
Indonesia, Perssilam - Amerika Serikat dan Iran mulai menunjukkan kemajuan dalam pembicaraan damai untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Kedua negara berupaya mencari jalan keluar dari ketegangan panjang. Namun, dua masalah besar masih menghambat kesepakatan. Masalah itu adalah jumlah stok uranium Iran yang diperkaya dan kontrol atas Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyebut ada tanda-tanda positif menuju perdamaian.
Advertising
Rubio memberi peringatan keras soal Selat Hormuz. Dia mengatakan kesepakatan sulit tercapai jika Iran ingin menguasai jalur laut itu secara permanen. Berdasarkan laporan CNBC pada Rabu, 27 Mei 2026, Rubio menegaskan bahwa sistem pungutan biaya di Selat Hormuz tidak bisa diterima dunia. Selat Hormuz adalah jalur vital untuk pengiriman minyak dunia. Jika Iran mengenakan biaya lewat, ekonomi global bisa terganggu. Pemerintah AS sudah menyiapkan opsi lain jika jalur diplomasi ini gagal.
BACA JUGA: Kemenkomdigi Memproyeksikan Internet Rakyat 100 Mbps untuk Mengatasi Kesenjangan Digital
BACA JUGA: Pesan Berharga Hamilton Ketika Schumacher Menerima Penghargaan
Di sisi lain, Iran merasa proposal baru dari Washington sudah mengurangi perbedaan pendapat. Teheran sedang mempelajari tawaran AS. Usulan ini dibandingkan dengan kerangka 14 poin yang dibuat Iran sebelumnya. Kantor berita ISNA melaporkan bahwa kemajuan hanya bisa terjadi jika AS berhenti mengancam akan berperang. Meski ada dialog, proses negosiasi terasa lambat dalam beberapa minggu terakhir.
Advertising
Kondisi di lapangan saat ini sangat tegang. AS dan Iran berada dalam gencatan senjata yang rapuh. Iran melakukan blokade di Selat Hormuz untuk menghentikan kapal tertentu. Sebagai balasan, AS memblokade pelabuhan-pelabuhan utama di Iran. Presiden Donald Trump dengan tegas menolak sistem pembayaran untuk kapal yang melintas di Selat Hormuz. Trump menganggap jalur itu adalah perairan internasional. Oleh karena itu, semua kapal harus bisa lewat dengan bebas tanpa bayar pajak kepada Iran.
Masalah nuklir juga menjadi batu sandungan utama. Washington sangat khawatir dengan stok uranium Iran yang diperkaya. Uranium dengan tingkat pengayaan tinggi bisa digunakan untuk membuat senjata nuklir. AS mendesak Iran untuk menyerahkan stok tersebut agar dunia lebih aman.
Advertising
Iran menolak mentah-mentah tuntutan itu. Teheran bersikeras bahwa program nuklir mereka hanya untuk tujuan damai, seperti energi dan medis. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, sudah mengeluarkan larangan tegas. Dia melarang pengiriman uranium yang mendekati tingkat senjata ke luar negeri. Hal ini membuat diskusi soal pengawasan nuklir menjadi jalan buntu.

(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait










