![]() |
| Universitas Bakrie dan RANEPA Mengembangkan Pertukaran Akademik antara Indonesia dan Rusia |
Sepanjang seminggu itu, rombongan dari Rusia ikut kelas dan jelajah institusi. Mereka gabungkan teori dasar dengan kebijakan nyata serta praktik sehari-hari di pemerintahan. Peserta pelajari fokus utama pembangunan Indonesia. Mulai dari perubahan menuju pemerintahan digital. Ini artinya pakai teknologi untuk bikin layanan lebih cepat dan mudah diakses. Lalu, inovasi dalam kepemimpinan. Contohnya, bagaimana pemimpin dorong tim untuk berpikir kreatif. Sampai pembangunan yang ramah lingkungan. Indonesia dorong ini untuk jaga alam sambil tumbuh ekonomi. Semua topik ini relevan karena Indonesia hadapi tantangan besar seperti urbanisasi cepat dan kebutuhan energi bersih.
Pembukaan program dilakukan oleh Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, H.E. Sergei Gennadievich Tolchenov. Ia beri selamat dan puji inisiatif ini. “Pertukaran seperti ini kuatkan ikatan antar lembaga. Ia juga bantu masyarakat dua negara paham satu sama lain lebih dalam,” katanya. Kata-katanya itu tekankan pentingnya hubungan Rusia-Indonesia. Kedua negara punya sejarah panjang kerjasama, terutama di bidang pendidikan dan ekonomi sejak era pasca-perang dingin.
Baca Juga:
Kios Pupuk di Yogyakarta Menerapkan Harga Eceran Tertinggi yang Baru
Sesi khusus berjudul “Priorities for the Development of Public Administration System in Indonesia” jadi sorotan utama. Di sini, peserta obrolin perubahan birokrasi ke arah digital. Mereka juga sentuh kerjasama lintas negara. “Kerjasama di administrasi publik beri peluang belajar bareng,” ujar salah satu pembicara. Diskusi ini buka mata peserta soal bagaimana Indonesia terapkan teknologi untuk kurangi korupsi. Misalnya, sistem online untuk izin usaha yang potong waktu dari berminggu-minggu jadi hari saja.
Obrolan tentang digitalisasi layanan publik tekankan peran alat tech. Teknologi bantu tingkatkan keterbukaan dan tanggung jawab pemerintah. Peserta lihat contoh nyata seperti aplikasi pemerintah yang pantau anggaran real-time. Ini cegah penyalahgunaan dana. Sesi lain soal pembangunan berkelanjutan dan energi baru tampilkan langkah Indonesia. Negara ini usahakan seimbang antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian alam. Contoh, proyek panel surya di pulau-pulau terpencil untuk kurangi ketergantungan minyak fosil.
Topik-topik lain ikut dibahas. Seperti kepemimpinan yang positif, di mana pemimpin dorong semangat tim dengan teladan baik. Kebijakan untuk generasi muda, termasuk program pelatihan kerja bagi pemuda urban. Plus, penerapan AI di urusan publik. AI bisa analisis data besar untuk prediksi banjir atau rencana kota. Para peserta juga kunjungi tempat-tempat kunci. Di ASEAN Secretariat, mereka lihat bagaimana organisasi regional atur kerjasama ekonomi. Kunjungan ke Jakarta Smart City tunjukkan sensor pintar yang kelola lalu lintas dan limbah. Sementara di MPR RI, mereka amati proses legislatif yang modern dan inklusif.
Penutupan acara digelar di Kampus Bakrie Tower. Wakil Rektor II, M. Tri Andika Kurniawan, sampaikan pesan dari Rektor Prof. Sofia W. Alisjahbana. “Acara ini bukti universitas bisa jadi penghubung kebijakan,” katanya. Pesan itu ingatkan peran kampus dalam dorong dialog antarnegara. Ia tambah bahwa pengalaman ini bisa jadi model untuk program serupa ke depan.
Direktur Russian House di Indonesia, Nikita Shilikov, beri ucapan selamat. Ia dukung kerjasama akademik antara dua institusi. “Indonesia jadi mitra penting bagi jaringan pendidikan Rusia di Asia Pasifik,” ujarnya. Dukungannya ini soroti posisi strategis Indonesia di kawasan.
Baca Juga:
87 Persen dari Lahan Pertanian di Gaza Telah Rusak
Dari Kedutaan Besar Federasi Rusia, Irina Vorobyova nilai program ini unik. Baik dari rencana maupun pelaksanaannya. “Pertukaran ide selama acara kuatkan jaringan akademik dan profesional kedua negara,” katanya. Ia sebut acara ini bantu bangun hubungan yang lebih erat, jawab pertanyaan umum soal manfaat pertukaran budaya.
Nikita Iurchikov dari Perwakilan Dagang Federasi Rusia anggap kegiatan ini strategis. Ia bantu perkuat hubungan bilateral. “Program ini bangun pengertian dan hubungan saling hormat antara Indonesia dan Rusia,” ujarnya. Pandangannya itu tegas, tunjukkan nilai ekonomi di balik kerjasama ini.
Sheburakov Ilia dari RANEPA ungkapkan rasa terima kasih. Ia nilai pengalaman lapangan di Jakarta sangat berguna. “Kami datang dengan satu ide. Pulang bawa dua ide,” katanya. Kata-kata ringan itu gambarkan bagaimana acara ubah perspektif peserta. Mereka dapat wawasan baru dari praktik lokal yang tak didapat di kelas saja.
Secara keseluruhan, program ini wujud nyata diplomasi berbasis pengetahuan. Ia letakkan pendidikan tinggi sebagai jembatan kerjasama strategis antara Indonesia dan Rusia. Lewat kuliah, diskusi, dan kunjungan institusi, Universitas Bakrie dan RANEPA ciptakan forum dialog yang produktif antar bangsa. Inisiatif seperti ini bisa jawab tantangan global, seperti perubahan iklim atau ketimpangan ekonomi, dengan saling belajar. Ia juga buka pintu untuk proyek bersama di masa depan, perkuat ikatan dua negara yang punya potensi besar.
Reaksi :













