
Indonesia, Perssilam - Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) kembali mengingatkan bahwa kebutaan akibat katarak sejatinya bisa dicegah. Namun hingga kini, jutaan orang masih hidup dalam keterbatasan penglihatan karena belum mendapat akses ke operasi katarak yang mana itu adalah sebuah tindakan medis sederhana, cepat, dan sangat terjangkau yang mampu mengembalikan penglihatan secara instan. Peringatan ini diperkuat oleh studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal ilmiah The Lancet Global Health.
Advertising
BACA JUGA:Hukum : Serangkaian Kasus Narkoba Menjerat Petinggi Polres Bima Kota, Kapolres hingga Kasatnarkoba 'Memainkan' Barang TerlarangLaporan tersebut mengungkap fakta mencemaskan bahwa hampir setengah dari seluruh penderita kebutaan akibat katarak di dunia masih belum mendapatkan operasi.Padahal, katarak, kondisi ketika lensa mata menjadi keruh dan menyebabkan penglihatan kabur hingga buta menyerang lebih dari 94 juta orang secara global.Ironisnya, operasi katarak hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit dan dikenal sebagai salah satu prosedur medis paling hemat biaya dengan dampak jangka panjang.
Meski demikian, peningkatan cakupan operasi secara global dalam dua dekade terakhir baru sekitar 15 persen. Untuk dekade ini, kenaikannya diproyeksikan hanya 8,4 persen, jauh dari target ambisius World Health Assembly yang menargetkan peningkatan 30 persen akses operasi katarak pada 2030.“Operasi katarak adalah salah satu alat paling kuat untuk memulihkan penglihatan dan mengubah hidup seseorang,” ujar Devora Kestel, Pelaksana Tugas Direktur Departemen Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Mental WHO.Studi yang menganalisis data dari 68 negara pada periode 2023–2024 menunjukkan kesenjangan paling besar terjadi di kawasan Afrika.
Advertising
BACA JUGA:Bisnis : Industri galangan kapal sedang didorong, Danantara menargetkan dampak ganda ekonomi dari kapal nelayanDi wilayah ini, tiga dari empat orang yang membutuhkan operasi katarak belum tertangani. Perempuan juga tercatat sebagai kelompok paling terdampak di semua kawasan, dengan akses layanan yang secara konsisten lebih rendah dibanding laki-laki.WHO menyoroti berbagai hambatan struktural yang telah berlangsung lama, mulai dari keterbatasan dan distribusi tenaga kesehatan mata yang tidak merata, biaya yang masih harus ditanggung pasien, antrean operasi yang panjang, hingga rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya operasi katarak bahkan di daerah yang sebenarnya sudah memiliki layanan..png)
.png)
BACA JUGA:Kuliner : Hasil Harmonisasi Budaya, Timlo Solo: Warisan Imigran Tiongkok dari Empat Abad yang Lalu
Selain faktor usia sebagai penyebab utama, perkembangan katarak juga dipercepat oleh paparan sinar UV-B berlebihan, kebiasaan merokok, penggunaan kortikosteroid, serta penyakit seperti diabetes.WHO menegaskan, mengakhiri kebutaan yang sebenarnya bisa dicegah ini bukanlah mimpi.Negara-negara didorong untuk memasukkan skrining penglihatan dan pemeriksaan mata ke dalam layanan kesehatan primer, memperkuat infrastruktur bedah, serta memperluas dan meratakan distribusi tenaga kesehatan mata, terutama di wilayah pedesaan dan kelompok rentan.
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :













