![]() |
| ASAL USUL SILAMPARI |
Indonesia, Kabupaten Musi Rawas dan kota Lubuklinggau punya julukan khusus. Mereka dikenal sebagai kota SILAMPARI. Kata ini berasal dari dua suku kata sederhana. Silam berarti hilang atau sirna. Pari artinya peri atau putri. Legenda ini jadi bagian penting dari budaya setempat. Ia ceritakan kisah mistis yang penuh makna. Dua versi cerita jelaskan asal usul nama itu. Kedua versi ini saling melengkapi. Mereka tunjukkan bagaimana putri-putri hilang dari dunia manusia.
Mari kita bahas cerita pertama. Zaman dulu, saat musim kemarau panjang melanda. Hanya satu telaga yang masih punya air segar. Tujuh bidadari turun dari kayangan. Mereka ingin mandi di telaga itu. Kayangan adalah kerajaan dewa di langit. Bidadari-bidadari ini cantik dan lincah. Tapi nasib malang datang untuk yang bungsu. Selendang ajaib miliknya hilang. Seorang pemburu ambil selendang itu. Tanpa selendang, bidadari bungsu tak bisa pulang ke langit. Ia terjebak di bumi.
Pemburu itu bernama Bujang Penulup. Namanya punya arti jelas. Ia buru binatang pakai tulup atau sumpit. Alat itu seperti tiup panah kecil. Bidadari bungsu disebut Sringga Pisat. Ia cantik dan lembut. Suatu hari, Sringga Pisat cari-cari selendangnya. Akhirnya ia temukan tempat persembunyian Bujang Penulup. Ia ambil selendang itu kembali. Lalu ia siap pulang ke langit. Tubuhnya mulai menghilang perlahan. Bujang Penulup lihat kejadian itu. Ia terkejut dan berseru. "SILAMPARI!" Artinya putri hilang. Kata itu lahir dari momen sedih itu. Putri angkat kakinya berangsur-angsur lenyap dari pandangan.
Baca Juga:
Universitas Bakrie dan RANEPA Mengembangkan Pertukaran Akademik antara Indonesia dan Rusia
Sekarang, kita lihat cerita kedua. Ini kisah tentang raja hebat. Namanya Raja Biku 8 Dewa. Ia punya permaisuri cantik bernama Putri Ayu Selendang Kuning. Raja ini terkenal sakti. Tak ada yang bisa lawan. Ia pandai terbang bebas di udara. Ilmu 8 Dewa miliknya luar biasa. Ada dewa api yang bakar musuh. Dewa matahari beri cahaya hangat. Dewa udara kendalikan angin kencang. Dewa angin bawa badai jika perlu. Dewa air ciptakan hujan deras. Ilmu-ilmu itu buat raja tak terkalahkan.
Sudah sepuluh tahun mereka berumah tangga. Tapi raja belum punya anak. Ia sadar kelemahan itu. Akhirnya, dewa mantra sakti turun dari langit. Dewa itu datang ke puncak Bukit Rimbo Tenang. Tujuannya bantu Raja Biku. Sang raja disuruh bertapa. Ia semedi dalam hening. Tujuannya dapat kembang tanjung. Bunga itu punya enam kelopak. Raja kirim sukma ajaibnya saja. Sukma itu seperti roh yang pergi sendiri. Bunga tanjung jadi ramuan mandi istimewa. Campur dengan daun pandan wangi. Tambah daun purut segar. Plus akar wangi alami. Semua direndam bersama. Airnya dipakai mandi. Sisanya diminum oleh putri.
Baca Juga:
Kios Pupuk di Yogyakarta Menerapkan Harga Eceran Tertinggi yang Baru
Putri Ayu Selendang Kuning ikuti cara itu. Ia mandi dan minum ramuannya. Tubuhnya mulai berubah. Ia hamil enam kali. Setiap kehamilan normal dan sehat. Hasilnya, lahir enam anak. Satu laki-laki dan lima perempuan. Nama anak pertama Budur, putra mahkota. Lalu Dayang Tare, yang ceria. Dayang Deruja, penuh semangat. Dayang Deruji, lembut hati. Dayang Ayu, cantik bak bunga. Terakhir Dayang Ireng Manis, manis dan hitam legam. Jumlah anak ini pas dengan kelopak bunga. Enam kelopak beri enam nyawa baru.
Tapi ada perjanjian ketat. Semua harus kembali seperti semula. Kata SILAM artinya hilang total. Waktu itu tiba. Yang pertama hilang adalah Dayang Tare. Ia adu ke dewa soal penderitaan di dunia. Ia lenyap di Rimbo Tenang. Tempat itu hutan sunyi penuh misteri. Selanjutnya, Dayang Deruja hilang di Rejang Rebo. Tanda kepergiannya pohon ketapang kuning. Pohon itu berdiri tegak sebagai saksi. Kemudian Dayang Ayu pergi. Bersama Dayang Ireng Manis dan Dayang Deruji. Mereka hilang di Bukit Ayu. Tempat itu bukit indah nan hijau. Ibu mereka, Putri Ayu Selendang Kuning, ikut lenyap di sana.
Raja Biku sendiri hilang di Laut Cina. Budur, putra kesayangannya, lenyap di Ulak Lebar. Sungai lebar itu jadi saksi akhir. Putra-putri raja hilang satu per satu. Masyarakat saksikan kejadian aneh itu. Mereka berseru bersama. "SILAMPARI!" Artinya putri-putri yang hilang. Kata itu jadi simbol daerah. Ia ingatkan kisah kehilangan abadi. Legenda ini wariskan nilai budaya. Ia ajar soal siklus hidup dan misteri alam. Hingga kini, nama SILAMPARI bangun identitas Musi Rawas dan Lubuklinggau.
Reaksi :













