![]() |
| Indonesia dan Korea sepakat untuk memperkuat kerja sama di sektor strategis |
Kerjasama semacam ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang melibatkan semua lapisan masyarakat. Pertumbuhan itu juga harus ramah lingkungan dan tahan lama. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan hal itu saat kunjungan ke Korea Selatan. Ia berharap manfaatnya merata bagi warga Indonesia dan Korea.
Airlangga mendampingi Presiden Prabowo Subianto di Pertemuan Tingkat Tinggi APEC. Acara itu berlangsung di kota Gyeoungju. Jadwalnya dari 31 Oktober hingga 1 November 2025. APEC sendiri adalah forum kerjasama ekonomi Asia-Pasifik. Negara-negara anggota sering bahas isu perdagangan dan investasi global. Kunjungan ini memberi kesempatan langka untuk pertemuan langsung antar pemimpin.
Di tengah kesibukan APEC, Airlangga bertemu secara bilateral dengan pejabat Korea. Lawan bicaranya adalah Menteri Perdagangan, Investasi, dan Sumber Daya Republik Korea, Kim Jung Kwan. Mereka sepakat tingkatkan komitmen bersama. Tujuannya ciptakan kemitraan yang saling untungkan. Forum utama untuk itu adalah Joint Committee on Economic Cooperation, atau JCEC. JCEC berfungsi sebagai wadah rutin bahas proyek bersama. Ia memastikan rencana dijalankan dengan baik.
Baca Juga:
Airlangga menyebutkan rencana pertemuan JCEC ke-3. Acara itu akan digelar di Indonesia pada kuartal pertama 2026. Fokusnya percepat pelaksanaan proyek-proyek besar yang sudah disetujui sebelumnya. Proyek itu bisa termasuk pembangunan infrastruktur atau program energi baru. Percepatan ini penting agar manfaat cepat terasa di lapangan. Bagi pembaca yang bertanya-tanya, JCEC membantu koordinasi agar tidak ada hambatan birokrasi.
Airlangga juga tekankan urgensi percepatan Komite Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Korea. Komite ini lahir dari pelaksanaan Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement, atau IK-CEPA. IK-CEPA adalah perjanjian dagang komprehensif yang ditandatangani kedua negara. Ia buka pintu lebih lebar untuk barang dan jasa lintas batas. Komite memastikan aturan itu diterapkan lancar di tingkat operasional. Tanpa komite, perjanjian bisa mandek.
Menurut Airlangga, IK-CEPA jadi alat vital untuk perkuat ikatan ekonomi. Lewat kesepakatan ini, kedua negara ingin hasil nyata bagi pelaku usaha dan rakyat biasa. Misalnya, industri manufaktur Indonesia bisa ekspor lebih mudah ke Korea. Sementara itu, teknologi Korea bisa masuk ke pasar Indonesia dengan tarif rendah. Hal ini jawab kekhawatiran soal manfaat yang tak merata. Airlangga bilang, "IK-CEPA menjadi instrumen penting untuk memperdalam kemitraan ekonomi kita. Melalui kesepakatan ini, kita ingin memastikan manfaat langsung bagi industri dan masyarakat di kedua negara."
Baca Juga:
Korea Selatan termasuk mitra utama Indonesia di bidang dagang dan investasi. Pada 2024, Korea duduk di peringkat ketujuh sebagai investor terbesar. Data itu tunjukkan aliran dana besar dari sana. Investasi Korea sering masuk ke sektor otomotif, elektronik, dan kimia. Kehadiran mereka bantu ciptakan lapangan kerja di Indonesia.
Sekarang, sekitar 2.000 perusahaan Korea aktif beroperasi di Indonesia. Mereka bekerja sama dengan mitra lokal untuk patuhi aturan setempat. Kerjasama ini ciptakan rantai pasok yang kuat. Airlangga sebut pencapaian itu bukti keyakinan tinggi investor Korea terhadap kondisi investasi di Indonesia. "Capaian ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor Korea terhadap iklim investasi Indonesia," katanya. Kepercayaan itu datang dari reformasi yang dilakukan pemerintah, seperti kemudahan perizinan. Bagi investor potensial, ini sinyal positif untuk ikut bergabung. Langkah-langkah ini secara keseluruhan perkuat posisi Indonesia di peta ekonomi Asia.
Baca Juga:
Pemprov Jateng Menargetkan 71 Juta Wisatawan, Dengan Wisata Religi Sebagai Kekuatan Utama














