
Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, sambut kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri Republik Italia, Maria Tripodi. Pertemuan ini jadi ajang bahas penguatan kemitraan strategis dua negara. Fokus utama ada di sektor perdagangan dan investasi. Keduanya ingin dorong hubungan lebih erat.
Data perdagangan bilateral tunjukkan angka bagus. Pada 2024, nilai capai USD 3,9 miliar. Itu naik stabil dari tahun sebelumnya. Lalu, dari Januari sampai September 2025, perdagangan tetap tumbuh. Nilainya sentuh USD 3,289 miliar. Tren positif ini beri harapan besar untuk masa depan.
Airlangga Hartarto beri apresiasi atas kemajuan itu. "Saya ingin sampaikan apresiasi atas perkembangan perdagangan bilateral kedua negara," katanya. Dia sebut potensi besar di berbagai sektor. Capaian kerja sama sudah terlihat di industri, energi, pertahanan, teknologi, dan ketahanan maritim. Semua bidang ini punya peluang kerja sama lebih dalam. Misalnya, industri bisa saling tukar teknologi. Energi bisa dukung proyek hijau bersama.
Ucapan ini dia sampaikan Sabtu, 10 Januari 2026. Keterangan itu ambil dari sumber resmi. Airlangga lihat ini sebagai fondasi kuat. Hubungan dua negara sudah panjang. Sekarang waktunya panen hasil nyata.
Maria Tripodi puji posisi Indonesia di Asia Tenggara. Indonesia punya stabilitas politik mantap. Itu jadi daya tarik utama. Hubungan diplomatik kedua negara sudah 77 tahun. Mereka ingin tingkatkan lagi. Tujuannya beri manfaat langsung bagi rakyat dua pihak.
"Indonesia adalah partner ekonomi dan perdagangan penting bagi Italia," ujar Tripodi. Dia tekankan perjanjian kemitraan Indonesia-Uni Eropa. Namanya IEU CEPA, atau Comprehensive Economic Partnership Agreement. Ini kesepakatan dagang komprehensif. Bisa buka pintu baru. Peluang dagang bakal melonjak. Bagi Italia dan Indonesia, ini janji manis.
IEU CEPA penting karena gabungkan pasar besar. Indonesia punya sumber daya alam melimpah. Italia kuat di manufaktur dan desain. Perundingan ini sudah jalan lama. Sekarang butuh dorongan akhir.
Italia tawarkan bantuan teknologi tinggi. Beberapa perusahaan spesialis ikut andil. Contohnya e-GEOS di bidang aerospasial. Perusahaan ini bisa bantu awasi perairan Indonesia. Targetnya cegah perikanan ilegal. Praktik itu rugikan nelayan lokal. e-GEOS pakai satelit canggih. Data gambar bisa pantau kapal curang real time.
Selain itu, Italia usul dua pelabuhan besar. Trieste dan Genoa siap jadi jalur utama. Indonesia bisa tingkatkan ekspor ke Uni Eropa. Ini pas saat rantai pasok global rusak. Banyak gangguan karena konflik dan pandemi. Pelabuhan ini dekat pusat Eropa. Kirim barang lebih cepat, biaya rendah.
Airlangga harap Italia dukung IEU CEPA. Proses internal Uni Eropa butuh kesepakatan semua anggota. Italia bisa pimpin dorongan itu. Demi kepentingan pengusaha kedua negara. "Kami harap dukungan Italia dalam penyelesaian proses internal di Uni Eropa," tegas Airlangga.
Selain CEPA, bahas potensi lain. Airlangga papar soal industri mineral. Stainless steel dan tembaga jadi sorotan. Bisa produksi kabel berkualitas tinggi. Indonesia punya tambang besar. Italia ahli olah bahan jadi barang premium.
Lalu, aspirasi mobil nasional Indonesia. Italia unggul di otomotif. Bisa kolaborasi desain dan produksi. Industri pakaian juga dibahas. Italia terkenal fesyen mewah. Indonesia punya tenaga kerja murah. Kerja sama bisa ciptakan produk kompetitif.
Tripodi tanggapi positif. Italia siap bantu langsung. Juga lewat skema Uni Eropa. Dukungan ini konfirmasi komitmen panjang.
Pertemuan ini tunjukkan komitmen kedua negara. Dagang bilateral sudah kuat. Potensi sektor prioritas besar sekali. Dengan IEU CEPA, semuanya bakal lancar. Teknologi Italia tambah nilai tambah. Indonesia bisa jaga kedaulatan maritim. Pelabuhan Eropa percepat alur barang.
Pembaca mungkin tanya, kenapa ini penting sekarang? Tahun 2026, ekonomi global pulih pelan. Fragmentasi rantai pasok masih ada. Indonesia butuh mitra stabil seperti Italia. Data 2025 sudah bukti tren naik. Kalau CEPA selesai, ekspor Indonesia ke Eropa bisa dobel.
Hubungan 77 tahun ini fondasi teguh. Stabilitas politik Indonesia tarik investor. Italia lihat peluang pasar baru. Kerja sama ini win-win. Sektor energi bisa dukung transisi hijau. Pertahanan perkuat posisi regional. Teknologi bantu modernisasi.
Secara keseluruhan, pertemuan beri sinyal positif. Kedua pemimpin sepakat lanjutkan momentum. Pengusaha kedua negara pasti senang. Potensi tak terbatas menanti realisasi. (Red)
Dengarkan
Berita dan Artikel lainnya di :













