
Indonesia, Perssilam - Primus menilai situasi tugas dan fungsi Bank Indonesia saat ini sebagai sebuah anomali besar. Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen. Angka ini terlihat bagus. Namun, nilai tukar rupiah justru anjlok tajam. Bagi Primus, kondisi ini menjadi ironi. Pemerintah sering mengklaim fundamental ekonomi nasional sangat kuat. Kenyataannya, rupiah justru jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS.
Advertising
Tekanan ini tidak hanya menyerang mata uang. Pasar saham domestik juga terpuruk. Primus melihat kinerja pasar modal Indonesia tertinggal jauh dari bursa global. Pasar dunia mulai pulih setelah gejolak perang rudal yang terjadi sejak akhir Februari lalu. Indeks saham global sudah rebound dan kembali hijau. Sementara itu, indeks saham Indonesia masih minus lebih dari 20 persen. Kondisi ini membuat dunia mempertanyakan kualitas Bank Indonesia sebagai bank sentral.
Primus mengaku sudah sering memperingatkan BI sejak rupiah berada di level 16.800 per dolar AS. Namun, peringatan itu tidak membawa hasil. Sekarang, pelemahan rupiah terjadi terhadap hampir semua mata uang utama. Rupiah melemah terhadap dolar Singapura, dolar Australia, Ringgit Malaysia, Rial, hingga Euro dan dolar Hong Kong. Primus memberi contoh nyata melalui nilai tukar Euro. Pada awal tahun 2006, satu Euro hanya seharga 7.000 rupiah. Sekarang, nilainya melonjak drastis hingga mencapai 19.000 sampai 20.000 rupiah.
Advertising
Kenaikan tajam dalam dua dekade ini menunjukkan adanya masalah serius. Menurut Primus, Bank Indonesia telah kehilangan kepercayaan dari pasar. Kredibilitas lembaga tersebut kini berada di titik rendah. Karena situasi ini, Primus meminta Gubernur BI Perry Warjiyo bersikap gentleman. Ia menyarankan Perry Warjiyo untuk mundur dari jabatannya.
Menurutnya, mengundurkan diri adalah bentuk tanggung jawab moral. Hal ini wajar dilakukan jika seseorang tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Primus mencontohkan budaya di Korea atau Jepang yang sangat menghormati pemimpin yang berani mundur saat gagal.
Advertising
Sebagai penutup, Primus mengutip sebuah hadis. Ia mengingatkan bahwa jika suatu urusan diberikan kepada orang yang bukan ahlinya, maka kehancuran tinggal menunggu waktu. Hal ini menjadi kritik keras bagi kepemimpinan Bank Indonesia saat ini.
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait











