
Indonesia, Pemerintah tegas nyatakan tak beri celah sama sekali buat kejahatan pangan. Praktik ini bisa rusak stabilitas negara. Ia juga ancam hak hidup warga biasa. Menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, pelanggaran macam penimbunan stok, penyelundupan barang, pengoplosan makanan, repacking kemasan palsu, plus manipulasi alur distribusi bakal ditangani keras. Penimbunan berarti simpan bahan pokok banyak-banyak demi untung besar saat harga melonjak. Pengoplosan campur aduk bahan jelek ke produk bagus, bahaya buat kesehatan. Repacking ganti label asli supaya kelihatan baru. Semua ini sering terjadi saat permintaan makanan naik tajam di bulan puasa.
Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak, Kepala Satgas Pangan Polri, dukung penuh langkah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Tujuannya jaga pasokan dan harga pangan stabil di seluruh negeri. Ade Safri bilang, ini bukan cuma urusan duit. Dampaknya ancam nyawa rakyat dan kesehatan umum."Kejahatan pangan bukan sekadar persoalan ekonomi. Dampaknya bisa sistemik dan menyentuh hak dasar manusia. Karena itu, negara wajib hadir dan bertindak tegas," kata Ade dalam keterangan tertulis, Jumat, 23 Januari 2026.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman nilai kejahatan ini rusak hukum plus nilai kemanusiaan. Langgar Pancasila, khususnya gotong royong dan keadilan sosial. "Ini bukan sekadar pelanggaran aturan. Tindakan seperti ini melanggar nilai kemanusiaan dan Pancasila. Jangan ganggu hak hidup rakyat, apalagi menjelang bulan suci," katanya.
Amran tak mau toleransi sama sekali. Bandar untung dari kebutuhan dasar rakyat? Langsung cabut izin usaha. Proses hukum cepat. "Kalau melanggar, jangan ragu untuk ditindak, cabut izinnya dan proses secara hukum," tegasnya. Ia yakin harga pangan tak perlu naik. Khusus beras, stok aman besar. Saat ini 3,3 juta ton tersedia. Proyeksi naik ke 5-6 juta ton Mei-Juli 2026. Pemerintah siapkan 1,5 juta ton beras SPHP. Itu buat operasi pasar dan bazar murah. Bantu warga beli harga wajar. Harga beras dunia malah turun. Jadi, kenaikan lokal tak berdasar. Tak ada alasan buat pedagang naikkan harga seenaknya.
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News









