Selamat Datang dan Bergabung Media Online Perssilam Musi Rawas "Perssilam Silampari News" Berita Terupdate teknologi app iconDownload App Investor asing menjual saham perbankan besar di Indonesia hingga mencapai Rp 39 triliun ~ Perssilam Silampari News
×
W3.CSS
Advertising
Dark Mode

Pages

Sunday, April 26, 2026

Investor asing menjual saham perbankan besar di Indonesia hingga mencapai Rp 39 triliun


Indonesia, Perssilam - Saham bank-bank besar di Indonesia ambruk keras. Mereka sentuh titik terendah dalam tiga tahun. Investor asing ramai-ramai jual saham saat pasar tutup Jumat, 24 April 2026. Langkah ini tekan harga saham hingga level rendah. Pemicu utama datang dari sentimen buruk. Isu likuiditas domestik bikin khawatir. Likuiditas domestik berarti aliran uang di pasar lokal kurang lancar. Uang investor lokal sulit bergerak bebas. Tambah lagi, MSCI bekukan tinjauan indeksnya. MSCI adalah penyedia indeks saham global. 
Advertising

BACA JUGA: 
BRI Super League : Persib Memulihkan Kondisi Fisik dan Mental Menjelang Pertandingan Melawan Bhayangkara
Tinjauan ini biasa nilai pasar negara berkembang seperti Indonesia. Pembekuan ini bikin investor asing ragu. Mereka tarik modal besar-besaran dari Bursa Efek Indonesia. Data dari sumber Keuangan ungkap fakta keras. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) alami jual bersih asing Rp 24,27 triliun sejak Januari 2026. Angka ini paling tinggi. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ikut kena, Rp 6,81 triliun. Harga saham BBCA rebah 25,08 persen. 
Kini di Rp 6.050 per lembar. BBRI turun 16,12 persen jadi Rp 3.070. Penurunan ini cepat dan dalam. Investor lihat ini sebagai sinyal bahaya. Bank lain tak luput. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melemah 11,76 persen ke Rp 4.500. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) anjlok 13,73 persen ke Rp 3.770. Keempat bank ini jadi tulang punggung indeks saham utama. Saham mereka biasa tarik dana asing besar.
Kustodian Sentral Efek Indonesia (KPEI) catat perubahan kepemilikan. Dalam tiga bulan terakhir, asing kurangi saham BBNI 8,09 persen. BBCA turun 7,04 persen. BMRI merosot 2,26 persen. BBRI berkurang 1,4 persen. Penurunan ini tunjuk keluarnya dana asing masif. Bank-bank besar ini pegang kapitalisasi pasar tinggi. 
Advertising

BBCA dan BBRI misalnya, sering jadi favorit investor. Tapi kini, aksi jual asing tekan seluruh sektor keuangan. Pasar saham Indonesia hadapi tantangan likuiditas lebih dalam. Investor lokal harus waspada. Mereka tanya, kapan aliran dana asing kembali? Saat ini, tekanan jual masih kuat.
Kode SahamHarga Penutupan (Rp)Koreksi YTD (%)Net Sell Asing (Rp)
BBCA6.05025,0824,27 Triliun
BBRI3.07016,126,81 Triliun
BMRI4.50011,765,88 Triliun
BBNI3.77013,732,57 Triliun

Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya bilang penurunan harga saham perbankan ini datang dari sentimen risiko. Bukan karena kinerja keuangan perusahaan yang tetap kuat. Pasar sekarang fokus pada risiko campur tangan pemerintah di bank-bank utama. Tekanan harga ini tunjukkan kekhawatiran pasar. Bukan masalah dasar perusahaan. "Tekanan harga lebih mencerminkan kekhawatiran, bukan pelemahan fundamental," kata Andrey Wijaya dari RHB Sekuritas. 
Advertising

BACA JUGA: 
Tehnologi : Pendapatan Intel melebihi ekspektasi berkat pergeseran dalam tren infrastruktur AI
Andrey tambah bahwa aturan pemerintah soal dana untuk program khusus bikin citra buruk. Itu soal kualitas pinjaman bank dan keuntungan mereka. Terutama di bank milik negara atau Himbara seperti BRI, BNI, Mandiri, dan BTN. Investor takut aset bank jadi bermasalah. Margin juga tertekan karena biaya dana naik. Kekhawatiran ini tambah parah dari luar negeri. Lembaga MSCI, yang kelola indeks saham dunia, tunda ulas indeks untuk Mei 2026. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta bilang itu rusak nama baik bursa saham Indonesia. 
 
 "Itu pukulan keras. Muncul rasa takut Indonesia turun jadi frontier market gara-gara masalah likuiditas dan campur tangan pasar yang kelewatan," ujar Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas. Frontier market itu pasar berkembang rendah. Lebih kecil dan berisiko dari emerging market seperti Indonesia sekarang. Investor asing ragu taruh dana di sini. 
Advertising

BACA JUGA: 
Nasional : BMKG Mengeluarkan Peringatan Dini Mengenai Curah Hujan Tinggi pada Akhir April 2026
Nafan juga ingatkan risiko rugi dari nilai tukar. Rupiah anjlok lawan dolar AS lebih cepat daripada saham naik di bursa lokal. "Kenaikan saham 5% tak berguna kalau rupiah turun 7%. Investor tetap rugi karena kurs," kata Nafan Aji Gusta lagi. Bayangkan investor asing beli saham Rp100 ribu. Rupiah lemah bikin dollar mereka berkurang saat jual.  Kenaikan harga saham tak tutup kerugian itu. Pemerintah juga kena beban. Fiskal mereka tegang karena rupiah lemah. Founder Republik Investor Hendra Wardana jelaskan setiap Rp100 per dolar tambah defisit anggaran Rp800 miliar. Itu beban hutang luar negeri dan impor. "Itu bikin ruang gerak pemerintah sempit untuk stabilkan keadaan. Pasar baca ini sebagai sinyal buruk," tegas Hendra Wardana. Dari sudut teknikal, harga saham bank besar masih turun tajam. Tren ini bahaya untuk jangka pendek. Pelaku pasar harus hati-hati.
"Kondisinya masih bikin cemas," kata Hendra Wardana.
Hendra prediksi tekanan jual lanjut. Selama ketidakpastian dunia dan rupiah lemah tak pulih kuat. "Berita buruk beneran baru muncul setelah pasar serap berita buruk terakhir sepenuhnya. Sampai sekarang, itu belum terjadi," tutup Hendra Wardana dari Republik Investor. Investor perlu pantau tanda pemulihan rupiah. Dan keputusan MSCI selanjutnya. Fundamental bank solid bisa jadi penopang kalau sentimen membaik. Tapi sekarang, waspadalah.
EditorRedaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait
Share:
You Might Like
×
Rekomendasi
×
Iklan
📧 Dapatkan Berita Terbaru Langsung ke Email!

b

×

Premier League

Close Ads
Close Ads

Most Post

Serie A

Archive

Total Pageviews