
Indonesia, Perssilam - Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, bagikan cerita pertemuannya dengan tokoh-tokoh besar Indonesia. Ia datang dengan misi jelas: kampanye tolak perang. Penolakan perang di Iran jadi langkah pertama lawan konflik besar di Timur Tengah. Boroujerdi kunjungi Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri. Ia juga bertemu Presiden ketujuh, Joko Widodo. Tak ketinggalan Wakil Presiden kesepuluh dan kedua belas, Jusuf Kalla. Kunjungan ini bukan cuma sapa-sapaan biasa. Ia pakai kesempatan itu untuk suarakan kampanye antiperang.
Advertising
Saat ini, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran makin panas. Konflik itu bikin situasi rawan meledak. Dubes Iran sampaikan laporan segar soal kondisi negaranya. Ia ceritakan dampak perang AS-Iran. Tokoh-tokoh Indonesia ini pernah beri belasungkawa. Boroujerdi balas dengan info terbaru dari wilayahnya. "Di samping itu, saya juga beri laporan soal kejadian terakhir di negara saya," kata Boroujerdi di Jakarta Selatan, Jumat 3 April 2026.
BACA JUGA:La Liga : Pemain Chelsea secara serentak merasa kesal terhadap Enzo Fernandez, disebabkan oleh keinginannya yang kuat untuk bergabung dengan Real Madrid
Ia puji dukungan lembaga Islam Indonesia. Majelis Ulama Indonesia (MUI) beri anjuran Qunut Nazilah. Doa khusus ini umat Islam bacakan saat musibah besar. Itu tanda solidaritas langsung ke Iran. Tanpa diminta pun, mereka lakukan. Pertemuan ini juga balas ungkapan duka dari Indonesia. Pejabat resmi dan tokoh sipil beri pesan dukungan. Mereka hubungi perwakilan Iran di sini. "Kepada tokoh yang beri belasungkawa," ujar Boroujerdi. Sebagai duta besar, ia rasa wajib beri terima kasih. Ia hargai kepedulian semua pihak. Konflik Iran berlarut-larut. Dukungan ini beri semangat.
"Banyak tokoh Indonesia, pejabat resmi atau bukan, beri pesan ke saya," tambahnya. Kunjungan ke ulama dapat sambutan hangat. Ormas Islam seperti MUI dan lainnya anjurkan Qunut Nazilah. Umat di Indonesia langsung ikut doa untuk Iran. Dukungan itu spontan. Tak perlu dijemput. Organisasi Islam doakan Iran hadapi konflik dengan AS. "Oleh karena itu, saya sebagai duta besar Iran, wajib balas dengan ucap terima kasih," tegasnya.
Advertising
Kampanye antiperang ini penting. Tolak perang di Iran cegah serangan ke negara lain. Pertemuan dengan tokoh nasional jadi ajang suarakan itu. "Berupa belasungkawa dan keprihatinan," lanjut Boroujerdi. Qunut Nazilah sendiri doa istimewa dalam shalat. Umat bacakan minta pertolongan Allah saat bencana. Di Indonesia, MUI keluarkan fatwa begitu. Itu tunjukkan ikatan umat Islam lintas negara. Iran dan Indonesia punya hubungan erat lewat agama.
Boroujerdi tekankan misi ini. Ia ingin cegah perang melebar. Ketegangan AS-Iran sudah lama. Serangan dan sanksi saling balas. Indonesia, sebagai negara besar Muslim, bisa bantu suarakan damai. Tokoh seperti Megawati, Jokowi, dan Kalla punya pengaruh. Mereka pernah pimpin negara. Pertemuan ini bangun jembatan. Iran ingin Indonesia dukung posisi antiperang. Laporan Boroujerdi beri gambaran nyata. Misalnya, korban jiwa, kerusakan infrastruktur. Tokoh Indonesia dengar langsung.
Advertising
Dukungan Islam Indonesia tak terduga. MUI cepat respons. Anjuran Qunut Nazilah sebarkan ke masjid-masjid. Ribuan umat ikut. Itu beri kekuatan moral bagi Iran. Boroujerdi ulang terima kasihnya. Ia janji lapor ke pemerintah Iran. Hubungan diplomatik kedua negara makin kuat. Di tengah konflik global, langkah ini beri harapan. 
Kampanye ini mulai dari tolak perang Iran. Tapi tujuannya luas. Cegah api konflik nyala di kawasan lain. Indonesia bisa jadi mediator. Sejarahnya tunjukkan peran damai di forum dunia. Pertemuan di Jakarta ini sukses. Boroujerdi pulang dengan pesan positif. Ia harap suara antiperang bergema lebih jauh. Dukungan Indonesia jadi contoh bagi negara lain.
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait











