
Indonesia, Perssilam - Tentara Nasional Indonesia kehilangan tiga prajurit unggulannya. Mereka tewas saat bertugas di misi perdamaian PBB, United Nations Interim Force in Lebanon atau UNIFIL. Lokasinya di Lebanon Selatan. Selain tiga yang gugur, beberapa prajurit lain luka-luka. Ini dari dua kejadian terpisah. Kejadian itu pas di saat serangan besar-besaran dari tentara Israel ke Lebanon Selatan. UNIFIL bilang akan selidiki kedua insiden itu. Mereka ingin cari tahu fakta sebenarnya. Kepala Operasi Perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix, sebut serangan ke pasukan biru helm ini kejahatan perang. "Ini tidak bisa diterima," katanya di konferensi pers di markas PBB, New York. Lacroix tekankan perlindungan personel PBB wajib dijunjung.
Banyak negara kecam keras serangan itu. Mereka juga kirim duka cita ke pemerintah Indonesia. Dukungan datang dari berbagai penjuru dunia. Lalu, apa langkah pemerintah Indonesia selanjutnya? Apakah cukup hanya kecam dan minta selidik? Beberapa kalangan bilang tidak. Peristiwa ini jadi itik balik. Indonesia harus keluar dari Board of Peace atau BoP. Saat ini, UNIFIL punya sekitar 8.000 prajurit. Mereka dari 47 negara. Indonesia kontribusi 756 personel.
Mereka disebut Kontingen Garuda atau Konga. PBB buat UNIFIL pada Maret 1978. Tujuannya pulihkan perdamaian di Lebanon. Itu setelah Israel serang wilayah itu. Mandat PBB suruh pasukan UNIFIL awasi mundurnya tentara Israel dari Lebanon. Sampai sekarang, UNIFIL tetap ada di Lebanon Selatan. Alasannya, Israel sering serang lagi. Puncak konflik terjadi di perang Israel-Hezbollah tahun 2006. Ribuan orang tewas. Banyak infrastruktur hancur.
Advertising
Setelah perang itu, UNIFIL ditempatkan di perbatasan. Tugasnya jaga aman Lebanon Selatan. Serangan yang bunuh tiga prajurit Indonesia dua hari lalu disebut insiden paling parah sejarah UNIFIL. Sebelumnya, belum pernah seburuk ini. Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, belum punya detail lengkap. "Kami selidiki dulu. Kami ungkap apa yang terjadi," katanya. Penyelidikan ikut prosedur standar. Hasilnya dibagi ke pihak terkait. "Kalau tahu pelaku, kami protes resmi," tambah Ardiel. Belum ada yang klaim tanggung jawab atas serangan itu. Yang pasti, dua insiden kemarin pas serangan militer Israel masif ke Lebanon. Tapi Israel tolak tuduhan. Mereka bilang posisi prajurit Indonesia di zona perang aktif. Israel sedang operasi lawan Hezbollah.
Pemerintah Indonesia kutuk keras. Mereka minta selidik tuntas. Juga langkah diplomasi cegah kejadian ulang. "Kami minta UNIFIL selidik penuh. Cari sumber insiden. Semua pihak deeskalasi," kata Menteri Luar Negeri Sugiono. Ia bicara dari Tokyo. Ia dampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan. Wakil tetap Indonesia di PBB sudah perintah segera jumpa perwakilan PBB. Desak tindakan cepat. Dewan Keamanan PBB diharap gelar rapat khusus bahas ini. Sekjen PBB Antonio Guterres kirim duka cita ke Indonesia. Ia kutuk serangan itu. "Semua pihak junjung hukum internasional. Lindungi personel dan aset PBB," tegas Guterres.
Sikap Indonesia Hanya Kutuk dan Minta Selidik Dianggap Kurang. Banyak pihak bilang pemerintah harus tegas. Itu penghormatan buat prajurit gugur. Pengamat Timur Tengah Dina Y Sulaeman sebut Indonesia harus namai pelaku. Yaitu Israel. "Harus tunggu selidik, tapi jelas sekali. Israel sering serang UNIFIL," kata Dina. Ia dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Bandung. Ia ingat kasus 1996 di Qana. Israel tembak pasukan UNIFIL. Puluhan tewas. Sejak 2023, serangan Israel ke UNIFIL berulang. Beberapa kali tank Israel hantam pos UNIFIL.
Advertising
Indonesia kirim pasukan terbanyak ke UNIFIL. Tapi prajurit kita tak aman. "Ini momentum keluar BoP. Batalkan kirim ke Gaza. Tarik pasukan dari UNIFIL," saran Dina. Pasukan perdamaian lebih ke politik. Bukan militer murni. Kalau diserang, tak boleh balas langsung. Ada prosedur panjang. Keberadaan pasukan Indonesia tak ubah apa-apa. Israel tetap serang Lebanon. Prajurit kita malah berisiko. Israel abaikan hukum internasional. Tak peduli status biru helm. Bahkan kalau selidik bukti Israel pelaku, Dina ragu PBB sanksi tegas. Pengalaman lalu, resolusi PBB sering veto negara pendukung Israel. Seperti AS. Desakan keluar BoP masuk akal. Israel juga anggota BoP. Serang sesama anggota harus ditanya. Anggota DPR TB Hasanuddin desak keluar BoP. "Jangan berlarut. Ambil langkah keluar," katanya dari Komisi I DPR RI. Ketua PBNU Ahmad Fahrur Rozi setuju. "BoP tak efektif lagi. Keluar jadi pesan kuat ke AS dan Israel. Indonesia tak tolerir kekerasan ke pasukannya," ujarnya.
Duka bagi TNI dan Rakyat Indonesia. Tiga prajurit gugur di Lebanon Selatan. Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon tewas kena artileri di Adchit Al Qusayr. Itu Minggu, 29 Maret 2026. Dua lagi: Sersan Satu Muhammad Nur Ichwandan dan Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar. Mereka gugur ledakan kendaraan dekat Bani Haiyyan. Senin, 30 Maret 2026. Di Adchit Al Qusayr, tiga prajurit TNI luka. Di Bani Haiyyan, dua lagi luka. Mereka dapat perawatan intensif. Keluarga dan rakyat hormati pengorbanan mereka. Prajurit ini bela perdamaian dunia. Indonesia bangga meski duka. Kementerian Pertahanan dalam siaran persnya menegaskan akan tetap memprioritaskan keselamatan pasukan perdamaian. “Langkah-langkah evakuasi dan penanganan medis juga telah dilaksanakan secara cepat sesuai prosedur operasional PBB,” kata Karo Infohan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dalam siaran pers tersebut. Indonesia, tambah Rico, berkomitmen untuk berkontribusi aktif dalam menjaga perdamaian dunia. Serta mendukung stabilitas kawasan melalui partisipasi dalam misi perdamaian PBB.
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait











