
Indonesia, Perssilam - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pembatalan serangan baru terhadap Iran pada Selasa 19 Mei 2026. Keputusan ini muncul setelah negara negara Teluk meminta AS menunda aksi militer. Trump menulis di Truth Social bahwa pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab membujuknya. Mereka ingin menghindari perang terbuka karena proses negosiasi serius sedang berjalan. Trump mengklaim akan ada kesepakatan yang sangat dapat diterima bagi AS. Namun dia tetap tegas soal senjata nuklir. Trump menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir sama sekali. Meski begitu, dia memberi peringatan keras. AS siap melancarkan serangan skala besar dalam sekejap jika kesepakatan gagal tercapai.
Advertising
Pola ancaman seperti ini sudah sering dilakukan Trump. Pada Maret lalu, dia mengancam menghancurkan pembangkit listrik Iran. Saat itu Teheran diminta membuka Selat Hormuz. Ancaman itu tidak terjadi dan justru berakhir dengan gencatan senjata. Pihak militer senior Iran kemudian memperingatkan AS agar tidak salah hitung lagi. Langkah Trump ini terjadi saat dukungan publik di dalam negeri menurun. Jajak pendapat New York Times dan Siena pada Senin 18 Mei menunjukkan angka yang mengejutkan. Sekitar 64 persen responden merasa perang melawan Iran adalah keputusan salah. Hanya 37 persen warga yang setuju dengan kinerja Trump sebagai presiden.
Hasil ini menjadi beban berat bagi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu. Rakyat tidak hanya tidak setuju dengan perang, tapi juga kecewa dengan urusan ekonomi dan imigrasi. Ketegangan ini memuncak setelah pasukan Israel dan AS menyerang Iran pada 28 Februari. Iran membalas dengan mengirim drone dan rudal ke Israel serta pangkalan AS di Teluk. Negara negara Arab merasa terancam oleh siklus serangan ini. Mereka takut Iran akan menyerang balik fasilitas penting di wilayah mereka.Iran punya stok drone dan rudal yang besar. Mereka bisa mengincar bandara dan pabrik petrokimia.
Advertising
Yang paling mengkhawatirkan adalah ancaman terhadap instalasi desalinasi air minum. Fasilitas ini sangat vital karena suhu musim panas di Teluk mulai naik. Selain itu, Iran menguasai Selat Hormuz. Jalur ini dilewati 20 persen minyak dan gas dunia. Blokade di selat ini membuat harga minyak dunia melonjak tajam. Sebagai balasan, AS memblokade pelabuhan Iran untuk menekan Teheran. Reaksi Iran tetap keras. Kantor berita Tasnim menyebarkan pesan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei. Khamenei memperingatkan bahwa Iran bisa membuka front perang baru di area yang lemah. Pesan ini merupakan kutipan lama dari Maret yang dimuat ulang oleh media lokal.
Pemerintah Iran menyatakan sudah menjawab proposal terbaru AS. Mereka menggunakan Pakistan sebagai mediator pembicaraan. Namun, media Iran menyebut AS belum memberikan konsesi yang nyata. Esmail Baghaei dari kementerian luar negeri Iran mengklaim tuntutan mereka sudah adil dan bertanggung jawab. Tuntutan Iran meliputi penghentian perang di semua front, termasuk serangan Israel ke Hizbullah di Lebanon. Mereka juga minta blokade pelabuhan dicabut dan jaminan tidak ada serangan lagi. Teheran bahkan meminta ganti rugi atas kerusakan perang dan pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz.
Advertising
Kantor berita Fars melaporkan AS memberikan lima syarat balasan. Iran diminta hanya mengoperasikan satu fasilitas nuklir. Stok uranium yang diperkaya tinggi harus dipindahkan ke AS. Pada Jumat 15 Mei, Trump memberi kode mau menerima penangguhan program nuklir Iran selama 20 tahun. Masalah nuklir ini jadi inti konflik. AS dan Eropa yakin Iran ingin membuat bom atom. Iran bersikeras program mereka hanya untuk tujuan damai.
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait











