Selamat Datang dan Bergabung Bersama Perssilam Silampari News teknologi app iconDownload App Perssilam Silampari News: Search results for industri sawit
×
    Advertising
    ☰ Menu
W3.CSS
Dark Mode

Pages

Memuat berita...
Showing posts sorted by relevance for query industri sawit. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query industri sawit. Sort by date Show all posts

Thursday, 4 June 2026

Kementerian Perindustrian Mengembangkan Teknologi SPPOT untuk Mengurangi Emisi dari Sawit


Indonesia, Perssilam - Industri kelapa sawit Indonesia sedang mengarah pada perubahan besar dalam cara mengolah buah sawit. Fokus utamanya adalah menghilangkan uap air dan limbah cair dalam proses produksi. Teknologi baru ini disebut Steamless POME-less Palm Oil Technology atau SPPOT. Intinya, SPPOT adalah proses kering yang tidak menghasilkan limbah cair. Hal ini sangat penting untuk menurunkan emisi karbon di sektor hulu sawit. Kabar ini muncul dalam laporan Investor Daily. Sistem proses kering untuk Tandan Buah Segar (TBS) ini sangat cocok bagi petani sawit rakyat. Pemerintah sedang serius mengembangkan teknologi ini karena ukurannya kecil. Kapasitas produksinya modular, mulai dari 5 sampai 10 ton per jam. Ukuran kecil ini memudahkan pemasangan di lahan yang luas.
Advertising

BACA JUGA:
Ederson mengungkapkan pesan yang misterius setelah terjadinya kesepakatan antara Atalanta dan Manchester United
Posma Sinurat dari P3PI menjelaskan bahwa ide inovasi ini sudah ada sejak tiga atau empat tahun lalu. Para pemilik kebun rakyat sudah lama menunggu alat ini. Kebun rakyat biasanya tersebar di banyak titik dan tidak terpusat. Posma mengatakan hal ini saat konferensi pers 4th TPOMI 2026 di Jakarta pada Selasa, 2 Juni 2026. Menurutnya, teknologi kering ini solusi tepat bagi masyarakat dengan lokasi kebun yang terpencar. Jika melihat cara lama, pabrik sawit memakai teknologi basah. Proses ini menghasilkan limbah cair yang disebut Palm Oil Mill Effluent atau POME. POME harus ditampung di kolam besar dan melepaskan gas rumah kaca. SPPOT bekerja berbeda karena tidak membuat POME sama sekali. 
Hasilnya, emisi karbon berkurang drastis. Posma menyebut sekitar 75 persen emisi berasal dari kolam limbah tersebut. Tanpa kolam, polusi udara jadi jauh lebih rendah. Banyak pengusaha sawit sudah mulai bertanya tentang cara memakai sistem ini. Namun, SPPOT masih dalam tahap riset laboratorium dan persiapan uji coba. Posma menyarankan para pelaku usaha untuk bersabar. Mereka perlu menunggu aturan resmi dari pemerintah dan kesiapan teknis alat tersebut agar tidak salah langkah. Gapki juga memberikan perhatian pada rencana ini. Mereka mengingatkan bahwa biaya teknologi ini cukup mahal. Gapki menekankan pentingnya membenahi pasokan bahan baku sebelum alat ini dipakai massal. 
Advertising

BACA JUGA: 
Rupiah mengalami pelemahan hingga mencapai level Rp 17.967 per Dolar AS
Ketua Bidang Perkebunan Gapki, R Azis Hidayat, khawatir biaya besar terbuang jika buah sawit yang masuk ke pabrik tidak cukup. Untuk mencegah masalah itu, Gapki memberi tiga saran. Pertama, pemerintah harus membuat Peta Jalan PKS Nasional. Tujuannya agar jumlah pabrik tidak terlalu banyak dan tidak saling berebut buah. Jarak antara kebun petani dan pabrik juga harus dijaga maksimal 50 kilometer agar biaya angkut murah. Kedua, program Peremajaan Sawit Rakyat atau PSR harus dipercepat. Saat ini, realisasi PSR baru mencapai sepertujuh dari target awal. Gapki juga membentuk konsorsium untuk membawa bibit unggul dan serangga penyerbuk dari Afrika guna meningkatkan hasil panen. Ketiga, masalah hukum lahan sawit di kawasan hutan harus segera selesai. Aturan kemitraan bahan baku juga perlu diperkuat. Hal ini mendesak karena sertifikasi ISPO akan jadi syarat wajib bagi produk hilir pada tahun 2027.
Kementerian Perindustrian kini sedang mematangkan pengembangan SPPOT. Detail teknologi ini akan dibahas dalam acara Technology and Talent Palm Oil Mill Indonesia atau TPOMI 2026 di Medan pada 8 sampai 10 Juli 2026. Posma Sinurat selaku ketua panitia menyebut perpindahan dari proses basah ke kering adalah kunci dekarbonisasi. Langkah ini juga akan membantu menciptakan produk sawit dengan nilai jual lebih tinggi.
Advertising

BACA JUGA: 
Korlantas Polri Mengembangkan ETLE dengan Teknologi Pengenalan Wajah yang Terintegrasi dengan Dukcapil
Selain soal proses kering, TPOMI 2026 akan membahas peran kecerdasan buatan atau AI dan Internet of Things atau IoT. IoT dipakai untuk memantau suhu dan kondisi mesin secara langsung. AI digunakan untuk menebak kapan mesin rusak dan mencegah minyak terbuang sia-sia saat proses produksi. Pembaruan teknologi ini harus dibarengi dengan peningkatan skill pekerja pabrik. Sebagai bentuk penghargaan, TPOMI 2026 akan memberikan Medbun Award. Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan yang paling produktif dan menjaga kelestarian lingkungan.
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait
Share:

Thursday, 30 April 2026

Presiden Prabowo Melakukan Peletakan Batu Pertama untuk 13 Proyek Hilirisasi, Berikut Daftarnya


Indonesia, Perssilam - Presiden Prabowo Subianto resmikan peletakan batu pertama untuk 13 proyek hilirisasi nasional fase kedua. Total nilainya capai Rp116 triliun. Langkah ini jadi bagian utama strategi pemerintah. Tujuannya perkuat kemandirian ekonomi lewat industrialisasi. Acara itu berlangsung di Cilacap, Jawa Tengah. Tepatnya Rabu, 29 April 2026. Presiden sampaikan pidato penuh semangat. "Groundbreaking hilirisasi tahap ke-2 ini libatkan 13 proyek strategis," katanya. "Nilainya sekitar Rp116 triliun. Ada 5 proyek di sektor energi. Lalu 5 proyek di sektor mineral. Sisanya 3 proyek di sektor pertanian."
Hilirisasi artinya proses olah sumber daya alam jadi produk bernilai tinggi. Bukan lagi jual bahan mentah. Presiden targetkan ini tekan ketergantungan impor. Sekaligus tingkatkan nilai tambah bahan alam dalam negeri. "Hilirisasi jadi satu-satunya jalan agar kita lebih makmur," tegas Presiden. Selain itu, program ini kuatkan rantai pasok industri nasional. 
Rantai pasok ini seperti alur dari bahan baku hingga produk jadi. Hasilnya, buka lapangan kerja baru. Juga dorong pertumbuhan ekonomi lebih luas. Bayangkan ribuan pekerja dapat gaji tetap. Ekonomi daerah pun ikut bergairah. Presiden jelaskan detail proyek energi. Misalnya pembangunan kilang minyak baru. Plus pengembangan terminal bahan bakar minyak. Ini tekan impor energi secara besar-besaran. Indonesia saat ini masih impor banyak BBM. Langkah ini ubah itu.
Advertising

Pemerintah kembangkan juga proyek ganti LPG. Caranya olah batubara jadi DME. DME ini bahan bakar mirip LPG tapi dari sumber lokal. Lalu hilirisasi sawit jadi biodiesel. Ini kuatkan energi terbarukan nasional. Sawit Indonesia melimpah. Olah jadi biodiesel hemat devisa.
Advertising

BACA JUGA: 
Daftar 23 Pemain untuk Pemusatan Latihan Menjelang Kejuaraan ASEAN 2026
Proyek mineral fokus olah bijih jadi logam siap pakai. Pertanian olah hasil panen jadi produk industri. Semua ini bagian visi pembangunan ekonomi nasional. Presiden bilang hilirisasi kunci daya saing Indonesia di dunia.
Dengan cara ini, hilirisasi jadi penggerak utama. Pertumbuhan ekonominya inklusif. Semua lapisan masyarakat untung. Juga berkelanjutan. Lindungi lingkungan sambil hasilkan keuntungan. Pemerintah yakin program ini bentengi ekonomi nasional masa depan.
Advertising

BACA JUGA: 
NDX AKA Siap Melaporkan Kembali kepada Promotor Festival Gelombang Cinta 4
Langkah awal fase dua ini tunjukkan komitmen kuat. Indonesia tak lagi bergantung luar. Kini bangun industri sendiri. Hasilnya, rakyat lebih sejahtera. Ekonomi tumbuh stabil.
1. Pembangunan fasilitas kilang gasoline di Dumai
2. Pembangunan fasilitas kilang gasoline di Cilacap
3. Pembangunan tangki operasional BBM di Palaran
4. Pembangunan tangki operasional BBM di Biak
5. Pembangunan tangki operasional BBM di Maumere
6. Fasilitas pengolahan batu bara menjadi DME di Tajung Enim
7. Pengembangan fasilitas manufaktur baja nirkarat dari nikel di Morowali Industrial Park
8. Pengembangan fasilitas produksi slab baja karbon di Cilegon
9. Ekosistem produksi aspal Buton di Karawang
10. Hilirisasi tembaga dan emas di Gresik
11. Pengolahan sawit menjadi biodiesel di Sei Mangkei
12. Fasilitas pengolahan pala di Maluku Tengah
13. Fasilitas terpadu kelapa di Maluku Tengah.

EditorRedaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait
Share:

Tuesday, 2 June 2026

Eks Anggota DPR Dukung Menkeu Purbaya Usut Manipulasi Ekspor Sawit


Indonesia, Perssilam - Mulyanto, mantan Anggota Komisi Energi DPR RI, mendukung penuh langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Menkeu ingin mengusut tuntas dugaan manipulasi laporan ekspor minyak kelapa sawit mentah atau CPO. Kasus ini melibatkan kelompok perusahaan besar yang diduga bermain dengan data ekspor. Mulyanto meminta pemerintah tidak hanya bicara di media. Ia ingin ada tindakan hukum yang nyata dan cepat.
Advertising

BACA JUGA:
Marcus Rashford kini menjadi perhatian Arsenal dan Chelsea
Menurut Mulyanto, pemerintah harus berani menunjukkan bukti fisik di pengadilan. Hal ini penting jika bukti penyelewengan sudah valid. Ia menegaskan bahwa narasi di media sosial tidak cukup. Debat panjang di dunia maya tanpa kepastian hukum hanya membuat gaduh. Kondisi ini tidak memberi manfaat bagi negara maupun pelaku usaha. PKS, partai tempat Mulyanto bernaung, melihat isu ini harus selesai di jalur hukum. Mulyanto menyarankan Menkeu membentuk tim gabungan lintas sektor. Tim ini harus melibatkan Polri, Kejaksaan, BPKP, Ditjen Pajak, dan Ditjen Bea Cukai. Kerja sama ini akan membuat penindakan lebih efektif. 
Semua instansi tersebut punya data yang saling melengkapi. Pengawasan yang terpadu bisa menutup celah kecurangan korporasi. Publik kini butuh kepastian hukum, bukan sekadar berita heboh. Mulyanto mendorong adanya audit perdagangan atau trade audit secara menyeluruh. Audit ini harus memeriksa data riil pengiriman barang dan nilai transaksi. Perusahaan yang terbukti curang harus mendapat sanksi berat tanpa pilih kasih. Ia menyoroti kejahatan kerah putih yang sering terjadi. Contohnya adalah under-invoicing, yaitu mencatat harga ekspor lebih rendah dari harga pasar. 
Ada juga transfer pricing, yaitu memindah keuntungan ke negara dengan pajak rendah. Praktik ini sangat merugikan Indonesia. Negara kehilangan potensi pajak yang besar. Devisa Hasil Ekspor juga jadi berkurang, sehingga ekonomi nasional terganggu. Namun, Mulyanto mengingatkan agar kasus ini ditangani dengan hati-hati. Penanganan yang salah bisa merusak citra sawit Indonesia di mata dunia. Sektor sawit adalah sumber devisa utama. Jutaan petani dan buruh tani bergantung pada industri ini. Jika pasar global panik, harga komoditas bisa turun. Hal ini akan memukul ekonomi rakyat di berbagai daerah.
Pemerintah harus menjaga keseimbangan antara hukum dan stabilitas bisnis. Jangan sampai investor merasa seluruh sistem niaga sawit kita bermasalah. Apalagi saat ini pemerintah sedang menyiapkan sistem ekspor satu pintu atau single gateway. Sistem ini akan dikelola oleh PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Komunikasi yang salah bisa memicu penolakan dari asosiasi pengusaha.
Mulyanto setuju dengan penguatan kontrol negara lewat superholding Danantara. Hal ini bisa memperkuat keuangan negara. Namun, penyelesaian kasus manipulasi CPO harus tetap profesional dan objektif. Fokus utama bukan pada seberapa ramai berita di media. Yang paling penting adalah akurasi data dan perbaikan sistem ekspor jangka panjang.
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait
Share:
Nasional
Loading 6 berita Nasional...
RECOMMENDED
Loading 9 berita nasional...
Liga Inggris
Loading 6 berita Liga Inggris HD...
Anda Mungkin Juga Suka
You Might Like

🛒 Shopee Hari Ini

MOST VIEWED BRI SUPER LEAGUE

X
×

Other Latest

Loading...

Daftar Isi

    📧 Dapatkan Berita Terbaru Langsung ke Email!

    Premier League

    Close Ads
    Close Ads

    Serie A

    Archive

    🔥 Flash Sale Shopee Hari Ini

    Dapatkan voucher & gratis ongkir


    Total Pageviews

     

    ×