Selamat Datang dan Bergabung Media Online Perssilam Musi Rawas "Perssilam Silampari News" Berita Terupdate teknologi app iconDownload App Budaya : Prancis dan India dalam Geger Sepehi 1812 di Keraton Yogyakarta ~ Perssilam Silampari News
×
W3.CSS
Advertising
Dark Mode

Pages

Monday, April 06, 2026

Budaya : Prancis dan India dalam Geger Sepehi 1812 di Keraton Yogyakarta


Indonesia, Perssilam - Sejarah hitam pada 20 Juni 1812 menimpa Kesultanan Yogyakarta. Pasukan Inggris menyerbu Keraton Yogyakarta dalam peristiwa Geger Sepehi. Ini bukan konflik kecil di Jawa. Ia bagian dari permainan politik dunia. Pengaruh Prancis beradu dengan Inggris. Serdadu dari India ikut campur. Inggris memimpin serangan itu. Tapi akar masalah lahir di Eropa. Prancis di bawah Napoleon Bonaparte rebut Belanda. Jawa sebagai jajahan Belanda ikut jatuh ke tangan Prancis. Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels dukung Napoleon. Ia terapkan gaya militer Prancis di Jawa. Kontrolnya ketat. Sultan Hamengkubuwono II, atau Sultan Sepuh, tolak aturan baru itu. Aturan itu hina martabat keraton. Ia pilih lawan. Thomas Stamford Raffles lihat peluang. Inggris datang kuasai Jawa. Bukan hanya usir Prancis. Mereka juga tundukkan Sultan HB II. 
Advertising

BACA JUGA:
Kesehatan : Tidur yang Berkualitas dan Terhindar dari Jerawat Berkat Terapi Akupunktur Medis
Sultan ini paling lantang lawan penjajah. Nama Geger Sepehi dari kata Sepoy. Sepoy adalah tentara bayaran India yang direkrut Inggris lewat East India Company. Ribuan Sepoy ini serbu bareng kavaleri Inggris. Mereka kepung Keraton. Tembok Baluwerti dibombardir hebat. Inggris pilih Sepoy dengan pintar. Mereka hindari korban prajurit kulit putih. Ini tunjuk kekuasaan Inggris luas. Dari India Selatan hingga Jawa. Para ahli sejarah setuju. Transisi dari Daendels ke Raffles ubah nasib Sultan HB II. Harto Juwono dari Prodi Sejarah FIB UNS tulis makalah ilmiah. Prof. Djoko Marihandono juga bahas. Mereka bilang kebijakan kolonial ke Sultan tak punya dasar hukum. Itu tindakan sepihak belaka.
Prof. Djoko ahli era Daendels di Jawa. Buku-bukunya bedah kebijakan ala Napoleon. Ia tekankan Daendels bawa semangat Revolusi Prancis ke Jawa. Egaliter tapi dipaksa dengan militer. Konflik dengan Sultan HB II mulai dari protokol diplomatik. Daendels tuntut posisinya setara raja Jawa. Ini ubah tata krama lama, Reglement op het ceremoniël. Dr. Harto Juwono dalami keraton dan politik lokal Jawa abad ke-19. Disertasinya sorot dinamika internal keraton. Ia teliti perlawanan ke asing. Ia dukung usul gelar pahlawan nasional untuk tokoh sejarah. Dr. Harto lihat Geger Sepehi bukan kalah perang saja. Itu tragedi budaya. Raffles rencanakan hancurkan legitimasi keraton. "Sultan HB II jadi simbol anti-asing," katanya. "Baik lawan Prancis-Belanda atau Inggris." Gabungan pandang Prof. Djoko dan Dr. Harto kuat. Prof. Djoko fokus tekanan Napoleonik. 
Dr. Harto lihat respons Sultan HB II. Ini fondasi bela pengakuan sejarah Sultan. Dokumen dari London, Den Haag, Jakarta buktikan. Sultan HB II korban politik kolonial ilegal. Dr. Harto bilang tindakan Daendels tak berazas hukum. Dari paksa seremonial hingga rebut hutan kesultanan. "Berdasarkan arsip London, Den Haag, Jakarta," ujar Dr. Harto. "Perjuangan Sultan H B II penuh konflik hukum dan politik lawan kolonial." Konflik lanjut ke era Inggris. Puncaknya Bedhah Ngayogyakarta Juni 1812. Sultan HB II lawan aliansi raja Jawa usir Inggris. Hasilnya dipaksa turun takhta. Diasingkan ke Penang. Peristiwa 1812 hubung erat Perang Jawa 1825-1830. Dipimpin Pangeran Diponegoro. Geger Sepehi jadi luka dalam. Itu bakar amarah Diponegoro nanti. Peter Carey, ahli sejarah, bahas ini. Dr. Harto dan Prof. Djoko rujuk karyanya. Saat keraton jatuh, Sepoy jarah hebat. Harta raib. Perempuan di keraton dan sekitar kena kekerasan. Trauma sosial dalam.
Advertising

BACA JUGA:
Badminton : Malaysia tidak takut menghadapi siapa pun demi meraih juara dalam Thomas Cup 2026
Mangkunegara II pimpin legiun bantu Inggris. Orang Jawa lawan orang Jawa. Ini cipta dendam politik. Pangeran Yogyakarta, termasuk Diponegoro, simpan luka itu. Diponegoro ada di keraton saat serangan. Ia lihat kakeknya, Sultan HB II, ditangkap. Dibuang. Ayahnya, HB III, dipaksa naik takhta lemah. Harta dan naskah kuno dijarah ke Inggris. Pengalaman ini bentuk Diponegoro. Ia yakin asing bawa rusak. Prancis, Inggris, Belanda sama saja.
Sultan HB II pulang dari pengasingan 1824-1826. Saat Perang Diponegoro mulai. Tapi ia tua. Kuasa lumpuh. Diponegoro lihat monarki Jawa tak berdaulat lagi. Intervensi asing mulai Daendels. Raffles perburuk. Geger Sepehi hina kedaulatan. Termasuk perkosaan dan rampas oleh Sepoy. Perang Diponegoro jawab akumulasi hina itu. Prof. Djoko bilang radikalisme Daendels rusak keseimbangan Jawa. Dr. Harto sorot ketidakadilan ekonomi pasca-1812. Itu picu kerusuhan sosial. Diponegoro ledakkan.
Advertising

Fajar Bagoes Poetranto, perwakilan trah HB II dan Ketua Yayasan Vasatii Socaning Lokika, bilang Sultan tolak aturan Daendels. Seremonial dan hutan rebutan. Turun takhta tanpa sidang. Langgar prinsip hukum yang Daendels junjung. "Sultan HB II simbol kedaulatan," ujarnya. "Tunduk ke Barat hina leluhur dan Jawa." Keraton lawan sengit. Tapi senjata Inggris unggul. Serangan dari segala sisi. Keraton jatuh. Sultan ditangkap. Diasingkan ke Penang. Harta dan naskah hilang ke Inggris.
Tragedi Geger Sepehi 1812. Inggris dan Sepoy serbu. Kolaborasi dengan legiun Mangkunegaran. Sepoy India ujung tombak. "Hal ini luka martabat Sultan HB II," kata Fajar. "Picu api lawan sebelum Inggris tiba." Siaran pers, Minggu 5 April 2026.
EditorRedaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait
Share:
You Might Like
×
Rekomendasi
×
Iklan
📧 Dapatkan Berita Terbaru Langsung ke Email!

b

×

Premier League

Close Ads
Close Ads

Most Post

Serie A

Archive

Total Pageviews