
Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa banyak wilayah di Pulau Sumatra yang kena bencana mulai pindah ke tahap pemulihan. Tahap ini fokus pada rehabilitasi dan rekonstruksi. Itu berarti memperbaiki rumah rusak dan bangun infrastruktur baru. Tapi, beberapa wilayah lain masih stuck di status tanggap darurat. Di sana, tim masih sibuk selamatkan nyawa dan penuhi kebutuhan dasar.
Dari total 48 kabupaten dan kota yang terdampak, kini 25 di antaranya sudah masuk masa transisi. Wilayah ini ada di tiga provinsi Sumatra. Sisanya, 23 kabupaten dan kota, masih dalam tanggap darurat. Kepala BNPB, Suharyanto, sampaikan ini saat konferensi pers di Jakarta, Rabu 31 Desember 2025.
Suharyanto tekankan agar semua daerah tingkatkan kewaspadaan. Bencana bisa datang kapan saja. Banjir baru saja melanda luar Sumatra. Contohnya, banjir besar di Kalimantan Selatan. Lalu, di Bekasi dan beberapa tempat di Jawa Barat. Wilayah-wilayah itu butuh perhatian terus-menerus. "Di Kalimantan Selatan sudah terjadi banjir yang cukup besar. Kemudian di Bekasi dan beberapa wilayah di Jawa Barat juga perlu terus diwaspadai," katanya.
Dia juga soroti pentingnya kesiapsiagaan daerah. Ikuti prakiraan cuaca dari BMKG. Kepala pelaksana BPBD di tingkat daerah harus segera cek kondisi wilayah mereka. Libatkan TNI dan Polri untuk bantu. Kalau perlu, gelar apel kesiapsiagaan. Periksa semua alat dan peralatan. "Sesuai informasi BMKG, kami minta masing-masing kepala pelaksana, dibantu unsur TNI dan Polri, mulai melihat kondisi wilayahnya. Kalau perlu, segera lakukan apel kesiapsiagaan dan pengecekan alat peralatan," ujar Suharyanto.
Sebelumnya, BNPB rencanakan langkah konkret untuk bantu korban. Mereka akan bor sumur di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Tujuannya sederhana: sediakan air bersih bagi penyintas bencana. Air bersih vital untuk hindari penyakit dan jaga kesehatan.
Proses mulai 25 Desember 2025. Tim mobilisasi alat bor. Targetnya 100 titik sumur bor. Sumur ini tersebar di setiap desa di kecamatan itu. Tenaga Ahli BNPB, Brigjen TNI Asep Dedi Darmadi, jelaskan prioritas penempatan. Sumur utama di lokasi pengungsian. Juga di rencana hunian sementara atau huntara. Tambah di tempat ibadah dan pesantren. Ini bikin masyarakat mudah ambil air bersih. "Prioritas penempatan sumur bor berada di lokasi pengungsian, rencana hunian sementara (huntara), serta tempat ibadah dan pesantren. Hal itu guna memastikan masyarakat terdampak dapat lebih mudah mengakses air bersih," kata Asep dalam siaran pers BNPB yang diterima RRI, Selasa 30 Desember 2025.
Langkah ini tunjukkan BNPB gerak cepat pulihkan kehidupan korban. Transisi di Sumatra beri harapan. Tapi kewaspadaan tetap nomor satu di seluruh negeri. (Red)
Dengarkan
Berita dan Artikel lainnya di :













