
Indonesia, Densus 88 Polri baru saja ungkap kasus serius. Sebanyak 70 anak terpapar ekstremisme lewat komunitas daring penuh kekerasan. Anak dari keluarga bermasalah paling rentan kena pengaruh ini.
Juru bicara Densus 88, Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana, bicara tegas soal ini. Ia muncul di Pro 3 RRI pada Sabtu, 10 Januari 2026. "Komunitas ini sudah lama tenar di luar negeri," katanya. "Mereka menyebar lewat jaringan online yang cepat."
Mayndra jelaskan akar masalahnya. Sejak pandemi, anak-anak akrab sekali dengan gawai. Sekolah daring bikin mereka pegang ponsel atau tablet tiap hari. "Tren kekerasan di dunia maya melonjak setelah itu," ujarnya. "Anak saling dorong lewat cerita dan video berdarah."
Tim Densus temukan pola jelas. Mayoritas anak korban datang dari rumah tangga rusak. Beberapa orang tua mereka cerai. Ada pula yang tumbuh di lingkungan penuh kekerasan rumah tangga. Kondisi ini picu anak cari tempat lain. Mereka gabung komunitas ekstrem untuk dapat pengakuan. Di sana, mereka rasakan rasa punya teman.
Masalah lain datang dari bullying di sekolah. Anak sering jadi korban ejekan teman. Hal ini nyalakan api dendam dalam hati mereka. Dendam itu bisa meledak jadi tindak kekerasan nyata.
Mayndra soroti tipe anak tertentu. Anak introvert paling susah dideteksi. Mereka diam saja di sekitar keluarga atau teman. Tapi di balik layar, mereka rencanakan hal buruk. "Lihat kasus di SMA Negeri 72," katanya. "Pelakunya anak pendiam. Lingkungan tak curiga apa-apa sampai kejadian."
Densus tak diam saja. Mereka kerja sama dengan lembaga lain. Langkah utama adalah pencegahan. Konseling jadi senjata ampuh. Pendampingan intensif juga diberikan. Orang tua punya peran besar. Mereka harus awasi anak dekat. Cegah anak larut dalam konten kekerasan daring.
Kasus ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Densus 88 ungkap 70 anak gabung komunitas true crime. True crime adalah kelompok yang bahas kejahatan sungguhan, sering campur kekerasan grafis. Anak-anak itu tersebar di 19 provinsi Indonesia. Pulau Jawa jadi pusat terbesar.
Usia mereka luas, dari 11 sampai 18 tahun. Paling banyak di usia 15 tahun. Sebanyak 67 anak sudah dapat intervensi. Mereka dibantu Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT. Plus, pihak terkait lain ikut tangani.
Fenomena ini tunjukkan bahaya dunia maya bagi anak. Komunitas seperti ini janjikan rasa aman palsu. Tapi ujungnya, mereka ajak anak tiru kekerasan. Pandemi tingkatkan risiko karena gawai jadi teman utama.
Orang tua perlu waspada. Cek riwayat browsing anak. Ajak bicara terbuka soal isi daring. Sekolah juga bisa deteksi tanda awal. Seperti anak yang tiba-tiba murung atau suka bahas topik gelap.
Densus 88 tekankan pencegahan lebih baik daripada tangani setelah kejadian. Data 70 anak ini jadi alarm keras. Indonesia punya banyak anak usia rawan. Tanpa langkah cepat, kasus bisa bertambah.
BACA JUGA:MBG : Wakil Menteri Kesehatan Mengawasi Secara Ketat Program MBG
Mayndra ingatkan semua pihak. Keluarga harmonis bisa jadi benteng kuat. Hindari perceraian kasar yang lukai anak. Stop kekerasan rumah tangga. Kurangi bullying di sekolah dengan aturan tegas.
Komunitas daring ekstrem ini mirip virus. Mereka pakai media sosial populer. Video pendek atau forum gelap jadi alatnya. Anak mudah tergoda karena algoritma suka tampilkan konten serupa.
Dengan intervensi dini, 67 anak itu sudah selamat. Mereka dapat bimbingan psikolog. Belajar bedakan baik dan buruk. Kini, Densus pantau ketat jejaring online. Kolaborasi dengan platform digital juga jalan.
Kasus SMA Negeri 72 jadi pelajaran pahit. Pelaku introvert itu bertindak tiba-tiba. Teman tak tahu riwayat daringnya. Ini bukti deteksi butuh mata teliti dari orang dekat.
Pemerintah dorong kampanye nasional. BNPT sebarkan materi cegah radikalisasi anak. Densus 88 siap bantu. Harapannya, angka korban turun drastis tahun ini. (Red)
Dengarkan
Berita dan Artikel lainnya di :













