![]() |
| Budaya Korupsi |
Latar belakang budaya korupsi ini berakar pada masa pasca-kemerdekaan. Saat sistem birokrasi masih lemah, praktik curang menjadi cara cepat untuk bertahan. Menurut data dari Transparency International pada 2023, Indonesia peringkat 110 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi. Skornya hanya 34 dari 100, menunjukkan tingkat korupsi yang tinggi. Angka ini menekan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemiskinan. Rakyat sering bertanya, mengapa korupsi sulit diberantas? Jawabannya sederhana: budaya ini melindungi pelaku, bukan hukum.
Baca Juga:
Coaching Clinic PSSI Mandiri di Official Garuda Store berlangsung seru
Istilah "budaya korupsi" merujuk pada norma sosial di mana penyalahgunaan wewenang diterima. Ia berbeda dengan korupsi sporadis yang jarang terjadi. Di Indonesia, budaya ini merembet ke swasta dan pendidikan. Misalnya, siswa kadang membayar guru untuk nilai bagus. Pakar hukum seperti Todung Mulya Lubis pernah bilang, "Korupsi bukan penyakit, tapi kebiasaan yang diajarkan generasi ke generasi." Ia menekankan perlunya pendidikan anti-korupsi sejak dini untuk memutus rantai ini.
Baca Juga:
Presiden Prabowo Subianto baru saja bertemu dengan Presiden FIFA Gianni Infantino
Dampaknya luas. Korupsi menghambat pembangunan jalan dan sekolah. Uang rakyat raib, diganti janji kosong. Namun, perubahan dimungkinkan jika masyarakat tolak budaya ini. Langkah kecil seperti laporkan pelanggaran bisa jadi awal. Korupsi merusak kepercayaan, tapi kesadaran kolektif mampu bangun fondasi baru yang bersih.
Baca Juga:
Menteri Keuangan Mengingatkan Bahwa Risiko Global Masih Menghantui Ekonomi Indonesia
TAG :
Suka Artikel ini?







.jpeg)



