
Indonesia, Perssilam - Industri kelapa sawit Indonesia sedang mengarah pada perubahan besar dalam cara mengolah buah sawit. Fokus utamanya adalah menghilangkan uap air dan limbah cair dalam proses produksi. Teknologi baru ini disebut Steamless POME-less Palm Oil Technology atau SPPOT. Intinya, SPPOT adalah proses kering yang tidak menghasilkan limbah cair. Hal ini sangat penting untuk menurunkan emisi karbon di sektor hulu sawit. Kabar ini muncul dalam laporan Investor Daily. Sistem proses kering untuk Tandan Buah Segar (TBS) ini sangat cocok bagi petani sawit rakyat. Pemerintah sedang serius mengembangkan teknologi ini karena ukurannya kecil. Kapasitas produksinya modular, mulai dari 5 sampai 10 ton per jam. Ukuran kecil ini memudahkan pemasangan di lahan yang luas.
Advertising
Posma Sinurat dari P3PI menjelaskan bahwa ide inovasi ini sudah ada sejak tiga atau empat tahun lalu. Para pemilik kebun rakyat sudah lama menunggu alat ini. Kebun rakyat biasanya tersebar di banyak titik dan tidak terpusat. Posma mengatakan hal ini saat konferensi pers 4th TPOMI 2026 di Jakarta pada Selasa, 2 Juni 2026. Menurutnya, teknologi kering ini solusi tepat bagi masyarakat dengan lokasi kebun yang terpencar. Jika melihat cara lama, pabrik sawit memakai teknologi basah. Proses ini menghasilkan limbah cair yang disebut Palm Oil Mill Effluent atau POME. POME harus ditampung di kolam besar dan melepaskan gas rumah kaca. SPPOT bekerja berbeda karena tidak membuat POME sama sekali.
Hasilnya, emisi karbon berkurang drastis. Posma menyebut sekitar 75 persen emisi berasal dari kolam limbah tersebut. Tanpa kolam, polusi udara jadi jauh lebih rendah. Banyak pengusaha sawit sudah mulai bertanya tentang cara memakai sistem ini. Namun, SPPOT masih dalam tahap riset laboratorium dan persiapan uji coba. Posma menyarankan para pelaku usaha untuk bersabar. Mereka perlu menunggu aturan resmi dari pemerintah dan kesiapan teknis alat tersebut agar tidak salah langkah. Gapki juga memberikan perhatian pada rencana ini. Mereka mengingatkan bahwa biaya teknologi ini cukup mahal. Gapki menekankan pentingnya membenahi pasokan bahan baku sebelum alat ini dipakai massal.
Advertising
Ketua Bidang Perkebunan Gapki, R Azis Hidayat, khawatir biaya besar terbuang jika buah sawit yang masuk ke pabrik tidak cukup. Untuk mencegah masalah itu, Gapki memberi tiga saran. Pertama, pemerintah harus membuat Peta Jalan PKS Nasional. Tujuannya agar jumlah pabrik tidak terlalu banyak dan tidak saling berebut buah. Jarak antara kebun petani dan pabrik juga harus dijaga maksimal 50 kilometer agar biaya angkut murah. Kedua, program Peremajaan Sawit Rakyat atau PSR harus dipercepat. Saat ini, realisasi PSR baru mencapai sepertujuh dari target awal. Gapki juga membentuk konsorsium untuk membawa bibit unggul dan serangga penyerbuk dari Afrika guna meningkatkan hasil panen. Ketiga, masalah hukum lahan sawit di kawasan hutan harus segera selesai. Aturan kemitraan bahan baku juga perlu diperkuat. Hal ini mendesak karena sertifikasi ISPO akan jadi syarat wajib bagi produk hilir pada tahun 2027.
Kementerian Perindustrian kini sedang mematangkan pengembangan SPPOT. Detail teknologi ini akan dibahas dalam acara Technology and Talent Palm Oil Mill Indonesia atau TPOMI 2026 di Medan pada 8 sampai 10 Juli 2026. Posma Sinurat selaku ketua panitia menyebut perpindahan dari proses basah ke kering adalah kunci dekarbonisasi. Langkah ini juga akan membantu menciptakan produk sawit dengan nilai jual lebih tinggi.
Advertising
Selain soal proses kering, TPOMI 2026 akan membahas peran kecerdasan buatan atau AI dan Internet of Things atau IoT. IoT dipakai untuk memantau suhu dan kondisi mesin secara langsung. AI digunakan untuk menebak kapan mesin rusak dan mencegah minyak terbuang sia-sia saat proses produksi. Pembaruan teknologi ini harus dibarengi dengan peningkatan skill pekerja pabrik. Sebagai bentuk penghargaan, TPOMI 2026 akan memberikan Medbun Award. Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan yang paling produktif dan menjaga kelestarian lingkungan.

(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait










