
Indonesia, Perssilam - Bintang bulu tangkis India, Saina Nehwal, sampaikan pesan tegas soal gender dan prestasi di olahraga. Ia tekankan bahwa rasa hormat datang dari hasil kerja keras. Bukan dari jenis kelamin seseorang. Ia bicara di acara "Unlocking Nari Shakti" dari Times Network. Acara ini rayakan kekuatan perempuan di India. Saina, yang raih medali perunggu Olimpiade London 2012, cerita perjalanan kariernya. Ia bahas pola pikir lama soal perempuan di olahraga.
Advertising
"Ini bukan soal anak perempuan atau laki-laki. Ini soal apa yang sudah kamu capai," katanya. Kata-kata itu ringkas kariernya yang penuh terobosan. Ia ubah ekspektasi banyak orang. Saina jadi pelopor bulu tangkis putri India. Ia wanita India pertama capai peringkat satu dunia. Kariernya penuh tantangan sejak kecil di Haryana. Daerah itu dulu punya sikap keras soal gender. Rasio jenis kelamin rendah karena preferensi anak laki-laki. Ia ingat masa kecilnya dengan jujur. "Saya kerja keras banget.
Seperti yang kalian tahu, keadaan di Haryana dulu beda sekali." Ayahnya baru cerita setelah Saina jadi peringkat dua dunia. Neneknya ingin anak laki-laki saat lahir. Itu buat Saina sadar pola pikir itu nyata. "Hari ini, kalau nenek masih hidup, dia pasti bangga. Saya bukan cuma jadi nomor satu dunia. Saya juga menang medali Olimpiade." Pola pikir itu umum dulu. Mungkin masih ada di beberapa sudut Haryana sekarang. Tapi olahraga ubah semuanya. Saina lihat perubahan besar. Ia pensiun awal tahun ini. Kata-katanya tunjuk kemenangan pribadi. Juga pergeseran budaya luas di India. Partisipasi perempuan di olahraga naik pesat. Itu tanda ambisi baru. Kepercayaan diri gadis-gadis tumbuh. Haryana dulu terkenal bias gender. Sekarang netral soal gender di olahraga.
BACA JUGA: FIFA Menyatakan bahwa Piala Dunia 2026 Akan Menjadi Simbol Persatuan Dunia
BACA JUGA: Toko Resmi Garuda Kini Tersedia di Living World Cibubur
Advertising
"Keterlibatan gadis sangat tinggi sekarang. Mereka cita-citakan yang terbaik." Banyak gadis bilang ke Saina, "Di mana akademi bulu tangkis?" Mereka ingin Saina latih mereka. "Itu kehormatan besar kalau kamu jadi pelatih kami!" Atlet muda tak lagi pilih pelatih laki-laki saja. Mereka kagumi prestasi Saina. "Saina, kamu pemain hebat. Kami mau latihan sama kamu." Bagi mereka, gender tak penting lagi. Yang utama hasil prestasi. Itu yang bawa rasa hormat. Saina juga hormati ibunya dalam-dalam. Ibu bentuk kariernya dan nilai keluarga. "Di keluarga kami, saya hormati ibu banget." Ibu tekad bikin Saina dan adik perempuannya sukses. Adiknya dapat pendidikan bagus. Ia bisa capai mimpi sendiri.
Advertising
Sambil bantu Saina jadi juara. "Ini aspirasi kami dulu. Saat kami tak sangka bisa kalahkan tim kuat seperti China." Saina mulai dari nol. Ia latih keras setiap hari. Badminton India dulu didominasi China. Tapi Saina pecah rekor. Ia menang turnamen besar. Capai puncak dunia. Perjalanan itu ajar banyak. Gender tak batasi prestasi. Di Haryana, gadis kini ikut kompetisi banyak. Mereka main tenis, kriket, badminton. Angka partisipasi naik tajam dalam dekade ini. Saina jadi inspirasi. Ia buktikan kerja keras kalahkan prasangka. Ia ingat latihan pagi buta. Targetkan medali Olimpiade. London 2012 jadi momen besar. Medali perunggu itu buka pintu. India bangga. Saina dorong generasi baru. Gadis bilang dia idola. Mereka mau ikut jejaknya.
Pesan Saina sederhana tapi kuat. Prestasi bicara paling lantang. Olahraga hapus batas gender. Haryana berubah. India ikut berubah. Saina pensiun tapi warisannya lanjut. Melalui ceritanya, perempuan lain berani mimpi besar.
Advertising
Amerika Utara siap jadi tuan rumah sempurna. Stadion megah sudah tunggu. Penggemar dunia akan saksikan sejarah baru. Infantino tutup pidato dengan optimis. Sepak bola bukan sekadar permainan. Ia jadi alat ubah dunia. Satukan yang terpecah. Bangun harapan di tengah badai. Kongres ini bukti FIFA serius jalankan misi itu.
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait











