
Advertising
Selain itu, sekitar 340.000 anggota keluarga rasakan dampak langsung. Mereka kehilangan orang tercinta tanpa kabar pasti. Direktur Jenderal IOM, Amy Pope, tekankan satu poin kunci. Pergeseran jalur migrasi tak kurangi risiko sama sekali. "Rute migrasi bergeser karena konflik. Lalu tekanan iklim dan ubah kebijakan. Tapi bahayanya tetap nyata," kata Pope di situs IOM.
Pope ingatkan semua orang. Di balik data dingin itu ada cerita manusia yang pilu. "Angka ini sembunyikan orang-orang nekat ambil risiko tinggi. Keluarga mereka tunggu berita yang mungkin tak pernah tiba," tambahnya. Bayangkan suami hilang di laut Mediterania.
Advertising
Atau anak kecil terpisah di gurun Sahara. Kisah begitu banyak jadi pengingat urgensi bantuan. IOM catat penurunan kedatangan migran di banyak tempat. Tapi itu bukan tanda migrasi reda. Hanya jalur yang berubah. Pengetatan aturan perbatasan dan konflik dorong rute baru.
Di Amerika, arus ke utara lewat Amerika Tengah turun dibanding 2024. Banyak migran pilih jalur darat lebih panjang. Risikonya malah naik karena medan sulit.
Advertising
Di Eropa, jumlah tiba juga berkurang. Namun, wajah migran berubah. Warga Bangladesh kini jadi kelompok paling besar. Mereka lalui rute Asia ke Eropa Timur. Di Tanduk Afrika, pergerakan ke Arab Saudi sedikit turun. Tapi masih lebih tinggi dari 2023. Sementara, arus ke Afrika Selatan malah melonjak akhir tahun. Jalur ini lewati laut dan darat penuh ancaman bajak laut.
IOM soroti nasib buruk ribuan migran lain. Mereka terjebak di perbatasan. Tak punya tempat tinggal layak. Layanan kesehatan minim. Perlindungan hukum nyaris nol.
Advertising
Contohnya di perbatasan Yunani atau Libya. Orang-orang ini lapar, sakit, dan takut. Pergeseran rute bikin perjalanan lebih jauh. Lebih berbahaya. Potensi tewas atau hilang pun bertambah.
Menjelang Forum Tinjauan Migrasi Internasional di Mei 2026, IOM desak dunia bertindak. Butuh komitmen kuat untuk lindungi migran. Cegah kematian tak perlu. Dan bantu keluarga yang ditinggal. Langkah ini bisa selamatkan nyawa. Dan pulihkan harapan bagi yang tersisa. Data 2025 jadi panggilan darurat. Dunia tak boleh abaikan lagi.
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait











