
Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak naik turun sepanjang sesi perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini. IHSG yang mencerminkan performa keseluruhan saham di pasar domestik ini sempat ragu-ragu. Tapi akhirnya indeks itu tutup lebih tinggi. Kenaikannya capai 0,72 persen atau 63,58 poin. Level penutupannya kini di 8.948 poin.
Dari total saham yang diperdagangkan, 358 saham harga naik. Sebanyak 349 saham malah turun harganya. Sisanya 251 saham tetap diam di tempat. Sektor bahan baku unjuk gigi paling kuat. Sektor industri dan properti ikut dorong kenaikan. Ketiga sektor ini jadi tumpuan utama IHSG hari ini.
Tim Analis Phintraco Sekuritas bilang hal itu jelas. "IHSG berfluktuasi karena ketidakpastian global dan domestik," kata mereka Selasa (13/1/2026). "Tapi kenaikan harga komoditas dari saham terkait dorong IHSG naik." Komoditas seperti batubara dan nikel memang lagi kuat. Saham-saham produsennya untung besar.
Di awal perdagangan, IHSG sudah menguat 0,52 persen. Sementara nilai tukar rupiah tambah lemah. Rupiah kini di Rp16.877 per dolar AS. Tekanan ini datang dari faktor luar.
Tim Phintraco perkirakan IHSG belum capai 9.000 saat tutup. Jadi indeks ini masih konsolidasi. Rentangnya di 8.840 hingga 9.000 poin. Konsolidasi artinya pasar istirahat sambil cari arah baru. Investor tunggu sinyal lebih kuat.
Indeks LQ45 juga naik seharian. LQ45 ini kumpulan 45 saham terpilih dan paling likuid di BEI. Saham yang pimpin penguatan termasuk MBMA, PGEO, MDKA, ADRO, dan JPFA. MBMA naik karena permintaan baja domestik. PGEO untung dari energi. MDKA dan ADRO dorong oleh harga batubara dan emas. JPFA kuat di unggas dan pakan.
Volume perdagangan hari ini ramai. Sebanyak 60,53 miliar lembar saham berpindah tangan. Frekuensi transaksi capai 3,75 juta kali. Nilai totalnya Rp33,47 triliun. Kapitalisasi pasar BEI kini Rp16.253 triliun. Angka ini tunjukkan aktivitas pasar tetap tinggi meski fluktuatif.
Bursa saham Asia lain juga tutup hijau. Nikkei 225 di Jepang pimpin dengan kenaikan 3,1 persen. Indeks ini wakili perusahaan besar Jepang seperti Toyota dan Sony.
Investor Asia abaikan risiko geopolitik. Titik panas ada di Iran dan Venezuela. Presiden Trump ancam tarif dagang 25 persen. Sasarannya negara yang bisnis dengan Iran. Ancaman ini bikin pasar tegang. Tapi investor fokus data ekonomi.
Tim Phintraco soroti data Tiongkok. Neraca perdagangan Desember 2025 surplus USD105 miliar. Angka ini turun dari USD111,68 miliar di November. Investor pantau ini karena Tiongkok pabrik dunia.
Penjualan ritel Tiongkok November 2025 tumbuh 0,3 persen dari bulan sebelumnya. Data itu lebih baik dari stagnan Oktober. Ini beri harapan pemulihan konsumsi. Investor harap data Desember ikut positif. Pasar saham Asia naik karena sentimen ini kuat. IHSG ikut tren regional meski rupiah lemah.
Dengarkan
Berita dan Artikel lainnya di :













