![]() |
| Coaching Clinic PSSI Mandiri di Official Garuda Store berlangsung seru |
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Bank Mandiri. Mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB. Nagoya Grampus adalah tim profesional di J.League, liga sepak bola teratas Jepang. Liga ini terkenal dengan disiplin tinggi dan pengembangan pemain muda.
Dua pemain timnas Indonesia ikut serta. Evan Dimas, yang bermain untuk timnas dari 2013 hingga 2022. Ia sering jadi kapten. Lalu, Muhammad Mierza Furjatulloh, striker timnas U-17. Mereka hadir untuk berbagi pengalaman dengan peserta.
Evan Dimas bicara soal manfaat acara. "Kegiatan coaching clinic dan talkshow yang digelar PSSI bersama Nagoya Grampus ini sangat positif dan mengedukasi," katanya. Ia menambahkan, "Tadi kita mengajarkan serta menurunkan ilmu kepada adik-adik. Agar adik-adik juga ke depannya bisa jadi pemain sepak bola. Yang bisa menjadi contoh yang baik, bukan hanya di lapangan, tapi di luar lapangan juga."
Baca Juga:
Presiden Prabowo Subianto baru saja bertemu dengan Presiden FIFA Gianni Infantino
Evan tekankan sikap baik. "Saya mengasih pesan-pesan kepada adik-adik juga. Bukan hanya skill dan teknik, tapi di dalam sekolah itu ada attitude juga," lanjutnya. Ia ingatkan, "Jangan sampai kita mengedepankan skill dan teknik, tapi attitudenya kita kurang misalnya. Artinya, kita harus menjadi panutan, menjadi contoh juga, benar-benar menjadi contoh." Alasannya jelas. "Karena yang bakal membela Timnas Indonesia ke depannya juga adalah adik-adik. Kalau dia punya attitude, terus pemikiran-pemikiran yang sangat luar biasa, dia memang pantas menjadi contoh, dia memang pantas memakai baju Timnas Indonesia." Harapannya sederhana. "Harapan saya, buat adik-adik ke depan yang membela Timnas Indonesia, bukan cuma bagus di lapangan, tapi bagus di luar lapangan juga."
Muhammad Mierza Furjatulloh bagikan cerita pribadi. Saat coaching clinic, ia ceritakan pengalaman di timnas U-17. "Tadi saya berbagi pengalaman tentang visi, taktik, dan teknik yang sudah saya lalui," ujarnya. Ia beri pesan motivasi. "Pesan kepada adik-adik jangan pantang menyerah, selalu mencoba, dan jangan pernah takut gagal." Kata-katanya ini ingatkan peserta bahwa kegagalan adalah bagian dari belajar sepak bola.
Dari Nagoya Grampus, tiga perwakilan datang ke Jakarta. Norihiko Imai, Head of School Coaches. Naoshi Nakamura, Director Academy. Atsushi Yoshiike, Deputy General Manager of Academy and School Dept. Dan Kimiaki Kinomura, School Coach. Mereka bawa pengetahuan pelatihan Jepang yang terstruktur.
Naoshi Nakamura senang dengan kerjasama ini. "Sangat senang kita dapat berkolaborasi bersama PSSI melalui program coaching clinic dan talkshow ini bersama legenda dan pemain timnas Indonesia yakni Evan Dimas dan Mierza Furjatulloh," katanya. Bersama Norihiko Imai, ia tambahkan, "Di sini memiliki banyak penggemar dan pecinta sepak bola yang begitu besar. Selain itu, mempunyai potensi tinggi di sepak bola." Mereka lihat Indonesia punya talenta muda yang bisa dikembangkan.
Baca Juga:
Menteri Keuangan Mengingatkan Bahwa Risiko Global Masih Menghantui Ekonomi Indonesia
Peserta acara adalah 30 siswa dari tiga sekolah. SMP Labschool Kebayoran, SMP Tarakanita 5, dan SMPN Strada Marga Mulia. Mereka antusias ikut coaching clinic. Acara tak hanya sesi latihan. Ada fun games untuk bersenang-senang. Fun quizzes untuk tes pengetahuan. Dan interactive activities agar semua terlibat.
PSSI harap acara ini bawa manfaat nyata. Transfer pengetahuan langsung dari pelatih Nagoya Grampus ke pemain dan pelatih Indonesia. Nagoya perkenalkan metodologi pelatihan modern. Metode ini fokus pada pengembangan bertahap, seperti latihan visi permainan dan taktik tim.
Acara ini dukung pengembangan sepak bola akar rumput. Grassroots development berarti membangun fondasi dari usia dini. Ini ciptakan program berkelanjutan untuk anak-anak. Kerjasama ini kuatkan hubungan PSSI dengan klub Jepang. Sebelumnya, PSSI pernah kolaborasi serupa untuk tingkatkan kualitas pelatihan.
Peserta muda dapat inspirasi. Mereka lihat Evan dan Mierza sebagai teladan. Juga pelatih Jepang yang disiplin. Ini motivasi mereka kejar mimpi jadi pesepakbola profesional. Di Indonesia, sepak bola adalah olahraga populer. Acara seperti ini jawab kebutuhan akan pelatihan berkualitas untuk generasi berikutnya.
Baca Juga:
Pidato Prabowo di PBB hingga Reformasi Polri
TAG :
Suka Artikel ini?














