Musi Rawas, Perssila News - Nasi tumpeng kerap hadir dalam perayaan kemerdekaan setiap Agustus. Hidangan ini biasanya disajikan dalam acara syukuran, perlombaan warga, kerja bakti, atau makan bersama setelah upacara. Bentuknya yang khas membuat tumpeng mudah dikenali. Namun, nilainya tidak berhenti pada tampilan dan rasa. Tumpeng membawa pesan tentang rasa syukur, kebersamaan, harapan, serta hubungan manusia dengan Tuhan. Nasi tumpeng dibuat dengan bentuk mengerucut seperti gunung. Bagian nasi yang menjulang diletakkan di tengah, lalu dikelilingi beragam lauk dan sayuran. Sajian tersebut umumnya ditempatkan di atas tampah, yaitu wadah bundar berukuran besar yang terbuat dari anyaman bambu. Di sekeliling nasi, orang dapat menemukan telur, ayam, ikan, tempe, tahu, urap sayur, sambal, mentimun, dan pelengkap lain. Susunan lauk dapat berbeda sesuai daerah, keluarga, kemampuan, dan jenis acara. Ada tumpeng yang menggunakan nasi kuning, ada pula yang memakai nasi putih. Sebagian masyarakat menambahkan hiasan dari sayuran atau bahan pangan lain agar tampilannya sesuai tema acara. Dalam perayaan kemerdekaan, hiasan berwarna merah dan putih sering dipilih untuk memperkuat suasana nasional. Dalam tradisi Jawa, tumpeng dikenal dalam berbagai acara selamatan dan ungkapan syukur. Selamatan adalah kegiatan bersama untuk memanjatkan doa serta memohon keselamatan. Acara ini dapat berkaitan dengan kelahiran, pernikahan, rumah baru, panen, ulang tahun, atau kegiatan penting lain dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Tumpeng lalu dibagikan kepada orang-orang yang hadir setelah doa dan acara utama selesai. Cara pembagian tersebut memiliki arti sosial yang kuat. Orang-orang duduk bersama, menikmati makanan dari sajian yang sama, dan menjaga hubungan baik di antara mereka. Tumpeng juga mendorong warga untuk berbagi tugas. Ada yang menyiapkan nasi, membersihkan sayuran, memasak lauk, menghias tampah, atau mengatur tempat makan. Seluruh proses itu membuat tumpeng hadir sebagai hasil kerja bersama.
Sunday, 16 August 2026
Tumpeng dan Makna Filosofi di Balik Perayaan Kemerdekaan
Musi Rawas, Perssila News - Nasi tumpeng kerap hadir dalam perayaan kemerdekaan setiap Agustus. Hidangan ini biasanya disajikan dalam acara syukuran, perlombaan warga, kerja bakti, atau makan bersama setelah upacara. Bentuknya yang khas membuat tumpeng mudah dikenali. Namun, nilainya tidak berhenti pada tampilan dan rasa. Tumpeng membawa pesan tentang rasa syukur, kebersamaan, harapan, serta hubungan manusia dengan Tuhan. Nasi tumpeng dibuat dengan bentuk mengerucut seperti gunung. Bagian nasi yang menjulang diletakkan di tengah, lalu dikelilingi beragam lauk dan sayuran. Sajian tersebut umumnya ditempatkan di atas tampah, yaitu wadah bundar berukuran besar yang terbuat dari anyaman bambu. Di sekeliling nasi, orang dapat menemukan telur, ayam, ikan, tempe, tahu, urap sayur, sambal, mentimun, dan pelengkap lain. Susunan lauk dapat berbeda sesuai daerah, keluarga, kemampuan, dan jenis acara. Ada tumpeng yang menggunakan nasi kuning, ada pula yang memakai nasi putih. Sebagian masyarakat menambahkan hiasan dari sayuran atau bahan pangan lain agar tampilannya sesuai tema acara. Dalam perayaan kemerdekaan, hiasan berwarna merah dan putih sering dipilih untuk memperkuat suasana nasional. Dalam tradisi Jawa, tumpeng dikenal dalam berbagai acara selamatan dan ungkapan syukur. Selamatan adalah kegiatan bersama untuk memanjatkan doa serta memohon keselamatan. Acara ini dapat berkaitan dengan kelahiran, pernikahan, rumah baru, panen, ulang tahun, atau kegiatan penting lain dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Tumpeng lalu dibagikan kepada orang-orang yang hadir setelah doa dan acara utama selesai. Cara pembagian tersebut memiliki arti sosial yang kuat. Orang-orang duduk bersama, menikmati makanan dari sajian yang sama, dan menjaga hubungan baik di antara mereka. Tumpeng juga mendorong warga untuk berbagi tugas. Ada yang menyiapkan nasi, membersihkan sayuran, memasak lauk, menghias tampah, atau mengatur tempat makan. Seluruh proses itu membuat tumpeng hadir sebagai hasil kerja bersama.
Fabio Capello mengingatkan Milan untuk tidak terburu-buru dalam melepaskan Tomori
Musi Rawas, Perssilam News - Fabio Capello meminta AC Milan berpikir ulang sebelum melepas Fikayo Tomori. Menurutnya, bek asal Inggris itu masih bisa membantu Ruben Amorim, terutama karena pilihan di lini belakang Milan belum benar-benar lengkap. Capello juga menilai Milan membutuhkan pemain yang dapat langsung menjadi starter, bukan hanya pemain tambahan untuk mengisi bangku cadangan. Setelah pertemuan dengan Gerry Cardinale, Ruben Amorim mulai menyusun gambaran skuad yang akan masuk ke dalam proyeknya. Beberapa pemain disebut tidak sesuai dengan rencana pelatih asal Portugal tersebut. Fikayo Tomori termasuk salah satu nama yang berpeluang meninggalkan San Siro dalam beberapa pekan ke depan. Klub-klub Liga Primer Inggris dikabarkan menjadi tujuan yang mungkin bagi sang bek. Situasi itu membuat masa depan Tomori kembali menjadi bahan pembicaraan. Ia pernah menjadi pilihan utama di lini belakang Milan dan memiliki pengalaman bermain di level tinggi. Tomori juga sudah mengenal tekanan besar di Serie A, kompetisi Eropa, serta tuntutan untuk tampil dalam pertandingan penting. Legenda Milan dan mantan pelatih tim nasional Italia, Fabio Capello, menyampaikan pandangannya kepada La Gazzetta dello Sport. Ia menilai keputusan untuk melepas Tomori tidak boleh dibuat hanya berdasarkan kecocokan gaya bermain dengan pelatih baru. "Karena saya kira dia akan berguna bagi Amorim dengan caranya sendiri. Jangan lupa bahwa pemain Inggris itu adalah starter musim lalu dan juga berperan penting saat Milan meraih Scudetto dan mencapai semifinal Liga Champions," ujar Capello.
Tuesday, 30 December 2025
Jowo Line Dance Difasilitasi oleh Lembaga Adat Desa Mangliawan untuk melestarikan busana dan budaya Jawa

Indonesia, Lembaga Adat Desa Mangliawan bekerja sama dengan Jowo Line Dance (JLD). Mereka rayakan ulang tahun ke-3 JLD. JLD komitmen jaga busana dan budaya Jawa. Kehadiran JLD sejak tiga tahun lalu beri warna baru pada pelestarian adat setempat.
Acara gelar di pendopo Joglo Mangliawan. Lokasi ini ada di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Suasana penuh tradisi Jawa. Peserta datang ramai. Ada pegiat seni. Tokoh adat ikut hadir. Komunitas budaya dari banyak daerah gabung. Mereka nikmati pesta meriah itu.
Pembuka acara datang dari seniman Kampung Budaya Polowijen. Mereka tampil tari Topeng Grebeg Jowo. Tari ini tunjuk kekayaan tradisi Jawa. Ia soroti spiritualitas budaya. Topeng Grebeg Jowo jadi tari khas Malang. Indonesia akui sebagai warisan budaya tak benda. Gerakan tari ceritakan kisah rakyat dan ritual desa.
Lalu acara lanjut ke ritual ujub umbul donga. Peserta potong tumpeng besar. Mereka lepas burung dara putih. Burung itu jadi simbol doa. Ia wakili harapan. Burung tunjuk kebebasan berkarya. Semua ini jaga harmoni hidup sehari-hari.
Ketua Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur, Ki Suroso, ungkap rasa haru. Ia bangga lihat JLD. Komunitas ini satukan pelestari budaya. JLD kolaborasi dalam pementasan bareng. "Dengan pakai ruang budaya seperti pendopo Joglo Mangliawan, kegiatan seni bakal maju. Lembaga adat kelola tempat ini," kata Ki Suroso. Ia bicara di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Senin (15/12/2025).
Ike Damayanti, ketua Perempuan Kebaya dan Konde Malang, ikut bangga. Ia senang partiisipasi di ulang tahun JLD. Komunitas ini kuat lestarikan busana kebaya. Mereka hidupkan tembang Jawa lagi. "JLD jadi pusat pelestari budaya. Ia hibur sambil bangkitkan tembang lama," kata Ike.
Puncak acara bikin semua terpukau. Berbagai tari tradisional tampil bergantian. Kampung Budaya Polowijen ulang tari Topeng Grebeg Jowo. Sanggar Citra Natya Budaya bawa tari Gambyong Bule Kecil. Mereka lanjut tari Kelono Sewandono. Sanggar Sekar Aum Singosari tampil tari Pesisir. Sanggar Tidar Karangbesuki akhiri dengan tari Gandrung. Setiap tarian punya cerita sendiri. Gambyong tunjuk kelembutan putri Jawa. Kelono Sewandono gambarkan kesetiaan prajurit.
Sesi tembang tak kalah seru. Anak-anak Miben Voice nyanyi tembang Jawa. Jowo Line Dance tampil tari Arimbi. Komunitas Perempuan Konde dan Kebaya gelar fashion show. Mereka nyanyi bareng. Srikandi Jowo Line Dance tutup pentas. Semua penampilan soroti busana adat dan lagu klasik.
Perayaan HUT ke-3 ini bukti nyata. JLD tak sekadar komunitas seni. Ia rawat nilai budaya Jawa. Cara mereka kreatif dan inklusif. Semua dekat dengan akar masyarakat. "Ini tunjuk JLD tumbuh kuat," kata Ki Rinto Syamsuryono, pemangku komunitas JLD. Acara ini perkuat ikatan budaya di Malang. Ia ajak semua terus jaga warisan leluhur. (Red)
Dengarkan
Berita dan Artikel lainnya di :
Sunday, 16 August 2026
SpaceX telah mencetak rekor baru dengan meluncurkan dua roket Falcon dalam waktu yang sangat singkat
Musi Rawas, Perssilam News - SpaceX kembali mencetak rekor baru setelah meluncurkan dua roket Falcon 9 dengan jeda hanya 38 menit. Kedua penerbangan orbital itu berlangsung pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dari dua pangkalan berbeda di Amerika Serikat. Pencapaian ini menunjukkan tingginya frekuensi operasi SpaceX sepanjang tahun, sekaligus kemampuan perusahaan menyiapkan beberapa misi dalam waktu yang sangat berdekatan. Jeda 38 menit tersebut menjadi waktu tersingkat antara dua penerbangan orbital SpaceX. Rekor sebelumnya tercatat pada 31 Agustus 2024, ketika perusahaan meluncurkan dua roket dengan selang waktu 65 menit. Catatan terbaru ini memangkas jeda itu hingga 27 menit. Dalam misi orbital, jeda seperti ini mencakup persiapan akhir, pemeriksaan sistem, peluncuran, serta pengaturan penerbangan dari lokasi yang berbeda.
Mobil listrik BYD Racco telah resmi diluncurkan di Jepang
Musi Rawas, Perssilam News - Produsen otomotif asal China, BYD, resmi memasarkan mobil listrik Racco di Jepang. Kehadiran model ini langsung mendapat perhatian konsumen setempat. Dalam dua minggu sejak peluncuran, BYD Racco berhasil mengumpulkan 1.000 unit pemesanan, sebagaimana dilansir Detik Oto. Angka tersebut menunjukkan respons awal yang kuat, terutama karena Jepang memiliki pasar kei car yang sudah lama dikuasai oleh merek lokal. Kei car merupakan kategori mobil mungil yang banyak digunakan masyarakat Jepang untuk kebutuhan harian. Ukurannya ringkas sehingga mudah dikendarai di jalan sempit dan kawasan padat. Kendaraan dalam kelas ini juga dikenal karena kabinnya yang mampu memanfaatkan ruang secara baik. BYD Racco masuk ke segmen tersebut dengan membawa tenaga listrik, kabin tinggi, serta sejumlah fitur yang biasa ditemukan pada mobil dengan kelas lebih tinggi. Performa berkendara Racco mendapat penilaian positif dari jurnalis otomotif Jepang, Nanao Shimazaki. Dalam ulasannya di media Response, ia menyebut kualitas berkendara Racco berada di atas rata-rata mobil mungil atau kei car yang dibuat pabrikan lokal. Penilaian itu mencakup rasa nyaman selama mobil melaju, kestabilan saat dikendalikan, serta respons sistem penggeraknya. Dari sisi tampilan, Shimazaki menilai BYD Racco memiliki bentuk yang sekilas mengingatkan pada Daihatsu Tanto atau Honda N-BOX. Kedua model tersebut dikenal sebagai mobil mungil dengan bodi tinggi dan ruang kabin yang luas. Meski memiliki kemiripan pada bentuk dasar, Racco membawa gaya desain yang lebih sederhana dan matang. "Eksteriornya memberikan kesan kuat tanpa terlalu rumit dengan detail dan hiasan, terasa bersih dan menyenangkan," tulis Shimazaki. Desain tersebut terlihat pada garis bodi yang tidak berlebihan serta penggunaan detail yang dibuat lebih sederhana. Pendekatan ini membuat Racco terlihat mudah diterima oleh konsumen yang menginginkan mobil praktis tanpa tampilan yang terlalu ramai.






