
Indonesia, Perssilam - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ketidaksenangannya dengan kemajuan terbaru dalam perundingan nuklir Iran. Ia tetap beri isyarat untuk beri waktu lebih bagi para negosiator. Tujuannya capai kesepakatan yang solid. Trump harap jalur diplomasi bisa cegah pecahnya perang baru di Timur Tengah. Kawasan ini sudah rawan konflik lama. Perang bisa libatkan banyak negara besar. Putaran terbaru bicara di Jenewa gagal hasilkan apa-apa. Sumbernya NPR pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Trump tegas ulang Iran tak boleh punya senjata nuklir. Ia ancam tindakan militer jika tak ada kesepakatan baik. Trump sebut delegasi Iran kurang maju dalam negosiasi. Sikap mereka buat AS frustrasi. Program nuklir Iran jadi isu panas sejak 2015. Saat itu ada kesepakatan JCPOA tapi AS cabut di era Trump sebelumnya.
Mediator perundingan minta proses diplomatik lanjut. Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi pimpin mediasi. Ia bilang kesepakatan masih dekat. Al-Busaidi desak Trump beri waktu dan ruang. Para perunding butuh selesaikan poin-poin sisa seperti batas pengayaan uranium.
Advertising
Trump akui konflik bawa risiko besar. Baik atau buruk saat AS terlibat militer. Ia jawab begitu saat ditanya soal potensi serangan. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres serukan fokus diplomasi. Guterres tekankan dialog jadi kunci penyelesaian damai. PBB khawatir eskalasi ganggu stabilitas global. AS sudah kerahkan kapal perang dan pesawat tempur ekstra ke wilayah itu. Langkah ini tunjukkan kesiapan militer. Banyak negara tunda penerbangan ke Iran. Mereka sarankan warga pulang cepat. Kekhawatiran naik soal konflik membesar. Bandara tutup sementara. Warga AS dan Eropa buru-buru tinggalkan Teheran.
BACA JUGA:Kesehatan : Kenali Kaki Diabetes serta Cara Penanganannya
BACA JUGA:Kesehatan : Kenali Kaki Diabetes serta Cara PenanganannyaSituasi ini ingatkan ketegangan masa lalu seperti ancaman rudal Iran. Trump ingin tekanan maksimal tapi tak tutup pintu bicara. Para pakar bilang waktu diplomatik tinggal sedikit. Satu kesalahan bisa picu krisis besar di Teluk Persia. Dunia pantau erat langkah selanjutnya dari Washington dan Teheran.
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :













