![]() |
| Kios Pupuk di Yogyakarta Menerapkan Harga Eceran Tertinggi yang Baru |
Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa kios-kios Pupuk Indonesia di Yogyakarta sudah menerapkan Harga Eceran Tertinggi yang baru. Kebijakan ini menurunkan harga pupuk sebesar 20 persen. Perubahan itu mulai berlaku pada 22 Oktober 2025, berdasarkan keputusan pemerintah pusat. Langkah ini bertujuan meringankan beban petani di tengah tantangan biaya produksi pertanian yang sering naik.
Pupuk subsidi merupakan bantuan utama bagi petani kecil di Indonesia. Harga Eceran Tertinggi, atau HET, adalah batas harga maksimal yang ditetapkan pemerintah untuk memastikan pupuk terjangkau. Sebelumnya, harga pupuk sering melebihi batas ini, sehingga petani kesulitan. Kini, dengan penurunan ini, petani bisa hemat biaya tanam mereka. Di Yogyakarta, daerah penghasil padi utama, kebijakan ini sangat dinanti.
Selama kunjungannya ke Kabupaten Kulon Progo, Zulkifli Hasan memeriksa langsung penerapan harga pupuk bersubsidi di kios petani lokal. Ia tiba di lokasi kios yang ramai. Petani-petani berkumpul di sana, menunggu giliran. Zulkifli didampingi Bupati Kulon Progo Agung Setyawan. Jajaran manajemen Pupuk Indonesia juga ikut serta, siap menjawab pertanyaan. Kunjungan ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memantau kebijakan di lapangan.
Baca Juga:
87 Persen dari Lahan Pertanian di Gaza Telah Rusak
Zulkifli berbicara langsung dengan sejumlah petani yang hadir. Ia bertanya soal harga pupuk Urea subsidi, jenis pupuk yang paling dibutuhkan untuk tanaman padi. Petani-petani itu menjawab dengan jelas. Harga sekarang Rp90.000 per sak. Sebelumnya, harganya Rp112.500 per sak. Penurunan ini terasa nyata bagi mereka. Sak pupuk berukuran 50 kilogram biasanya dipakai untuk lahan seluas satu hektar.
"Harga pupuk sudah turun? Benar sudah turun?" tanya Zulkifli Hasan. Ratusan petani yang hadir menjawab serentak, "Ya, sudah turun!" Suasana menjadi hidup. Petani tampak lega. Mereka cerita bahwa kini biaya tanam lebih ringan. Ini membantu mereka beli benih atau obat tanaman lain tanpa khawatir.
Zulkifli menjelaskan alasan di balik penurunan harga itu. Pupuk Indonesia berhasil tingkatkan efisiensi produksi. Perusahaan ini kelola pabrik pupuk di seluruh negeri. Mereka potong biaya operasional tanpa kurangi kualitas. Hasilnya, biaya produksi turun hingga 20 persen. Efisiensi ini datang dari perbaikan manajemen, seperti hemat energi di pabrik dan rantai pasok yang lebih baik. Langkah sederhana tapi efektif ini berdampak besar pada harga akhir.
Pemerintah tidak berhenti di penurunan harga saja. Mereka juga perbaiki distribusi pupuk bersubsidi. Pupuk harus sampai tepat waktu, terutama sebelum musim tanam. Keterlambatan distribusi sering jadi masalah di masa lalu. Itu bikin petani rugi panen. Sekarang, pemerintah pastikan stok mencukupi. Ketersediaan ini krusial untuk tingkatkan hasil pertanian nasional. Petani bisa tanam lebih luas dan panen lebih banyak.
Zulkifli sebutkan data produksi padi tahun lalu. Saat itu, produksi nasional capai 30 juta ton. Angka itu masih kurang, jadi Indonesia impor beras dari luar negeri. Impor ini mahal dan bergantung cuaca negara lain. Tahun ini, situasi berubah. Produksi naik berkat pupuk yang lebih murah dan distribusi lancar. Indonesia tidak impor beras lagi. Petani bangga dengan kemajuan ini. Mereka rasakan langsung manfaat kebijakan pemerintah.
Selain urusan pupuk, pemerintah ambil langkah lain untuk dukung petani. Mereka naikkan harga gabah menjadi Rp6.500 per kilogram. Gabah adalah hasil panen padi mentah sebelum digiling jadi beras. Kenaikan harga ini tingkatkan pendapatan petani secara langsung. Sebelumnya, harga gabah rendah bikin petani susah bersaing. Kini, nilai tukar petani di berbagai daerah lebih kuat. Mereka bisa jual hasil panen dengan harga adil. Ini dorong lebih banyak petani tanam padi, terutama di daerah seperti Kulon Progo yang jadi lumbung padi.
Baca Juga:
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, ikut bicara saat kunjungan itu. Ia tekankan komitmen perusahaan dukung kebijakan pemerintah. Tujuannya jaga kestabilan harga dan pasokan pupuk. Pupuk Indonesia terapkan digitalisasi untuk percepat proses. Sistem online ini pantau stok di kios dan petani secara real time. Jika ada keluhan, tim langsung tangani. Langkah ini kurangi kebocoran subsidi yang sering terjadi.
"Kabupaten Kulon Progo adalah salah satu lumbung padi di Daerah Istimewa Yogyakarta," kata Rahmad. "Jumlah petani di sini banyak. Mereka sudah nikmati harga pupuk subsidi yang lebih murah." Ia tambahkan bahwa komitmen mereka tegas. "Begitu ada laporan pelanggaran, kami hentikan izin kiosnya saat itu juga." Ini jawab kekhawatiran petani soal penjual nakal yang jual di atas HET. Petani tanya bagaimana lapor pelanggaran. Rahmad jelaskan melalui aplikasi atau hotline resmi.
Rahmad tutup pernyataannya dengan nada yakin. "Pupuk Indonesia siap salurkan pupuk bersubsidi secara optimal. Ini sesuai amanah pemerintah." Ia hubungkan dengan visi besar. "Kami dukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya capai swasembada pangan nasional." Swasembada berarti Indonesia produksi makanan sendiri tanpa bergantung impor. Kunjungan ini jadi contoh bagaimana kebijakan pusat diterapkan di daerah. Petani pulang dengan harapan baru. Mereka siap tanam musim depan dengan biaya lebih rendah dan hasil lebih baik.
Berikut adalah Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi terbaru yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) Nomor 1117/Kpts./SR.310/M/10/2025 mengenai Perubahan Atas Keputusan Menteri Pertanian Nomor 800/KPTS./SR.310/M/09/2025 tentang Jenis, Harga Eceran Tertinggi, dan Alokasi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian untuk Tahun Anggaran 2025:
* Pupuk NPK : Rp1.840/kg atau Rp92.000 per sak kemasan 50 kg
* Pupuk NPK untuk Kakao : Rp2.640/kg atau Rp132.000 per sak kemasan 50 kg
* Pupuk ZA : Rp1.360/kg atau Rp68.000 per sak kemasan 50 kg
* Pupuk Organik : Rp640/kg atau Rp25.600 per sak kemasan 40 kg














