
Indonesia, Perssilam - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) catat lonjakan besar pembayaran manfaat dana pensiun. Nilainya capai Rp 20,79 triliun hingga Februari 2026. Angka ini naik 14,26 persen dari tahun sebelumnya Ogi Prastomiyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, bilang kenaikan ini datang dari peserta yang masuk usia pensiun normal. Banyak peserta mulai klaim saat waktunya tiba. Faktor lain ikut dorong ini. Peserta yang meninggal dunia ajukan klaim oleh ahli waris. Peserta yang putus hubungan kerja juga ambil manfaat lebih cepat.
Advertising
OJK lihat pembayaran ini tekan kewajiban dana pensiun jangka panjang. Dana harus bayar terus di masa depan. Makanya, pengelola aset perlu lebih kuat. Liabilities management atau ALM jadi kunci. ALM bantu samakan aset dengan utang masa depan. Ini jaga manfaat peserta tetap lancar nanti. "Peningkatan ini pada prinsipnya didorong oleh bertambahnya jumlah peserta yang memasuki usia pensiun normal," kata Ogi pada Kamis, 9 April 2026.
Lihat data lebih luas. Industri Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) tahun 2025 bayar total Rp 20,9 triliun manfaat pensiun. DPLK ini dana pensiun sukarela dari lembaga keuangan. Angka bayar itu lebih tinggi dari tambahan aset atau iuran baru. Iuran masuk hanya Rp 14,5 triliun. Bayar keluar lebih cepat daripada uang masuk. Kondisi ini tunjuk dua hal penting untuk dana pensiun sukarela tahan lama.
Pertama, dorong bayar manfaat secara berkala. Ini seperti gaji pensiun bulanan. Peserta dapat uang rutin setelah pensiun. Bukan ambil sekaligus atau lumpsum. Lumpsum berisiko habis cepat. Peserta bisa salah kelola uang besar itu. Bayar berkala beri kepastian arus kas. Ini juga tangani risiko umur panjang. Longevity risk artinya orang hidup lebih lama dari prediksi. Dana harus cukup untuk puluhan tahun. Skema berkala bantu kelola risiko itu.
Advertising
Kedua, tingkatkan jumlah peserta DPLK. Saat ini, 80 persen peserta ikut karena pemberi kerja atau korporasi. Mereka daftarkan karyawan. Sisanya 20 persen inisiatif sendiri. Dari peserta individu itu, 70 persen dari sektor informal. Buruh harian atau pedagang kecil. Segmen ini punya potensi besar. Belum banyak yang gabung.
"Penguatan tata kelola harus dilakukan di seluruh aspek operasional, termasuk pengelolaan investasi, kepesertaan, dan pendanaan," tambah Ogi. Tata kelola baik bantu dana aman. Investasi pilih aset jangka panjang. Kepesertaan tambah anggota baru. Pendanaan pastikan iuran cukup.
Advertising
Peningkatan peserta di sektor informal bagus. Generasi milenial dan Gen Z juga target utama. Mereka muda tapi perlu siap pensiun. Lebih banyak peserta beri perlindungan sosial luas. Kurangi beban negara bayar pensiun nanti. Ini juga dalami pasar keuangan. Dana pensiun jadi sumber investasi panjang. Uangnya alir ke proyek infrastruktur atau saham stabil.
Dengan bayar berkala kuat dan peserta bertambah, DPLK bisa bangun sistem pensiun inklusif. Sistem ini tahan lama dan kuat. Dukung strategi investasi life-cycle. Life-cycle artinya sesuaikan investasi dengan usia peserta. Muda risikonya tinggi, tua aman. Tambah tata kelola baik. Terapkan manajemen risiko efektif. Semua ini pastikan peserta tenang di masa tua. Dana pensiun layani semua lapisan masyarakat.
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait











