
IHSG berpeluang menguat terbatas di tengah ketegangan AS-Iran
Kenaikan ini terjadi di semua sektor. IDX Basic naik paling tinggi sebesar 2,75 persen. IDX Industry menyusul dengan kenaikan 2,36 persen. IDX Energy juga naik 2,13 persen. Sektor basic mencakup perusahaan bahan mentah. Sektor industri meliputi pabrik pengolahan. Sektor energi mencakup tambang dan minyak. Di grup saham blue chip LQ45, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) naik paling banyak. Saham DEWA naik 4,76 persen ke harga Rp 308. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) naik 4,42 persen ke Rp 6.500. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 3,94 persen menjadi Rp 1.715. Blue chip adalah saham perusahaan besar dengan reputasi baik dan likuiditas tinggi. Namun tidak semua saham naik. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) turun 2,28 persen ke Rp 2.570. PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) turun 0,83 persen ke Rp 600.
Kenaikan IHSG searah dengan tren di Asia. Harapan damai AS dan Iran bisa menghentikan konflik di Timur Tengah. Konflik di sana sering membuat pasar tidak stabil. Presiden AS Donald Trump berkata pada Kamis, 11 Juni 2026, bahwa kesepakatan damai mungkin ditanda tangani akhir pekan ini. Trump bilang negosiasi sudah mencapai level tinggi di pimpinan Iran. Negara lain di Timur Tengah juga mendukung langkah ini. Ray Attrill dari National Australia Bank menilai peluang damai kali ini sangat nyata. Hal ini memberi kabar baik bagi aset berisiko. Aset berisiko adalah investasi seperti saham yang harganya bisa berubah cepat. Attrill mengatakan jika Iran memberi sinyal positif, peluang damai akan naik drastis.
Berita damai ini membuat harga minyak dunia turun. Harga minyak mencapai level terendah dalam dua bulan. Minyak WTI turun 1,9 persen ke US$ 86,08 per barel. Sebelumnya minyak WTI sudah jatuh 2,6 persen. Minyak Brent juga turun 1,5 persen ke US$ 89,08 per barel. Sebelumnya Brent turun hampir 3 persen. Harga minyak yang turun mengurangi rasa takut akan inflasi global. Inflasi adalah kenaikan harga barang secara umum. Saat inflasi rendah, biaya produksi perusahaan turun. Investor jadi berani membeli saham lagi. Indeks Nikkei Jepang melonjak 4,3 persen. Indeks KOSPI Korea Selatan naik tajam 8,3 persen. Bursa saham Australia juga ikut naik 1,8 persen. Pasar Australia banyak berisi perusahaan tambang dan alam. Kenaikan ini membuktikan investor sedang dalam mode risk-on. Mode risk-on berarti investor berani mengambil risiko untuk mengejar keuntungan lebih besar.
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Tags :
Reaksi :
Artikel Terkait






