Indonesia, Universitas Columbia di Amerika Serikat ciptakan android canggih. Android ini pelajari gerak bibir manusia dengan sangat nyata. Ia bisa bicara dan nyanyi pakai video YouTube.Proyek ini pimpin Creative Machines Lab. Ia jadi yang pertama di dunia. Sistem otonom kuasai gerak bibir alami lewat penglihatan saja. Tak perlu aturan fonetik manual.Pencapaian ini atasi tantangan besar robot humanoid. Ekspresi wajah sering kaku. Itu bikin tampilan tak alami.
Advertising
Robotika maju pesat di bidang lain. Robot bisa jalan stabil. Bisa genggam benda halus. Ketangkasan motorik tingkat tinggi. Tapi gerak wajah sulit. Khusus bibir saat bicara. Banyak robot top masih gerak mulut seperti boneka kayu. Itu picu efek uncanny valley. Efek ini rasa tak nyaman. Manusia lihat sesuatu mirip manusia. Tapi belum sempurna. Contohnya robot Sophia. Gerak bibirnya kaku. Bikin penonton gelisah. Peneliti pakai cara belajar baru. Bukan aturan kaku untuk vokal atau fonem. Robot eksperimen sendiri. Lalu tiru gerak manusia. Wajah robot pakai kulit sintetis lembut. 26 motor mini gerakkan. Ini tiru otot halus saat bicara manusia.

Langkah pertama di depan cermin. Robot hasilkan ribuan ekspresi acak. Ia amati sendiri. Pahami hubung motor dan bentuk wajah. Proses ini namanya self-exploration. Robot eksplorasi diri tanpa bantuan luar. Setelah paham diri sendiri. Robot pelajari manusia. Analisis jam-jam video YouTube. Video bicara dan nyanyi. Bangun data statistik. Hubung suara dan gerak bibir.
Advertising
Modelnya vision-to-action atau VLA. Ubah audio langsung jadi perintah motor. Sinkron sempurna. Tanpa program fonetik khusus. Tes tunjuk hasil bagus. Robot selaraskan bibir di banyak bahasa. Nyanyi lagu dari album AI Hello World. Masih lemah di konsonan keras seperti B. Atau suara bibir mengerucut seperti W. Tapi kemajuan besar.
Semakin interaksi dengan manusia, semakin bagus. Kata Hod Lipson. Ia direktur Creative Machines Lab. Profesor teknik mesin Columbia. Kutipan dari Techspot.Terobosan ini lebih dari hiburan. Tingkatkan komunikasi manusia-mesin. Bikin lebih dalam.Yuhang Hu, peneliti utama, bilang begini. Ekspresi nyata tambah rasa emosi. Padu dengan AI seperti ChatGPT atau Gemini. Interaksi jadi natural. Lebih bermakna.
Advertising
Lipson sebut riset isi celah lama. Penelitian lama fokus kaki dan tangan. Wajah diabaikan. Padahal krusial. Terutama robot di sekolah, rumah sakit, perawatan lansia. Bayang robot temani anak belajar. Atau obrolan dengan pasien tua. Produksi robot humanoid naik global. Ekonom ramal miliaran unit dalam dekade. Realisme wajah tentukan sukses pasar. Hu bilang, kami hampir lewati uncanny valley. Tak ada masa depan tanpa wajah robot yang gerak benar. Tapi tantangan ada. Psikologis dan etika. Robot mirip manusia bikin batas emosi kabur. Lipson tekankan hati-hati. Langkah pelan. Rebut manfaat. Hindari risiko tak diinginkan.
Editor: Redaktur Perssilam Silampari NewsBerita dan Artikel lainnya di :
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Reaksi : Artikel Terkait