.jpg)
Indonesia, Perssilam - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menutup perdagangan Selasa 26 Mei 2026 dengan penurunan tajam. Pasar saham domestik gagal bangkit dari tekanan jual hingga akhir sesi. Data Bursa Efek Indonesia yang dikutip lewat Stockbit dan Kontan menunjukkan IHSG turun 76,15 poin. Angka ini setara dengan penurunan 1,23 persen. Akibatnya, posisi indeks berakhir di level 6.130,190. Penyebab utama jatuhnya pasar adalah rasa takut para investor. Mereka khawatir soal konflik di Timur Tengah yang belum menemui titik damai. Ketegangan ini membuat harga minyak dunia naik cepat.
Advertising
Kenaikan harga energi biasanya memicu inflasi karena biaya produksi dan transportasi barang jadi lebih mahal. Kondisi inilah yang membuat pasar saham menjadi tidak stabil. Efek buruk ini menyasar hampir seluruh sektor. Delapan indeks sektoral berada di zona merah. Sektor industri atau IDX-Industry mengalami hantaman paling keras dengan penurunan 3,38 persen. Sektor barang konsumsi non-primer atau IDX-Cyclic juga anjlok 2,20 persen. Sektor properti atau IDX-Property tidak luput dari koreksi dan turun 2,14 persen. Penurunan serentak di berbagai sektor ini menyeret IHSG jatuh dalam. Padahal saat pembukaan perdagangan pagi, indeks sempat naik dan berada di zona hijau.
Pergerakan harga yang berbalik arah ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap isu politik global. Para pelaku pasar cenderung menjual aset mereka untuk menghindari risiko lebih besar. Kepanikan di pasar modal kini merembet ke pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar Amerika Serikat saat perdagangan tutup. Mata uang garuda turun 53 poin atau sekitar 0,29 persen. Angka penutupan rupiah kini berada di level Rp 17.796 per dollar AS. Kondisi ini terjadi karena konflik geopolitik di Timur Tengah belum usai. Masalah ini memberi tekanan berat bagi rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG.
BACA JUGA: KPK sedang menyelidiki keberadaan jam mewah yang dimiliki oleh Fadia Arafiq, yang diduga dibeli dengan uang hasil korupsi
BACA JUGA: Rekomendasi Kuliner Populer di Jogja yang Harus DicicipiDaftar Saham Top Gainers dan Top Losers LQ45 Selasa 26 Mei 2026

Advertising
Biaya operasional industri dalam negeri jadi naik tajam. Ibrahim Assuaibi, analis mata uang dan komoditas, menjelaskan bahwa beban industri tidak hanya datang dari rupiah yang jatuh. Konflik global membuat harga bahan bakar minyak industri nonsubsidi naik. Hal ini langsung menambah biaya produksi bagi banyak perusahaan. Rupiah yang terus melemah memicu risiko pemutusan hubungan kerja atau PHK. Banyak perusahaan tidak kuat menahan biaya yang membengkak. Beberapa pabrik bahkan sudah berhenti beroperasi total.
PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat, menjadi salah satu korbannya. Perusahaan ini menutup seluruh pabriknya. Akibatnya, 350 pekerja kehilangan pekerjaan mereka. Keputusan pahit ini diambil karena biaya impor barang modal dan bahan baku melonjak tinggi. Di saat yang sama, permintaan barang dari pasar ekspor dunia sedang lesu. Perusahaan terjepit antara biaya produksi yang mahal dan penjualan yang turun.
Advertising
Krisis serupa juga melanda Jawa Timur. Sektor otomotif di Sidoarjo ikut terpuruk. CV Asri terpaksa merumahkan 200 karyawannya. Penyebab utamanya adalah angka penjualan kendaraan yang turun drastis. Daya beli masyarakat melemah sehingga stok kendaraan menumpuk di gudang. Kondisi ekonomi yang tidak stabil membuat konsumen menunda pembelian barang mewah seperti kendaraan.
| Kategori | Nama Emiten | Perubahan Nilai | Harga Akhir |
|---|---|---|---|
| Top Gainers | PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) | Naik 5,46% | Rp 3.090 |
| PT Barito Pacific Tbk (BRPT) | Naik 5,07% | Rp 1.555 | |
| PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) | Naik 3,91% | Rp 505 | |
| Top Losers | PT Vale Indonesia Tbk (INCO) | Turun 10,68% | Rp 4.890 |
| PT Astra Internasional Tbk (ASII) | Turun 8,48% | Rp 5.125 | |
| PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) | Turun 8,11% | Rp 1.190 |

(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait










