR-V hemat BBM di lalu lintas macet Jakarta atau perjalanan ke Bandung. Populer karena harga terjangkau tapi fitur kaya. Lainnya ikut ramai. Hyundai Creta Hybrid pakai elektrifikasi parsial. Nissan X-Trail terbaru sama. Teknologi ini tekan BBM tanpa potong tenaga. Motor listrik bantu saat akselerasi. Mesin bensin istirahat di kecepatan rendah. Hasilnya, irit tapi responsif.
Kunci utama SUV 2026 adalah AI di manajemen energi. AI prediksi pola nyetir. Misal, tahu sering stop-go di kemacetan. Aktifkan listrik lebih lama. Sesuaikan mesin bensin untuk jalan tol panjang. Di lalu lintas padat, hemat hingga 15% lebih baik. Perjalanan jauh capai 22 km/liter rata-rata. Pengemudi tak perlu mikir. Sistem otomatis optimalkan. Pasar otomotif Indonesia panas. SUV hemat BBM datang pas waktunya. Konsumen tak takut boros lagi. Mereka pilih SUV tangguh dan nyaman. Kantong tetap aman. Hybrid dan elektrifikasi parsial jawab kebutuhan. BACA JUGA:La Liga : Franco Mastantuono menghadapi kemungkinan hukuman tambahan di Liga Spanyol
Mobil besar kini efisien untuk harian atau liburan. Konsumen pikir lingkungan juga. SUV irit kurangi emisi karbon. Emisi turun 30% dibanding model lama. Tren global ke kendaraan hijau selaras. Di Indonesia, pemerintah dorong ini lewat insentif pajak. Tahun 2026 era baru SUV. Mobil besar tak boros lagi. Toyota Innova Zenix Hybrid pimpin barisan. Corolla Cross ikut unjuk gigi. Honda BR-V tegar di tengah. SUV hybrid dan AI satukan hemat, kenyamanan, performa. Pilih yang pas untuk gaya hidupmu. Bensin murah, jalan lancar.EditorRedaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Tag :
Reaksi :
Artikel Terkait
Share:

Wednesday, 15 April 2026

Bisnis : Komisi XII DPR RI Mendorong Pengembangan Industri Baterai EV yang Berkelanjutan


Indonesia, Perssilam - Anggota Komisi XII DPR RI, Yulisman, tekankan dorongan kuat untuk industri baterai kendaraan listrik atau EV. Ia lihat pengembangan sektor ini harus sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Tujuannya perkuat transisi energi bersih di tingkat nasional. Transisi ini artinya ganti bahan bakar fosil dengan sumber energi ramah lingkungan seperti listrik dari baterai. Yulisman bilang kemajuan produksi baterai jadi langkah nyata. Langkah itu kurangi ketergantungan pada bensin dan solar. Bahan bakar fosil ini sebabkan polusi udara dan pemanasan global. Semua pihak harus beri dukungan penuh. Dukungan itu pastikan proyek energi hijau nasional jalan mulus tanpa hambatan.
Pada Rabu, 15 April 2026, Yulisman kunjungi beberapa perusahaan produsen baterai EV di Karawang. Karawang jadi pusat industri besar di Jawa Barat. Kunjungan ini beri kabar gembira bagi rakyat Indonesia. Pengembangan EV sebagai bagian energi hijau terus maju. Kita semua harus dukung bareng. "Hari ini kami lakukan kunjungan kerja ke sejumlah perusahaan produsen baterai kendaraan listrik. Ini kabar baik bagi masyarakat Indonesia, bahwa pengembangan kendaraan listrik sebagai bagian dari green energy terus berjalan dan harus kita dukung bersama," kata Yulisman di lokasi itu.
Ia harap industri multinasional ini serap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar. Bayangkan ribuan pekerja muda dapat kerja di pabrik modern. Yulisman tekankan peran generasi muda sangat penting. Mereka bisa kuatkan posisi Indonesia di rantai pasok baterai dunia. Rantai pasok ini mulai dari tambang nikel hingga baterai jadi. Indonesia punya cadangan nikel terbesar. Itu jadi modal kuat untuk bersaing.
Investasi sebesar tujuh triliun rupiah pada proyek ini prediksi beri dampak ekonomi luas. Dampaknya rasakan masyarakat setempat dan nasional. Saat pabrik mulai operasi, serap sekitar tiga ribu lapangan kerja baru. Pekerjaan ini termasuk teknisi baterai, operator mesin, dan staf administrasi. "Kita harap industri ini mampu serap tenaga kerja Indonesia. Khususnya generasi muda, agar bisa berkontribusi di perusahaan multinasional," ujar Yulisman. Yulisman ingatkan pelaku industri beri perhatian utama pada pengelolaan lingkungan. Setiap proses produksi harus jaga alam. 
Advertising

BACA JUGA:
Piala Dunia : Capello sedang mempertimbangkan Conte atau Allegri untuk posisi pelatih tim nasional Italia
Penanganan limbah bahan berbahaya dan beracun atau B3 wajib ikut standar mutu lingkungan hidup. B3 seperti asam dari proses baterai bisa rusak tanah dan air jika salah buang. Standar ini atur cara daur ulang dan netralisir limbah. Prinsip keberlanjutan harus jalan sejak awal. Tujuannya cegah masalah ekologi di masa depan. Penggunaan energi bersih jangan timbulkan isu baru gara-gara kelalaian sisa operasi. Contohnya, limbah baterai lithium bisa sebabkan kontaminasi jika tak urus baik. "Pengelolaan lingkungan harus jadi perhatian utama, jangan sampai ke depan industri ini justru timbulkan persoalan baru. Prinsip keberlanjutan harus dijalankan sejak awal," tegas Yulisman.
Ia ungkap harapan besar. Indonesia bisa lahirkan merek kendaraan listrik sendiri yang kompetitif. Saat ini, pasar EV di Indonesia didominasi produk impor dari China atau Eropa. Produk luar ini kuasai penjualan karena teknologi maju. Kemandirian teknologi bikin harga EV lokal lebih murah dan terjangkau. Masyarakat biasa bisa beli tanpa beban kantong. Hal ini krusial percepat adopsi energi bersih secara masif di seluruh negeri. "Kendaraan listrik yang beredar saat ini masih didominasi produk luar. Kita harap Indonesia ke depan mampu produksi kendaraan listrik dengan merek sendiri," kata Yulisman.
Advertising

BACA JUGA:
Budaya : Pelihara Warisan, Kementerian Kebudayaan Mendorong Penguatan Sistem Cagar Budaya yang Tahan Bencana
Yulisman desak PLN Persero tambah jumlah stasiun pengisian daya atau SPKLU di titik strategis. Infrastruktur ini krusial kuatkan transisi ke EV. Kini, keterbatasan SPKLU jadi hambatan utama. Masyarakat ragu pakai EV untuk jarak jauh. Takut kehabisan daya di tengah perjalanan. Penambahan SPKLU tingkatkan rasa percaya publik. Mereka lebih nyaman pilih transportasi hijau. "PLN harus terus tambah jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Selama ini masyarakat masih ragu gunakan kendaraan listrik untuk perjalanan jauh karena keterbatasan fasilitas pengisian daya," ungkap Yulisman.
Pabrik di Karawang punya kapasitas 6,9 Gigawatt hour atau GWh per tahun. Target selesai pada kuartal III 2026, sekitar Juli-September. Fasilitas ini jadi fondasi kemandirian energi nasional yang berkelanjutan. Produksi baterai lokal kurangi impor. Hemat devisa negara. Juga dukung target nol emisi karbon di masa depan. Dengan begini, Indonesia maju dalam ekonomi hijau global. Kunjungan Yulisman tunjukkan komitmen pemerintah dukung industri EV. Semua elemen masyarakat bisa ikut andil agar transisi energi sukses.
EditorRedaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait
Share:

Saturday, 2 May 2026

PLN Meluncurkan Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Mentari Nusantara yang Berbasis GIGA ONE


Indonesia, Perssilam - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) baru saja meluncurkan proyek pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas 1,225 gigawatt. Proyek ini bagian dari program terintegrasi. Tujuannya jelas: percepat target nol emisi karbon nasional di 2060, atau bahkan lebih cepat lagi. Langkah ini selaras dengan komitmen Indonesia tinggalkan bahan bakar fosil. PLN membuka tender resmi untuk pembangunan nasional ini serentak pada Kamis, 30 April 2026. Mereka umumkan rencana besar itu secara resmi pada Jumat pagi, 1 Mei 2026. Kabar ini langsung tarik perhatian pelaku industri energi.
Advertising

BACA JUGA: 
Bojan Hodak Mengungkapkan Ketertarikannya untuk Merekrut Doumbia dan Sidibe ke Dalam Klubnya
Direktur Utama PT PLN, Darmawan Prasodjo, jelaskan saat konferensi di Jakarta. "Lewat strategi bundling GIGA ONE, kami satukan pengadaan proyek jadi satu paket strategis," katanya. Bundling ini artinya gabungkan berbagai lokasi jadi satu kesepakatan besar. Hasilnya, proyek lebih mudah dapat dana bank. Biaya jadi lebih murah. Proses dari tender hingga bangun juga lebih cepat dan hemat.
Proyek energi baru terbarukan (EBT) ini bakal ciptakan banyak lapangan kerja ramah lingkungan di tingkat lokal. Bayangkan ribuan pekerja bangun panel surya, pasang kabel, dan rawat instalasi. Itu dorong ekonomi daerah. Proyek raksasa ini juga kuatkan kedaulatan energi nasional. Ekonomi rakyat di seluruh wilayah ikut terdongkrak.
Advertising

Direktur Manajemen Proyek dan EBT PLN, Suroso Isnandar, tambahkan detail. Pembangunan ini dukung target pemerintah capai 100 gigawatt EBT. Itu instruksi langsung dari Presiden. "Strategi bundling GIGA ONE jadikan energi surya pendorong utama industri nasional," ujar Suroso. Bukan hanya bangun pembangkit. Ini bangun ekosistem lengkap dari hulu hingga hilir. Hulu berarti produksi panel dan suku cadang. Hilir berarti distribusi listrik ke rumah dan pabrik.
Advertising

BACA JUGA: 
Google mengembangkan TurboQuant untuk mengatasi krisis memori AI
Rencana ini tingkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). TKDN artinya pakai lebih banyak barang buatan lokal. Industri dalam negeri jadi kuat. Rantai pasok pabrik lokal siap saingi pasar dunia. Itu jawab kekhawatiran banyak orang soal ketergantungan impor.
Kapasitas tersebar di berbagai pulau. Kalimantan dapat 340 megawatt surya. Pulau Jawa paling besar, 600 megawatt. Sumatra 35 megawatt. Papua dan Maluku 120 megawatt. Sulawesi 50 megawatt. Nusa Tenggara Barat 80 megawatt. Totalnya pas 1,225 gigawatt. Semua unit target operasi komersial di 2029, serentak.
Advertising

BACA JUGA: 
Edmond Tapsoba secara resmi telah memperpanjang kontraknya dengan Bayer Leverkusen
Ke depan, skema bundling ini cepat ditiru untuk pembangkit hidro dan angin. Tahap ini penting banget. Indonesia butuh sistem kelistrikan bersih dan mandiri. Tak lagi bergantung impor bahan bakar. "GIGA ONE jadi panduan baru pengadaan EBT di Indonesia," kata Suroso lagi. Ini tonggak besar transisi energi nasional. Proyek ini bukti PLN serius wujudkan masa depan hijau. Masyarakat bisa andalkan listrik murah dan bersih lebih cepat.
EditorRedaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait
Share:

Saturday, 11 April 2026

Nasional : Penerapan WFH bagi ASN telah dimulai, Dosen UGM menyatakan bahwa hal ini berpotensi menurunkan produktivitas kerja


Indonesia, Perssilam - Pemerintah Indonesia resmi terapkan kebijakan kerja dari rumah, atau WFH, bagi seluruh aparatur sipil negara, yang dikenal sebagai ASN. Kebijakan ini rencananya berlaku satu hari setiap minggu. Tujuannya jelas: potong pengeluaran bahan bakar minyak yang biasa dipakai untuk perjalanan kerja harian. ASN, yaitu pegawai negeri sipil di berbagai instansi pemerintah, kini punya kesempatan kerja jarak jauh ini mulai hari Jumat setiap pekan. Dr. Agustinus Subarsono, dosen Manajemen Kebijakan Publik di Universitas Gadjah Mada atau UGM, bagi tahu faktor-faktor kunci yang bisa bikin kebijakan WFH ini sukses besar. 
Advertising

BACA JUGA:
Nasional : Polemik mengenai Motor Listrik BGN menguji akuntabilitas anggaran
Ia tekankan infrastruktur teknologi yang kuat dan stabil sebagai pondasi utama. Tanpa jaringan internet lancar dan perangkat andal, sulit bangun budaya kerja mandiri yang disiplin. "Ketika budaya kerja masih bergantung pada perintah atasan (Juknis) dan belum mandiri, maka WFH akan berpotensi mengurangi produktivitas kinerja karena aparatur sipil negara nantinya akan fokus ke pekerjaan domestics atau pekerjaan rumah," katanya pada Jumat, 10 April 2026. Subarsono lanjut jelaskan cara pastikan WFH jalan efektif di tingkat pemerintah. Pemerintah butuh standar layanan berdasarkan hasil kerja atau waktu tertentu. Plus, sistem pantau yang jelas, seperti timesheet untuk catat jam kerja harian. Tambah lagi meeting online singkat setiap hari atau minggu. 
Contohnya, pegawai catat tugas selesai di spreadsheet bersama, lalu rapat virtual pagi hari bahas kemajuan. Ini bantu atasan lihat kinerja tanpa harus tatap muka. Dari sisi ekonomi, Subarsono soroti potensi hemat biaya. WFH bisa tekan ongkos operasional kantor, seperti listrik dan air di gedung pemerintahan. Tapi, ia ingatkan hitung ulang penghematan listrik rumah tangga. "Jangan-jangan pemerintah baru terjebak pada asumsi saja bahwa biaya listrik akan berkurang. Tetapi, perlu dicari tahu lagi apakah efisiensi tersebut sudah cukup signifikan pada APBN atau APBD?" tanyanya. APBN adalah anggaran pendapatan belanja negara pusat, sementara APBD untuk daerah. Jika hemat listrik kantor lebih besar daripada tambahan di rumah ASN, baru untung besar.
Subarsono yakin WFH potong biaya transportasi karyawan secara nyata. ASN tak perlu naik kendaraan umum atau mobil pribadi setiap hari. Ini beri fleksibilitas waktu kerja. Dampaknya signifikan di kota besar seperti Jakarta dengan kemacetan parah, Medan, atau Surabaya yang lalu lintasnya padat. Kurangi emisi karbon dan hemat energi nasional. Tapi di kota kecil atau daerah 3T—yaitu daerah tertinggal, terdepan, dan terluar—pengurangan energi ini kurang terasa. Di sana, jarak kantor ke rumah biasanya dekat, jadi dampaknya kecil. Soal kepemimpinan, gaya trust-based leadership jadi kunci. Artinya, atasan percaya sepenuhnya pada bawahan untuk kerja mandiri. ASN harus mau dan bisa tangani tugas sendiri tanpa pengawasan ketat. 
Advertising

BACA JUGA:
Tehnologi : Permintaan AI Memicu Krisis Baterai di Pusat Data Global
"Kalau dalam kaitannya dengan leadership, khususnya gaya kepemimpinan yang dibutuhkan selama WFH adalah trust-based leadership atau kepemimpinan yang berbasis kepercayaan, bahwa ASN mau dan mampu melakukan bekerja secara mandiri," ujarnya. Subarsono sadar risiko penyalahgunaan. WFH di hari Jumat bisa jadi alasan libur panjang akhir pekan, karena nyambung Sabtu-Minggu. Ini mungkin terjadi pada ASN golongan menengah ke atas. Mereka punya kondisi ekonomi stabil dan anggap libur sebagai kebutuhan. Sebaliknya, ASN kelas ekonomi bawah jarang lakukan itu. Alasan utama: keterbatasan dana. "ASN dengan kelas ekonomi menengah berpotensi menggunakan WFH untuk mencari pekerjaan sampingan guna menambah pendapatan keluarga," tambahnya. Misalnya, buka usaha kecil di rumah atau ambil proyek freelance.
Untuk ukur sukses kebijakan, Subarsono usul empat indikator sederhana. Evaluasi ini dilakukan setelah satu atau dua bulan jalankan WFH. Pertama, kuantitas: apakah target output tercapai penuh. Kedua, ketepatan waktu: hasil kerja tepat jadwal atau molor. Ketiga, kualitas: butuh revisi kecil saja atau besar. Keempat, partisipasi digital: seberapa aktif ikut meeting online dan respons cepat. "Ada indikator yang menentukan suatu kebijakan itu efektif atau tidak. Indikator-indikator evaluasi kebijakan WFH yang bisa dilakukan pemerintah antara lain capaian target secara kuantitas, ketepatan waktu, kualitas hasil kerja, serta tingkat partisipasi dan kecepatan respons dalam kegiatan daring," jelasnya. Subarsono tegas bilang tidak semua pekerjaan cocok WFH. Banyak layanan publik butuh kehadiran fisik ASN. Contoh: urus SIM di Satpas, bikin KTP di kantor kecamatan, ambil sertifikat tanah di BPN, atau periksa kesehatan di rumah sakit pemerintah. ASN di sini harus hadir langsung untuk layani masyarakat.
Advertising

BACA JUGA:
Formula 1 : Audi tidak dapat menciptakan keajaiban meskipun telah mendapatkan dukungan dari FIA
Di bidang pendidikan, Subarsono dukung kuat pembelajaran tatap muka atau luring. "Saya cenderung mendorong menggunakan luring karena guru dan dosen memiliki ruang yang lebih leluasa untuk berimprovisasi dalam menjelaskan berbagai pengetahuan dan fenomena. Pembelajaran luring juga dimaksudkan tidak terjadi learning loss, yakni penurunan pengetahuan dan keterampilan siswa akibat gangguan dalam proses pembelajaran," katanya. Learning loss ini sering muncul saat pandemi dulu, di mana siswa kehilangan kemampuan dasar karena kurang interaksi langsung.
Ia sarankan indikator ukur lebih lanjut untuk WFH. Pakai target output harian, laporan mingguan, dan aturan reward serta punishment tegas. Reward bisa berupa bonus atau cuti tambahan. Punishment seperti teguran atau potong insentif jika lambat. "Saya sarankan gunakan indikator pekerjaan berbasis output harian dan laporan mingguan dan adanya mekanisme reward dan punishment yang jelas. Dalam waktu 2 bulan selama online, pemerintah perlu evaluasi melalui survei, apakah tingkat kepuasan publik menurun, tetap atau malah meningkat," tutupnya. Survei ini tanya masyarakat: apakah layanan pemerintah tetap lancar atau justru terganggu. Hasilnya bantu putuskan lanjut atau ubah kebijakan.
EditorRedaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait
Share:
Nasional
Loading 6 berita Nasional...
RECOMMENDED
Loading 9 berita nasional...
Liga Inggris
Loading 6 berita Liga Inggris HD...
Anda Mungkin Juga Suka
You Might Like

🛒 Shopee Hari Ini

MOST VIEWED BRI SUPER LEAGUE

X
×

Other Latest

Loading...

Daftar Isi

    📧 Dapatkan Berita Terbaru Langsung ke Email!

    Premier League

    Close Ads
    Close Ads

    Serie A

    Archive

    🔥 Flash Sale Shopee Hari Ini

    Dapatkan voucher & gratis ongkir


    Total Pageviews

     

    ×