Selamat Datang dan Bergabung Media Online Perssilam Musi Rawas "Perssilam Silampari News" Berita Terupdate teknologi app iconDownload App Ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 5,61 persen pada kuartal pertama tahun 2026 ~ Perssilam Silampari News
×
W3.CSS
Advertising
Dark Mode

Pages

Thursday, May 07, 2026

Ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 5,61 persen pada kuartal pertama tahun 2026


Indonesia, Perssilam - Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026. Periode itu mencakup Januari sampai Maret. Angka ini jadi pertumbuhan triwulan awal tertinggi dalam 13 tahun belakangan. Pemicunya adalah kebijakan pemerintah yang percepat belanja negara sejak awal tahun. Money melaporkan data ini dari konferensi pers Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Jakarta pada Selasa, 5 Mei 2026. Pertumbuhan ini lebih tinggi dari kuartal pertama 2025 yang hanya 4,87 persen. Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku capai Rp6.187,2 triliun. PDB adalah ukuran total nilai barang dan jasa yang dihasilkan di dalam negeri dalam periode tertentu.

Advertising

BACA JUGA: 
Trump Menunda Pelaksanaan Operasi Militer Project Freedom di Selat Hormuz
Sektor konsumsi pemerintah jadi penggerak utama. Pertumbuhannya mencapai 21,81 persen. Konsumsi rumah tangga ikut naik 5,52 persen. Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Yossi Martino, bilang hasil ini datang dari perubahan cara kelola anggaran pemerintah. Mereka geser dari penundaan belanja ke percepatan di awal. Frontloading artinya keluarkan uang lebih cepat di triwulan pertama untuk tambah likuiditas pasar. Likuiditas adalah uang beredar yang bikin transaksi lancar. Yossi bilang, "Kami apresiasi langkah tim ekonomi pemerintah Presiden Prabowo. Seperti proyeksi kami di Outlook Ekonomi GREAT Institute 2026, pemerintah harus geser dari backloading ke frontloading. Itu untuk pompa likuiditas di awal tahun anggaran."
Injeksi uang negara ini jadi titik balik. Sebelumnya, ekonomi nasional mandek di sekitar 5 persen setelah pandemi COVID-19. Pandemi bikin aktivitas ekonomi turun tajam pada 2020. Sejak itu, pemulihan lambat. Data BPS buktikan kebijakan ini jalan di lapangan. "Data BPS konfirmasi strategi injeksi fiskal tereksekusi efektif," tambah Yossi Martino.
Advertising

Pemerintah catat belanja negara sampai akhir Maret 2026 Rp815 triliun. Itu naik 31,4 persen dari tahun lalu. Dampaknya, defisit APBN Rp240,1 triliun. Itu setara 0,93 persen dari PDB. Defisit APBN adalah selisih antara penerimaan dan pengeluaran negara. Angka kecil ini tunjukkan pengelolaan masih terkendali.
Advertising

BACA JUGA: 
Proses Afrika Selatan Menuju Kembalinya F1 Telah Dimulai
Yossi jelaskan, intervensi fiskal seperti perlindungan sosial dan pencairan THR jaga daya beli masyarakat. THR adalah Tunjangan Hari Raya yang dibayar sebelum Idulfitri. Itu bantu keluarga belanja lebih banyak. Data Bank Indonesia tunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen turun. Dari 127 di Januari jadi 122,9 di Maret. IKK ukur seberapa optimis konsumen soal ekonomi ke depan. Pelemahan ini bisa tekan konsumsi jika tak diatasi.
Meski begitu, konsumsi rumah tangga tetap naik 5,52 persen. GREAT Institute ingatkan pemerintah jaga konsistensi di kuartal berikutnya. Injeksi fiskal masif lindungi ekonomi dari guncangan luar seperti harga minyak dunia naik atau konflik global. "Pemerintah respons dengan frontloading perlindungan sosial, THR, dan MBG secara besar-besaran. Daya beli terjaga. Konsumsi tumbuh 5,52 persen. Ini bukti sukses intervensi fiskal," kata Yossi Martino.
Advertising

BACA JUGA: 
Tunggal Putri India, Saina Nehwal Membahas Mengenai Gender dan Prestasi
Untuk capai target pertumbuhan tahunan 5,4 sampai 5,6 persen, butuh kebijakan tambahan. Yossi tekankan paket pelengkap. Fokus pada insentif investasi dan lanjutkan hilirisasi komoditas. Hilirisasi artinya olah bahan mentah jadi barang jadi di dalam negeri, seperti nikel jadi baterai. Itu kurangi ketergantungan ekspor mentah dan stabilkan harga. "Kami lihat percepatan belanja harus diikuti paket lain," ujar Yossi Martino. Strategi lanjut redam gejolak harga global. Itu beri kepastian buat kelas menengah. Sasaran perlindungan sosial harus tajam. Jangan sampai lewatkan kelompok rentan atau menengah. 
EditorRedaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait
Share:
You Might Like
×
Rekomendasi
×
Iklan
📧 Dapatkan Berita Terbaru Langsung ke Email!

b

×

Premier League

Close Ads
Close Ads

Most Post

Serie A

Archive

Total Pageviews