
Indonesia, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyampaikan pesan Tahun Baru yang penuh kekhawatiran. Ia gambarkan dunia sedang kacau balau. Ketidakpastian menyelimuti segala penjuru. Berita ini dikutip dari CNA pada Selasa, 30 Desember 2025. Pesan itu tayang lewat video dari Markas Besar PBB di New York.
Guterres bilang dunia kini berdiri di persimpangan jalan. Bayangkan seperti dua arah: satu menuju harapan, satu lagi kehancuran. Tanda-tandanya jelas. Perpecahan global makin dalam. Negara-negara terbelah dalam pandangan politik dan ekonomi. Kekerasan menyebar luas di banyak tempat. Krisis iklim memburuk cepat. Suhu bumi naik. Banjir dan kekeringan sering terjadi. Hukum internasional dilanggar secara teratur. Negara-negara abaikan aturan bersama.
Ia soroti perang di Ukraina yang masih berlangsung. Konflik serupa muncul di wilayah lain. Semua ini capai tingkat terburuk sejak Perang Dunia II. Saat itu, jutaan orang tewas. Kini, penderitaan manusia sama parahnya. Guterres tegas. Para pemimpin dunia harus kerja lebih giat. Kurangi derita rakyat biasa. Yang paling penting, lawan perubahan iklim jadi prioritas nomor satu. Tanpa itu, masa depan gelap.
"Saya menyerukan kepada para pemimpin di mana pun: bertindaklah dengan serius. Pilih manusia dan planet dibandingkan penderitaan," kata Guterres tegas. Ia kritik ketimpangan besar di dunia. Belanja militer melonjak. Uang untuk negara miskin minim. Ini salah urus prioritas.
Data jelas tunjukkan masalahnya. Belanja militer global naik hampir 10 persen tahun ini. Totalnya capai US$2,7 triliun, atau Rp45,2 kuadriliun. Bandingkan dengan bantuan pembangunan dunia. Angka militer 13 kali lebih besar. Uang senjata dipilih daripada bantu yang lapar dan miskin. Guterres bilang ini ancam keamanan semua orang. Prioritas salah makin parah. Dunia butuh arah baru.
Ia ajak komunitas internasional. Luruskan kebijakan global sekarang. Investasi besar untuk angkat kemiskinan. Bangun infrastruktur di negara berkembang. Kurangi dana perang. Alihkan ke hal berguna. "Dunia yang lebih aman dimulai dengan memerangi kemiskinan, bukan memperluas konflik," tegas Guterres lagi.
Perdamaian harus jadi sasaran utama. Semua pihak harus kejar itu. Pesan ini keluar saat Guterres hampir selesai masa jabatannya. Tahun 2026 jadi tahun terakhir ia pimpin PBB. Sebagai Sekjen sejak 2017, ia lihat banyak krisis. Pesan Tahun Baru ini ringkasan pengalamannya. Ia harap pemimpin dengar suara ini. Ambil langkah nyata. Lindungi manusia dan bumi. Hanya begitu, 2026 bisa lebih baik dari sekarang.
Guterres ingatkan lagi soal iklim. Badai lebih ganas. Laut naik. Petani susah panen. Perang tambah sulit damai. Ukraina contoh nyata. Ribuan tewas. Rumah hancur. Jutaan lari. Wilayah lain sama. Kekerasan tak berhenti. Hukum internasional lemah. Negara kuat langgar seenaknya.
Belanja militer itu uang rakyat. Bisa dipakai sekolah baru. Rumah sakit. Listrik bersih. Tapi dipilih tank dan bom. Guterres bilang prioritas ini bunuh lambat keamanan dunia. Kemiskinan lahir teroris. Kelaparan cipta konflik. Lawan itu dulu. Baru damai datang.
Pesan video pendek ini kuat dampaknya. Tayang jelang pergantian tahun. Orang di seluruh dunia tonton. Guterres harap dorong aksi. Pemimpin harus jawab panggilan ini. Pilih jalan benar di persimpangan. Manusia dan planet menunggu.(Red)
Dengarkan
Berita dan Artikel lainnya di :













