Selamat Datang dan Bergabung Bersama Perssilam Silampari News teknologi app iconDownload App Perssilam Silampari News: Search results for uranium
×
    Advertising
    ☰ Menu
W3.CSS
Dark Mode

Pages

Memuat berita...
Showing posts sorted by relevance for query uranium. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query uranium. Sort by date Show all posts

Wednesday, 27 May 2026

Negosiasi antara AS dan Iran menunjukkan perkembangan, namun Selat Hormuz dan isu uranium tetap menjadi kendala Iran


Indonesia, Perssilam - Amerika Serikat dan Iran mulai menunjukkan kemajuan dalam pembicaraan damai untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Kedua negara berupaya mencari jalan keluar dari ketegangan panjang. Namun, dua masalah besar masih menghambat kesepakatan. Masalah itu adalah jumlah stok uranium Iran yang diperkaya dan kontrol atas Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyebut ada tanda-tanda positif menuju perdamaian. 
Advertising

BACA JUGA:
Jemaah Haji Melaksanakan Wukuf di Padang Arafah
Rubio memberi peringatan keras soal Selat Hormuz. Dia mengatakan kesepakatan sulit tercapai jika Iran ingin menguasai jalur laut itu secara permanen. Berdasarkan laporan CNBC pada Rabu, 27 Mei 2026, Rubio menegaskan bahwa sistem pungutan biaya di Selat Hormuz tidak bisa diterima dunia. Selat Hormuz adalah jalur vital untuk pengiriman minyak dunia. Jika Iran mengenakan biaya lewat, ekonomi global bisa terganggu. Pemerintah AS sudah menyiapkan opsi lain jika jalur diplomasi ini gagal.
Di sisi lain, Iran merasa proposal baru dari Washington sudah mengurangi perbedaan pendapat. Teheran sedang mempelajari tawaran AS. Usulan ini dibandingkan dengan kerangka 14 poin yang dibuat Iran sebelumnya. Kantor berita ISNA melaporkan bahwa kemajuan hanya bisa terjadi jika AS berhenti mengancam akan berperang. Meski ada dialog, proses negosiasi terasa lambat dalam beberapa minggu terakhir.
Advertising

BACA JUGA: 
Kemenkomdigi Memproyeksikan Internet Rakyat 100 Mbps untuk Mengatasi Kesenjangan Digital
Kondisi di lapangan saat ini sangat tegang. AS dan Iran berada dalam gencatan senjata yang rapuh. Iran melakukan blokade di Selat Hormuz untuk menghentikan kapal tertentu. Sebagai balasan, AS memblokade pelabuhan-pelabuhan utama di Iran. Presiden Donald Trump dengan tegas menolak sistem pembayaran untuk kapal yang melintas di Selat Hormuz. Trump menganggap jalur itu adalah perairan internasional. Oleh karena itu, semua kapal harus bisa lewat dengan bebas tanpa bayar pajak kepada Iran.
Masalah nuklir juga menjadi batu sandungan utama. Washington sangat khawatir dengan stok uranium Iran yang diperkaya. Uranium dengan tingkat pengayaan tinggi bisa digunakan untuk membuat senjata nuklir. AS mendesak Iran untuk menyerahkan stok tersebut agar dunia lebih aman.
Advertising

BACA JUGA: 
Pesan Berharga Hamilton Ketika Schumacher Menerima Penghargaan
Iran menolak mentah-mentah tuntutan itu. Teheran bersikeras bahwa program nuklir mereka hanya untuk tujuan damai, seperti energi dan medis. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, sudah mengeluarkan larangan tegas. Dia melarang pengiriman uranium yang mendekati tingkat senjata ke luar negeri. Hal ini membuat diskusi soal pengawasan nuklir menjadi jalan buntu.
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait
Share:

Thursday, 5 February 2026

Bisnis : Rupiah Semakin Melemah Akibat Tekanan Dolar AS


Indonesia, Perssilam - Nilai tukar rupiah terus tertekan kuat oleh dolar AS yang menguat sepanjang hari Kamis ini. Data dari Bloomberg tunjukkan rupiah tutup lebih lemah 0,39 persen. Itu sama dengan 65 poin. Akhirnya jadi Rp16.842 per dolar AS. Dolar AS naik gara-gara sentimen pasar di Amerika Serikat. Pasar mata uang global pantau ketat prospek negosiasi baru antara AS dan Iran. Banyak pihak prediksi negosiasi ini bakal gagal total. Para pejabat AS dan Iran bilang pertemuan tetap jalan Jumat, 6 Februari 2026. Tapi kedua pihak belum sebut topik apa saja yang dibahas. Begitu kata Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi pada Kamis, 5 Februari 2026.
Temukan lebih banyak
Bisnis
Advertising
BACA JUGA:BRI Super League : Pena berharap agar Persita dapat memperbaiki catatan kemenangan mereka di kandang
Iran siap bicara soal program nuklir dan pengayaan uranium mereka. AS ingin bahas juga rudal balistik Iran. Plus dukungan Iran ke kelompok proxy bersenjata di Timur Tengah. Kelompok proxy ini seperti milisi yang dibantu Iran untuk operasi di kawasan itu.
Advertising

Pasar khawatir Presiden Trump jalankan ancaman serang Iran. Konfrontasi begitu bisa ganggu produksi minyak Iran. Pasokan minyak global ikut terganggu. Harga minyak naik tajam. Itu tekan ekonomi dunia lebih dalam, tambah Ibrahim. Di sisi lain, pembicaraan Trump dengan Xi Jinping redakan ketegangan AS-China. Dua negara besar ini kurangi gesekan dagang. Trump bilang dia kunjungi China bulan April 2026. Mereka rencana bahas banyak isu penting.
Pelaku pasar juga was-was sikap Federal Reserve atau the Fed. Di bawah Kevin Warsh, the Fed cenderung ketat atau hawkish. Artinya mereka enggan potong suku bunga. Pasar turunkan harapan pemangkasan suku bunga. Itu setelah penunjukan Warsh. Suku bunga the Fed tetap stabil di Januari 2026.
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik atau BPS rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia. Data untuk triwulan IV 2025 dan seluruh tahun 2025. Angka ini tak ubah sentimen pasar. Rupiah tetap lemah lawan dolar AS.
BPS catat pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 capai 5,11 persen. Untuk triwulan IV 2025, angkanya 5,39 persen. Ini pertumbuhan triwulan IV tertinggi sejak pandemi Covid-19 berlalu. BPS catat pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 capai 5,11 persen. Untuk triwulan IV 2025, angkanya 5,39 persen. Ini pertumbuhan triwulan IV tertinggi sejak pandemi Covid-19 berlalu.
Temukan lebih banyak
Penopang utama ekonomi tahun 2025 tetap konsumsi rumah tangga. Rumah tangga belanja lebih banyak untuk kebutuhan sehari-hari. Investasi juga dorong kuat. Perusahaan bangun pabrik dan infrastruktur baru Data BPS ini beri harapan pemulihan ekonomi Indonesia. Tapi faktor global seperti dolar kuat dan ketegangan geopolitik lebih dominan. Pasar mata uang abaikan sinyal positif domestik untuk sekarang. Rupiah butuh katalis baru agar pulih. 
Temukan lebih banyak
Musi Rawas
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Tag :
Artikel Terkait
Share:
Nasional
Loading 6 berita Nasional...
RECOMMENDED
Loading 9 berita nasional...
Liga Inggris
Loading 6 berita Liga Inggris HD...
Anda Mungkin Juga Suka
You Might Like

🛒 Shopee Hari Ini

MOST VIEWED BRI SUPER LEAGUE

X
×

Other Latest

Loading...

Daftar Isi

    📧 Dapatkan Berita Terbaru Langsung ke Email!

    Premier League

    Close Ads
    Close Ads

    Serie A

    Archive

    🔥 Flash Sale Shopee Hari Ini

    Dapatkan voucher & gratis ongkir


    Total Pageviews

     

    ×