![]() |
| 87 Persen dari Lahan Pertanian di Gaza Telah Rusak |
Menurut Yaff News pada Sabtu, 1 November 2025, temuan analisis itu mengungkap kerusakan luas. Lahan pertanian utama hancur. Rumah kaca, yang melindungi tanaman dari panas dan hama, juga porak-poranda. Sumur irigasi, sumber air penting untuk menyirami tanaman, ikut rusak. Infrastruktur lain seperti gudang penyimpanan biji atau alat panen turut terdampak. Semua ini mengganggu produksi pangan sehari-hari. Masyarakat Gaza bergantung pada pertanian untuk makanan dan pendapatan. Tanpa lahan yang sehat, keluarga kesulitan memberi makan anak-anak mereka.
Baca Juga:
Setelah mengalahkan PSBS dengan skor 3-1, Mauricio menilai bahwa timnya sangat luar biasa
Setelah gencatan senjata, situasi membaik sedikit. Sekitar 37 persen lahan rusak bisa direhabilitasi sekarang. Itu berarti petani bisa membersihkan puing dan menanam lagi. Selain itu, 600 hektare lahan masih utuh. Area ini siap digunakan untuk memulai produksi pangan baru. Petani bisa menanam sayur atau gandum di sana tanpa biaya besar. Ini menjadi harapan bagi pemulihan cepat.
Kondisi sumur irigasi justru memburuk. Pada April, 83 persen sumur rusak. Sampai akhir September, angkanya naik ke hampir 87 persen. Air sulit mengalir ke ladang. Tanaman layu karena kekeringan. Ternak juga terdampak karena air minum berkurang. Produktivitas turun tajam. Petani kehilangan panen berulang kali.
FAO menyoroti urgensi rehabilitasi. Mereka ingin pulihkan produksi pangan secepatnya. Organisasi ini siap ikut dalam program besar. Bukan hanya soal pertanian, tapi juga melibatkan kesehatan, air bersih, dan pendidikan. Semua sektor harus bekerja sama untuk bantu Gaza.
FAO ajukan dana darurat 75 juta dolar AS, setara Rp1,2 triliun, untuk 2025. Tapi sampai sekarang, hanya 10 persen yang masuk. Uang itu kurang untuk beli benih atau perbaiki sumur. Pemulihan lahan jadi lambat. Petani menunggu bantuan yang tak kunjung datang.
Baca Juga:
Indonesia dan Korea sepakat untuk memperkuat kerja sama di sektor strategi
Gencatan senjata buka pintu bagi pemerintah setempat. Mereka bisa mulai bersihkan lahan sekarang. Area utuh itu jadi fondasi utama. Dari sana, produksi pangan bisa bangkit lagi. Petani Gaza butuh alat sederhana seperti traktor kecil atau pipa irigasi untuk memulai.
Rehabilitasi ini krusial untuk ketahanan pangan di Gaza. Jutaan warga bergantung pada tanaman lokal seperti tomat atau zaitun. Tanpa itu, risiko kelaparan naik. PBB tekankan perlunya bantuan dunia. Dukungan internasional harus datang cepat. Negara-negara kaya bisa kirim dana atau ahli pertanian.
Pemulihan infrastruktur juga dorong ekonomi lokal. Petani bisa jual hasil panen ke pasar. Keluarga dapatkan pendapatan stabil. Upaya ini butuh koordinasi ketat. FAO harap bantuan global bertambah. Sektor pertanian Gaza harus diselamatkan segera. Kalau tidak, dampaknya meluas ke seluruh wilayah. Petani Gaza tunjukkan ketangguhan mereka. Dengan dukungan tepat, lahan bisa hijau lagi.
Baca Juga:














