
Indonesia, Perssilam - Harga minyak mentah dunia naik lebih dari 1% saat perdagangan berakhir pada Kamis, 9 April 2026. Harga tetap di bawah 100 dollar AS per barel untuk hari kedua. Kenaikan ini muncul karena gencatan senjata di Timur Tengah masih bertahan. Israel juga siap mulai bicara damai dengan Lebanon. Menurut Reuters, minyak Brent tambah 1,17 dollar AS. Itu naik 1,2% jadi 95,92 dollar AS per barel. Harga sempat capai 99,50 dollar AS sebelum turun sedikit. Brent adalah patokan harga minyak global dari Laut Utara. Sementara minyak WTI naik 3,46 dollar AS atau 3,7%. Harganya capai 97,87 dollar AS per barel. WTI jadi acuan utama di Amerika Serikat.
Advertising
Sebelumnya harga minyak melonjak lebih dari 5%. Itu gara-gara khawatir gencatan senjata AS dan Iran tak bertahan. Kekhawatiran ini picu masalah distribusi energi lewat Selat Hormuz. Selat Hormuz adalah jalur sempit antara Iran dan Oman. Jalur ini vital untuk pasokan minyak dan gas dunia. Kenaikan harga lalu mereda. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bilang akan buka bicara damai dengan Lebanon. Pembicaraan itu bahas pelucutan senjata Hizbullah. 
Netanyahu tekankan demiliterisasi Hizbullah. Tujuannya bentuk hubungan damai antara Israel dan Lebanon. Hizbullah adalah kelompok bersenjata di Lebanon yang sering bentrok dengan Israel. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih rendah. Hanya di bawah 10% dari biasa. Iran peringatkan kapal agar tetap di perairannya. Selat ini lewati 20% pasokan minyak dan gas dunia. Produsen seperti Irak, Arab Saudi, Kuwait, dan Qatar kirim minyak lewat sini ke pasar global. Saat lalu lintas macet, harga minyak langsung naik karena pasokan terganggu.
Kekhawatiran tambah setelah Arab Saudi laporkan serangan. Serangan itu kurangi produksi minyak 600.000 barel per hari. Jalur pipa Timur-Barat juga kena dampak. Kapasitasnya turun 700.000 barel per hari. Pipanya bawa minyak dari ladang timur ke pelabuhan barat Saudi.
Advertising
Trader minyak Shohruh Zukhritdinov bilang pasar sadar sekarang. Meski Selat Hormuz buka, ekspor Saudi tetap terganggu. Dampak serangan pada infrastruktur butuh waktu berminggu-minggu untuk pulih. Trader ini lihat pasar mulai hitung risiko jangka panjang.
Serangan Israel ke Lebanon pada Kamis tambah ketegangan. Itu berpotensi rusak gencatan senjata. Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior Perdagangan di BOK Financial, jelaskan harga pulih karena lalu lintas Hormuz terbatas. Angkanya jauh di bawah harapan pasar. Kissler catat kapal masih ogah lewat karena ancaman.
Advertising
Susannah Streeter, Kepala Strategi Investasi di Wealth Club, nilai risiko di kawasan itu tinggi. Pengiriman mulai pulih sedikit. Tapi premi asuransi kapal naik tajam. Biaya kirim juga tetap mahal. Streeter ingatkan investor soal ketidakpastian ini. Kawasan Timur Tengah selalu pengaruh harga energi dunia karena cadangan minyaknya besar. Saat konflik muncul, pasar langsung bereaksi cepat.
Harga bisa lompat tinggi lagi jika gencatan senjata gagal. Investor tanya-tanya soal kestabilan pasokan dari Teluk Persia. Data lalu lintas Hormuz tunjukkan masalah nyata, bukan sekadar rumor. Arab Saudi sebagai produsen terbesar coba pulihkan produksi, tapi butuh alat dan tenaga kerja ekstra. Pasar minyak global sensitif pada berita seperti ini. Kenaikan harga hari ini beri sinyal risiko masih ada meski turun dari puncak.
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait










