
Indonesia-Perssilam, Jumlah unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bangkalan terus bertambah pesat. Hal ini menarik perhatian khusus dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). SPPG ini bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program nasional itu tujuannya beri makan bergizi gratis ke masyarakat, terutama anak sekolah dan kelompok rentan. Sekarang, ada 80 unit SPPG yang sudah aktif di Bangkalan. Aktif artinya punya kepala dapur dan siap jalan. Dari situ, 60 unit sudah beroperasi di 18 kecamatan. Sebarkan layanan ke hampir seluruh wilayah. Tapi, baru 28 unit yang pegang Surat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). SLHS ini bukti bahwa dapur memenuhi standar kebersihan dan sanitasi. Sisanya, 52 unit, masih urus dokumen itu.
Temukan lebih banyak
Bisnis
Humas Pengurus Besar IDI, dr. Farhat Suryanigrat, bicara tegas soal ini. Dia bilang, tambah SPPG butuh pengawasan ketat terus-menerus. Fokusnya pada kualitas MBG. Tujuannya jamin makanan aman. Pastikan gizi terpenuhi. Dan jaga kebersihan saat sajikan menu. "Ketika nakes dapat MBG, mereka bisa cek kualitas gizi langsung. Jadi, kualitas MBG terkontrol. Makanya, butuh pengawasan lewat nakes sebagai penerima," kata dr. Farhat pada Sabtu, 31 Januari 2026. Dr. Farhat bukan ahli gizi. Tapi, sebagai Dirut RSUD Bangkalan, dia pantau perkembangan MBG dekat. Beberapa SPPG sudah bagus. Mereka sajikan menu yang gizinya cukup. Tapi, di tempat lain masih ada masalah. Seperti proses masak kurang higienis atau gizi tak seimbang.Dia tekankan lagi peran tenaga kesehatan (nakes). Nakes jadi penerima manfaat MBG. Jadi, pengawasan gizi jadi mudah. Mereka makan langsung, lalu nilai kualitasnya. Ini bantu perbaiki cepat.
Bangkalan hadapi tantangan besar soal standarisasi layanan gizi. SPPG tumbuh cepat untuk tutup semua kecamatan. Tapi, distribusi makanan massal rawan risiko. Kontaminasi bisa muncul jika tak awasi. Nilai gizi juga bisa turun saat simpan atau masak. Kurang SLHS jadi sinyal bahaya. Otoritas kesehatan harus ketat. SLHS pastikan dapur aman dari bakteri atau kotoran. Tanpa itu, makanan bisa bahaya.
Advertising
Solusi sederhana: libatkan nakes sebagai pengawas. Mereka terima MBG sekaligus cek. Ini ciptakan kontrol berkelanjutan. Gabung layanan puskesmas dengan SPPG. Puskesmas punya nakes terlatih. Hasilnya, Bangkalan bisa jadi contoh daerah sukses.
Dengan cara ini, operasional dapur cepat. Tapi keamanan pangan tetap terjamin. Sertifikasi SLHS naik bertahap. Gizi masyarakat terjaga. Nakes bantu pantau harian. Misal, di kecamatan padat seperti kota Bangkalan, 60 unit sudah jalan. Mereka sajikan ribuan porsi harian. Cek langsung oleh dokter atau perawat bikin beda.
IDI dukung penuh. Mereka ingatkan pemerintah daerah. Pengawasan bukan sekali jadi. Harus rutin. Setiap hari, menu MBG dicek gizi dan bersih. Penerima seperti nakes beri umpan balik cepat. Jika ada cacat, langsung perbaiki.
Temukan lebih banyak
BUSINES SERVICES AND PROCUREMENT
BACA JUGA:Premier League : Mikel Arteta mendesak untuk menambah kuota skuad dalam pertandingan Liga Inggris
Di RSUD Bangkalan, dr. Farhat lihat sendiri. Beberapa SPPG lokal sudah standar nasional. Menu seimbang protein, karbo, sayur. Tapi, titik jauh di kecamatan pinggir masih lemah. Transport makanan jauh bikin gizi hilang. Makanya, nakes lokal penting. Langkah ini jawab kekhawatiran umum. Masyarakat tanya, aman kah MBG? Ya, jika awasi benar. SLHS wajib semua unit. Prosesnya percepat. Nakes jadi mata dan telinga di lapangan. Bangkalan maju sebagai percontohan MBG aman dan bergizi.
Temukan lebih banyak
Musi Rawas
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :







.png)








