
Indonesia, Perssilam - Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia cabang Provinsi Lampung bertindak tegas. Melalui Panitia Disiplin Liga 4 Piala Gubernur Lampung, mereka hukum pemain Farmers Angonsaka FC bernama Fandi Ega Pratama. Sanksi utamanya larangan ikut semua kompetisi resmi PSSI selama tiga tahun penuh. Panitia ambil langkah ini usai cek teliti laporan pertandingan final Liga 4. Pertandingan itu antara Farmers Angonsaka FC lawan TS Saiburai Lampung FC. Laga digelar Jumat, 13 Februari 2026, di Stadion Pahoman. Stadion ini jadi saksi bisu banyak even sepakbola Lampung.
Skor akhir 1-0 condong ke Farmers Angonsaka FC. Mereka raih gelar juara. Tapi insiden buruk terjadi di menit ke-47. Fandi Ega Pratama pukul pemain lawan dari TS Saiburai, Afrizal. Bukti datang dari laporan wasit dan wasit tambahan. Video pertandingan juga ditonton ulang berkali-kali. Wasit utama, I Komang Agus Sapayana, langsung kasih kartu merah ke Fandi. Afrizal sendiri dapat kartu kuning kedua lalu kartu merah. Alasannya, Afrizal langgar duluan. Kedua pemain keluar lapangan lebih awal. Insiden ini ganggu jalannya laga final yang seharusnya penuh semangat.
Pelaksana Tugas Ketua PSSI Lampung, Kombes Pol Sumardji, puji kerja tim wasit. Mereka patuh pada Laws of the Game. Aturan ini standar internasional dari FIFA. Sumardji bilang begitu dalam keterangan tulis pada Minggu, 15 Februari 2026. "Kami periksa laporan dan rekaman secara lengkap. Tindakan wasit tepat. Sesuai aturan permainan," tegas Sumardji. Pernyataannya tunjukkan proses adil. Panitia tidak asal hukum. Mereka bandingkan fakta dari berbagai sumber.
Sanksi dasar pada Kode Disiplin PSSI 2025. Buku aturan ini atur pelanggaran berat. Misalnya, tindak kekerasan fisik di lapangan. Pasal-pasalnya tegas soal larangan ikut kompetisi. Fandi langgar aturan itu. Hukuman tiga tahun bukan ringan. Tambahan denda Rp2.500.000 harus dibayar Fandi. Sumardji pertimbangkan usia pemain. Fandi baru 22 tahun. Masa depan kariernya masih panjang. "Kami harap dia belajar dari ini. Perbaiki sikap. Jaga karier sepakbolanya," kata Sumardji. Keputusan panitia final. Tidak ada banding lagi. PSSI Lampung ingatkan semua pihak. Pemain, pelatih, manajer klub, dan wasit harus taat. Junjung sportivitas tinggi. Patuhi semua regulasi PSSI. Langkah ini penting untuk sepakbola Lampung. Provinsi ini punya banyak talenta muda. Tapi disiplin kunci kemajuan. Tanpa hormat antar pemain, kompetisi rusak. Pembinaan bola harus bareng disiplin. Sikap saling hormat jadi pondasi..png)
.png)
Kasus Fandi jadi pelajaran nyata. Liga 4 Piala Gubernur Lampung kompetisi tingkat provinsi. Banyak tim lokal ikut. Finalnya tarik penonton banyak. Insiden seperti ini bisa noda citra. PSSI ingin bersihkan itu. Sumardji tekankan pembinaan holistik. Sepakbola Lampung maju kalau semua patuh aturan. Pemain belajar kendali emosi. Di menit krusial seperti 47, satu pukul bisa hancurkan karier. Fandi kini istirahat tiga tahun. Waktu itu cukup untuk introspeksi. PSSI Lampung pantau ketat ke depan. Mereka siap hukum pelanggar lain. Tujuannya ciptakan lingkungan sehat. Semua demi kemajuan bersama. Klub seperti Farmers Angonsaka dan TS Saiburai bisa fokus prestasi. Bukan ribut di lapangan.
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :













