Selamat Datang dan Bergabung Bersama Perssilam Silampari News teknologi app iconDownload App Perssilam Silampari News: Search results for Filosofi
×
    Advertising
    ☰ Menu
W3.CSS
Dark Mode

Pages

Memuat berita...
Showing posts sorted by relevance for query Filosofi. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Filosofi. Sort by date Show all posts

Sunday, 16 August 2026

Tumpeng dan Makna Filosofi di Balik Perayaan Kemerdekaan


Musi Rawas, Perssila News - Nasi tumpeng kerap hadir dalam perayaan kemerdekaan setiap Agustus. Hidangan ini biasanya disajikan dalam acara syukuran, perlombaan warga, kerja bakti, atau makan bersama setelah upacara. Bentuknya yang khas membuat tumpeng mudah dikenali. Namun, nilainya tidak berhenti pada tampilan dan rasa. Tumpeng membawa pesan tentang rasa syukur, kebersamaan, harapan, serta hubungan manusia dengan Tuhan. Nasi tumpeng dibuat dengan bentuk mengerucut seperti gunung. Bagian nasi yang menjulang diletakkan di tengah, lalu dikelilingi beragam lauk dan sayuran. Sajian tersebut umumnya ditempatkan di atas tampah, yaitu wadah bundar berukuran besar yang terbuat dari anyaman bambu. Di sekeliling nasi, orang dapat menemukan telur, ayam, ikan, tempe, tahu, urap sayur, sambal, mentimun, dan pelengkap lain. Susunan lauk dapat berbeda sesuai daerah, keluarga, kemampuan, dan jenis acara. Ada tumpeng yang menggunakan nasi kuning, ada pula yang memakai nasi putih. Sebagian masyarakat menambahkan hiasan dari sayuran atau bahan pangan lain agar tampilannya sesuai tema acara. Dalam perayaan kemerdekaan, hiasan berwarna merah dan putih sering dipilih untuk memperkuat suasana nasional. Dalam tradisi Jawa, tumpeng dikenal dalam berbagai acara selamatan dan ungkapan syukur. Selamatan adalah kegiatan bersama untuk memanjatkan doa serta memohon keselamatan. Acara ini dapat berkaitan dengan kelahiran, pernikahan, rumah baru, panen, ulang tahun, atau kegiatan penting lain dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Tumpeng lalu dibagikan kepada orang-orang yang hadir setelah doa dan acara utama selesai. Cara pembagian tersebut memiliki arti sosial yang kuat. Orang-orang duduk bersama, menikmati makanan dari sajian yang sama, dan menjaga hubungan baik di antara mereka. Tumpeng juga mendorong warga untuk berbagi tugas. Ada yang menyiapkan nasi, membersihkan sayuran, memasak lauk, menghias tampah, atau mengatur tempat makan. Seluruh proses itu membuat tumpeng hadir sebagai hasil kerja bersama.
Advertising

BACA JUGA: Harga emas Antam tetap stabil di angka Rp 2.675.000 per gram, Pada Hari Ini 16 Agustus 2026
Melansir Raminten, bentuk kerucut pada tumpeng memiliki filosofi gunung suci sebagai tempat sakral dalam kebudayaan Jawa. Dalam pandangan tersebut, gunung memiliki kedudukan penting karena dianggap dekat dengan tempat yang luhur. Bentuk nasi yang menjulang ke atas menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan. Puncaknya mengingatkan manusia agar selalu mengarahkan doa dan harapan kepada Yang Maha Kuasa. Bentuk tersebut juga berkaitan dengan harapan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Nasi yang disusun tinggi menunjukkan cita-cita, doa, dan keinginan untuk mencapai keselamatan. Makna ini dapat diterapkan dalam berbagai acara, termasuk syukuran kemerdekaan. Masyarakat berkumpul untuk mengenang kebebasan yang telah diperoleh sekaligus menyampaikan harapan agar kehidupan bersama semakin aman dan sejahtera. Dalam perkembangannya, tumpeng digunakan dalam berbagai tradisi masyarakat Muslim di Jawa. Melansir Nahdlatul Ulama, tumpeng kemudian dimaknai sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Perubahan makna tersebut menunjukkan bahwa tumpeng dapat diterima dalam kehidupan masyarakat yang memiliki latar budaya dan keyakinan beragam. Bentuknya tetap dikenal, sedangkan pemaknaan di dalamnya dapat mengikuti kebutuhan acara dan pemahaman masyarakat. Tumpeng hadir dalam banyak perayaan. Pada acara kelahiran, hidangan ini dapat disajikan sebagai ungkapan syukur atas hadirnya anggota keluarga baru. 
Advertising

BACA JUGA: Jangan Sepelekan Nyeri Sendi yang Terulang, Karena Bisa Menjadi Penyakit Autoimun
Dalam pernikahan, tumpeng menjadi bagian dari doa dan harapan bagi kehidupan rumah tangga. Pada acara syukuran rumah, kelulusan, atau keberhasilan usaha, tumpeng digunakan untuk mengajak keluarga dan tetangga berkumpul. Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa makanan memiliki hubungan erat dengan berbagai tahap kehidupan. Saat perayaan 17 Agustus, tumpeng sering disajikan dalam kegiatan syukuran dan makan bersama. Warga dapat membawa tumpeng dari rumah atau membuatnya secara berkelompok di lingkungan tempat tinggal. Setelah rangkaian acara selesai, tumpeng dipotong dan dibagikan kepada peserta. Dalam beberapa kegiatan, potongan pertama diberikan kepada tokoh masyarakat, orang yang dituakan, atau pihak yang dianggap memiliki peran dalam acara. Setelah itu, seluruh warga dapat menikmati hidangan bersama. Tradisi tersebut membantu menciptakan suasana akrab dalam perayaan kemerdekaan. Anak-anak, orang dewasa, dan orang lanjut usia dapat duduk dalam satu tempat tanpa membedakan pekerjaan atau latar belakang. Percakapan berlangsung sambil menikmati makanan. Warga juga memiliki kesempatan untuk bertemu dengan tetangga yang jarang berjumpa dalam kegiatan sehari-hari. Karena itu, tumpeng ikut memperkuat hubungan sosial di lingkungan sekitar. Selain bentuknya, warna nasi dan lauk yang mengelilingi tumpeng juga memiliki simbol dalam tradisi masyarakat. Melansir Kementerian Agama, nasi kuning sering dimaknai sebagai lambang kemakmuran, kemuliaan, dan kebahagiaan. Warna kuning membuat tumpeng terlihat cerah dan sesuai untuk acara syukuran. Nasi putih juga banyak digunakan karena sering dikaitkan dengan kesucian, kesederhanaan, dan niat yang baik. Lauk yang mengelilingi nasi juga dapat memiliki makna sesuai kebiasaan setempat. Telur sering hadir dalam tumpeng karena mudah ditemukan dan dapat diolah untuk banyak orang. Ayam, ikan, sayuran, tempe, dan tahu menambah rasa sekaligus melengkapi kebutuhan hidangan. Makna setiap lauk tidak selalu sama di semua daerah. Pemahaman tersebut dapat berubah sesuai tradisi keluarga dan masyarakat yang menyajikannya. Dalam perayaan kemerdekaan, masyarakat dapat membuat tumpeng dengan berbagai kreasi. Nasi dapat dicetak dengan ukuran kecil untuk acara di sekolah, kantor, atau lingkungan RT. Ada pula tumpeng berukuran besar yang disiapkan untuk banyak orang. Dekorasi bertema merah putih dapat dibuat dari cabai, tomat, wortel, daun pisang, atau bahan pangan lain. Hiasan tersebut membuat sajian terlihat lebih meriah tanpa menghilangkan bentuk utama tumpeng.
Advertising

BACA JUGA: Petugas KAI Services berhasil menangkap seorang pencuri kabel persinyalan di Cikarang
Penyajian tumpeng memang semakin beragam. Sebagian orang memakai piring besar, kotak makanan, atau wadah modern sebagai pengganti tampah. Lauknya juga dapat disesuaikan dengan selera dan kondisi peserta. Meski begitu, pesan yang dibawa tetap sama. Tumpeng mengajak masyarakat bersyukur, berkumpul, saling berbagi, dan menjaga hubungan baik. Dalam suasana perayaan kemerdekaan, pesan itu terasa semakin kuat. Kemerdekaan menjadi kesempatan untuk mengenang perjuangan bangsa dan menghargai kehidupan yang dapat dijalani dengan lebih bebas. Melalui seporsi nasi dan lauk yang dibagikan bersama, masyarakat menyampaikan rasa terima kasih sekaligus membangun kebersamaan. Tumpeng tetap menjadi bagian dari budaya karena mampu menghubungkan makanan, doa, sejarah, dan kehidupan sosial dalam satu sajian.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Tags :
Artikel Terkait
Share:

Tuesday, 2 December 2025

PSSI bekerja sama dengan KNVB dan didukung oleh Indomilk, menyelenggarakan Coaching Clinic untuk pengembangan pemain muda


Indonesia, PSSI lewat PT Garuda Sepak Bola Indonesia (GSI) gandeng Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB). Mereka gelar Coaching Clinic. Indomilk Susu Steril dukung acara ini. Lokasinya di ASIOP Stadium, Cempaka Putih, Jakarta. Waktu pelaksanaan 25-26 November 2025.

Acara ini ikut dari MoU PSSI dan KNVB tahun 2024. MoU itu buka pintu kerjasama jangka panjang. Tujuannya jelas. Perkaya pembinaan pelatih dan pemain muda Indonesia. Mereka pakai cara sepak bola modern Belanda. Fokus pada edukasi teknik dasar yang praktis.

Baru saja selesai di Timika, 20-22 November. Kali ini pertama di Jakarta. Dua pelatih berlisensi UEFA A dari KNVB pimpin sesi. Mereka Bert Zuurman dan Andre Simmelink. Lisensi UEFA A artinya level tinggi di Eropa. Mereka ajar filosofi Belanda. Tekankan game-based learning. Itu belajar lewat permainan langsung. Bukan drill kaku. Juga pengambilan keputusan cepat. Plus hubung kuat antara latihan dan match nyata.

Advertising

Total peserta 100 anak muda. Usia dini jadi target utama. Kegiatan ini beri ruang belajar terstruktur. Langkah demi langkah maju. Sesuai kebutuhan pembinaan usia muda sekarang. Anak-anak praktek langsung. Misal di sesi kecil-kecilan. Mereka rasakan tekanan seperti laga sungguhan.

Bert Zuurman puas dengan penyelenggaraan. Fasilitas lengkap. Lapangan bagus. Bola berkualitas. Semua alat siap pakai. "Semua orang di akademi sangat membantu," katanya.

Dia juga usul tambah peserta perempuan. "Akan sangat baik jika jumlah peserta perempuan bisa bertambah. Itu penting untuk perkembangan sepak bola perempuan di Indonesia," tambah Bert. Saat ini peserta didominasi laki-laki. Tapi potensi perempuan besar. Kolaborasi ini bisa dorong kesetaraan.

Salah satu peserta rasakan manfaatnya. Dafa, kiper 13 tahun. Dia bilang dasar permainan banyak improve. "Basic bola seperti passing dan shooting banyak ditekankan," ujarnya. Tantangan utama di latihan 4 lawan 4. Mereka belajar transisi positif ke negatif. Shooting tajam. Passing akurat. Komunikasi tim kuat. Dafa jadi lebih percaya diri di gawang.

Advertising

BACA JUGA:Pasar NEV di China terus mengalami pertumbuhan yang kuat

Andre Simmelink tekankan desain materi. Semua terkait permainan nyata. "Anda belajar sepak bola dengan bermain sepak bola," jelasnya. Latihan harus mirror match. Pemain maju saat hadapi keputusan sulit. Seperti di laga asli.

Dia juga bilang pelatih butuh konsisten. "Untuk berkembang, pelatih harus terus mempraktikkan apa yang dipelajari," katanya. Kursus lanjutan wajib. Lanjutkan apa yang sudah mulai. PSSI bisa rencanakan seri event begini.

Kolaborasi PSSI, KNVB, dan Indomilk Susu Steril beri dampak nyata. Anak-anak dan pelatih Indonesia dapat ilmu segar. Filosofi Belanda ubah cara latih. Hasilnya pemain lebih cerdas di lapangan. Semangat ini lanjut ke event selanjutnya. Sepak bola muda Indonesia makin kuat.

Advertising

Reaksi :
Share:

Thursday, 5 February 2026

Kuliner : Nasi Liwet Solo, Makanan Rakyat yang Disukai Kalangan Ningrat


Indonesia, perssilam - Jika mengujungi Kota Solo, jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati nasi liwet solo yang dapat dengan mudah kita temukan di berbagai sudut kota. Nasi gurih khas Solo dengan rasa gurih, lembut, dan harum ini, disajikan bersamaan opor ayam atau suwiran ayam, telur kukus atau pindang, santan kental (areh), dan sayur labu siam.Seperti adat Jawa yang penuh dengan makna filosofis, nasi liwet solo juga memiliki filosofi yang mendalam. Misalnya saja, nasi putihnya merupakan simbol dari hati yang suci dan bersih, telur yang melambangkan sumber kehidupan, serta ayam suwir sebagai simbol semangat untuk berbagi. 
Temukan lebih banyak
Bisnis
Advertising

BACA JUGA:Religi : Nyadran, Tradisi Ziarah ke Makam Menjelang Bulan Ramadhan
Biasa dihidangkan menggunakan alas daun pisang untuk menambah aroma kelezatannya, nasi yang dinamakan sesuai dengan teknik memasaknya yaitu liwet (memasak nasi dengan cara direbus hingga tekstur nasi menjadi pulen) ini kerap dinikmati sambil lesehan, memandangi geliat kota yang mulai bangun pada pagi hari ataupun senja hari saat lampu-lampu jalan mulai dinyalakan.Jika melihat sejarah, nasi liwet solo yang kita nikmati saat ini sudah tertulis proses pembuatannya di dalam Serat Centhini (dalam aksara Jawa:ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦕꦼꦟ꧀ꦛꦶꦤꦶ), salah satu 
karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru yang juga sering disebut Suluk Tambanglaras atau Suluk Tambangraras-Amongraga dan ditulis pada 1814 – 1823 M. Serat Centhini adalah karya sastra Jawa yang di dalamnya terdapat informasi mengenai sejarah Jawa, ilmu pendidikan, arsitektur, ilmu alam, filsafat, agama, makanan, adat istiadat, dan lain-lain. Gaya penyampaiannya sendiri berbentuk tembang atau suluk. Penulisannya dikelompokkan menurut jenis tembangnya. Hal ini dimaksudkan agar ilmu pengetahuan serta kebudayaan Jawa tidak punah. Nasi liwet solo sendiri ada di dalam tulisannya pada 1819 M.Mengutip Destinesia Jurnal Hospitality & Pariwisata, Vol. 3, No. 2, Maret 2022, pp. 102-111, karya Inti Krisnawati, Nasi Liwet Solo, Kuliner Tradisional dengan Keunikan Sejarah, Budaya dan Filosofi, nasi liwet solo dibuat saat Pulau Jawa diguncang gempa bumi besar, sehingga pembuatannya pada saat terjadi bencana yang disertai lantunan doa-doa kepada yang Maha Kuasa agar diberikan keselamatan dan terhindar dari segala bencana.
Advertising

Nasi liwet solo pada awalnya dibuat oleh masyarakat biasa di Desa Menuran, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, seperti dilansir dari buku Kuliner Surakarta: Mencipta Rasa Penuh Nuansa karya Murdijati Gardjito, Shinta Teviningrum, dan Swastika Dewi, terbitan Gramedia. Menu nasi liwet solo atau sego liwet ini biasa dimasak oleh masyarakat Desa Menuran untuk disajikan pada saat acara syukuran, dengan tujuan agar pihak keluarga yang mengadakan acara syukuran tersebut dapat mencapai hal-hal yang mereka inginkan sekaligus diberikan keselamatan. 
Kelezatan nasi liwet solo dari Desa Menuran sendiri mulai dikenal di kalangan istana sejak masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwana ke IX (Raja Kasunanan Surakarta yang memerintah pada 1861-1893) atau sekitar abad ke-19. Biasa disajikan pada acara-acara besar di keraton, misalnya saat Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.
Cikal bakal nasi liwet solo ala Desa Menuran pun sudah dimulai pada 1582 M saat Kerajaan Mataram Islam berdiri. Ketika itu, masyarakat Jawa meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW menyukai nasi samin yang salah satu bahannya adalah minyak samin yang terbuat dari lemak susu sapi. Untuk merefleksikan kecintaan dan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, masyarakat Jawa membuat nasi gurih atau sego gurih yang dimasak dengan santan untuk menggantikan minyak samin. Temukan lebih banyak
BUSINES SERVICES AND PROCUREMENT
Sekitar tahun 1934, warga Desa Menuran mulai menjajakan nasi liwet solo ala Menuran di wilayah Solo dan Surakarta sehingga kelezatan nasi liwet solo ini pun semakin menyebar. Tak hanya menjadi makanan sehari-hari di kalangan rakyat biasa, tapi juga menjadi hidangan favorit kaum ningrat Keraton Mangkunegaran dan Kasunanan Surakarta.
Temukan lebih banyak
Musi Rawas
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Tag :
Artikel Terkait
Share:
Nasional
Loading 6 berita Nasional...
RECOMMENDED
Loading 9 berita nasional...
Liga Inggris
Loading 6 berita Liga Inggris HD...
Anda Mungkin Juga Suka
You Might Like

🛒 Shopee Hari Ini

MOST VIEWED BRI SUPER LEAGUE

X
×

Other Latest

Loading...

Daftar Isi

    📧 Dapatkan Berita Terbaru Langsung ke Email!

    Premier League

    Close Ads
    Close Ads

    Serie A

    Archive

    🔥 Flash Sale Shopee Hari Ini

    Dapatkan voucher & gratis ongkir


    Total Pageviews

     

    ×