
Advertising
Sektor konsumsi pemerintah jadi penggerak utama. Pertumbuhannya mencapai 21,81 persen. Konsumsi rumah tangga ikut naik 5,52 persen. Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Yossi Martino, bilang hasil ini datang dari perubahan cara kelola anggaran pemerintah. Mereka geser dari penundaan belanja ke percepatan di awal. Frontloading artinya keluarkan uang lebih cepat di triwulan pertama untuk tambah likuiditas pasar. Likuiditas adalah uang beredar yang bikin transaksi lancar. Yossi bilang, "Kami apresiasi langkah tim ekonomi pemerintah Presiden Prabowo. Seperti proyeksi kami di Outlook Ekonomi GREAT Institute 2026, pemerintah harus geser dari backloading ke frontloading. Itu untuk pompa likuiditas di awal tahun anggaran."
Injeksi uang negara ini jadi titik balik. Sebelumnya, ekonomi nasional mandek di sekitar 5 persen setelah pandemi COVID-19. Pandemi bikin aktivitas ekonomi turun tajam pada 2020. Sejak itu, pemulihan lambat. Data BPS buktikan kebijakan ini jalan di lapangan. "Data BPS konfirmasi strategi injeksi fiskal tereksekusi efektif," tambah Yossi Martino.
Advertising
Pemerintah catat belanja negara sampai akhir Maret 2026 Rp815 triliun. Itu naik 31,4 persen dari tahun lalu. Dampaknya, defisit APBN Rp240,1 triliun. Itu setara 0,93 persen dari PDB. Defisit APBN adalah selisih antara penerimaan dan pengeluaran negara. Angka kecil ini tunjukkan pengelolaan masih terkendali.
Advertising
Yossi jelaskan, intervensi fiskal seperti perlindungan sosial dan pencairan THR jaga daya beli masyarakat. THR adalah Tunjangan Hari Raya yang dibayar sebelum Idulfitri. Itu bantu keluarga belanja lebih banyak. Data Bank Indonesia tunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen turun. Dari 127 di Januari jadi 122,9 di Maret. IKK ukur seberapa optimis konsumen soal ekonomi ke depan. Pelemahan ini bisa tekan konsumsi jika tak diatasi.
Meski begitu, konsumsi rumah tangga tetap naik 5,52 persen. GREAT Institute ingatkan pemerintah jaga konsistensi di kuartal berikutnya. Injeksi fiskal masif lindungi ekonomi dari guncangan luar seperti harga minyak dunia naik atau konflik global. "Pemerintah respons dengan frontloading perlindungan sosial, THR, dan MBG secara besar-besaran. Daya beli terjaga. Konsumsi tumbuh 5,52 persen. Ini bukti sukses intervensi fiskal," kata Yossi Martino.
Advertising
Untuk capai target pertumbuhan tahunan 5,4 sampai 5,6 persen, butuh kebijakan tambahan. Yossi tekankan paket pelengkap. Fokus pada insentif investasi dan lanjutkan hilirisasi komoditas. Hilirisasi artinya olah bahan mentah jadi barang jadi di dalam negeri, seperti nikel jadi baterai. Itu kurangi ketergantungan ekspor mentah dan stabilkan harga. "Kami lihat percepatan belanja harus diikuti paket lain," ujar Yossi Martino. Strategi lanjut redam gejolak harga global. Itu beri kepastian buat kelas menengah. Sasaran perlindungan sosial harus tajam. Jangan sampai lewatkan kelompok rentan atau menengah.
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait











