
Indonesia, Perssilam - Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memberi peringatan keras soal pasar minyak dunia. Kondisinya kini makin mengkhawatirkan. IEA melihat ada risiko besar pasar energi global masuk ke zona merah pada Juli atau Agustus 2026. Zona merah ini berarti kondisi krisis berat di mana stok minyak sangat rendah tapi permintaan melonjak tinggi.
Advertising
Masalah utama terjadi karena stok minyak global terus menipis. Di saat yang sama, permintaan energi naik tajam. Hal ini terjadi karena masuknya musim perjalanan musim panas di berbagai negara. Orang lebih banyak bepergian dengan pesawat dan mobil. Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menegaskan bahwa situasi ini sudah berada di level yang berbahaya.
Kunci utama untuk keluar dari krisis ini adalah pembukaan penuh Selat Hormuz. Jalur laut ini harus dibuka tanpa syarat agar guncangan energi akibat perang Iran bisa teratasi. Birol menyebut pasar minyak akan makin tertekan dalam beberapa bulan ke depan. Informasi ini muncul dalam laporan CNBC pada Jumat, 22 Mei 2026. Tekanan ini akan terjadi jika Selat Hormuz tetap tutup dan tidak ada tambahan pasokan minyak baru dari Timur Tengah. Jika dua hal ini tidak terjadi, zona merah menjadi kepastian.
Advertising
Birol menyampaikan hal ini saat diskusi di Chatham House. Topik bahasannya adalah krisis Selat Hormuz dan keamanan energi dunia. IEA menyatakan bahwa gangguan saat ini adalah yang terparah dalam sejarah pasar energi. Awalnya, dampak perang bisa diredam karena ada surplus cadangan minyak global. Namun, cadangan itu sekarang sudah hampir habis. Konsumsi yang naik dan jalur distribusi yang macet mempercepat penyusutan stok tersebut.
Selat Hormuz adalah jalur paling vital bagi perdagangan energi dunia. Setiap hari, sekitar 20 persen minyak bumi dan gas alam cair lewat sana. Jalur ini menghubungkan produsen besar di Teluk Persia dengan pasar global. Namun, kapal-kapal hampir berhenti total melintas sejak pecah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik ini membuat pasokan energi dunia jadi tidak pasti. Negara berkembang di Asia dan Afrika akan paling menderita. Mereka tidak punya cadangan minyak besar seperti negara maju. Selain harga BBM naik, ketahanan pangan juga terancam. Biaya distribusi pangan naik karena harga energi melonjak. Pupuk dan transportasi hasil tani jadi sangat mahal.
Advertising
Proses produksi dan penyulingan minyak di Timur Tengah tidak bisa pulih cepat. Butuh waktu lama untuk kembali ke level sebelum perang. IEA kini bersiap mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak strategis. Langkah ini diambil sebagai rencana terakhir jika situasi pasar semakin buruk.
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait











