
Indonesia, Di bawah cahaya lembut lampu Pendopo Kabupaten Purworejo, alunan gendhing Jawa mengalir pelan seperti sungai tenang. Denting gamelan yang halus berpadu dengan suara tembang tradisional. Suasana teduh itu tercipta di acara Gendhing Setu Legi. Acara ini digelar setiap Sabtu di Pasar Legi.Pasar Legi adalah salah satu hari dalam siklus pasaran Jawa yang ramai dikunjungi warga.
Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian atau Dinkominfostasandi Kabupaten Purworejo menggagas acara ini. Tujuannya sederhana. Jadikan ruang pertemuan tradisi dan masyarakat sehari-hari. Kali ini, acara terasa lebih istimewa. Ia bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-195 Kabupaten Purworejo. Pendopo itu sendiri adalah balai utama kabupaten. Tempat resmi untuk kegiatan pemerintahan dan budaya.
Temukan lebih banyak
Bisnis
Advertising
BACA JUGA:Nasional : Kapolri menolak usulan agar Polri berada di bawah kementerian khusus
Gendhing Setu Legi bukan sekadar hiburan. Ia jadi panggung refleksi budaya. Tradisi tak hanya dikenang. Ia dihidupkan lewat karya seniman daerah. Seniman tampil dengan penampilan penuh makna. Mereka bawakan gendhing-gendhing lama yang kaya cerita. Ini bantu warga rasakan napas masa lalu.
Bupati Purworejo, Yuli Hastuti, hadir saksikan acara itu. Ia nilai kegiatan ini punya arti besar. Arti bagi kelestarian budaya lokal. Budaya asing masuk deras ke kehidupan sehari-hari. Lewat film, musik, dan media sosial. Ini tantang eksistensi seni tradisi. Jika tak ada ruang ekspresi lokal, seni itu bisa pudar.
“Budaya lokal bisa perlahan memudar jika kita tidak merawatnya bersama. Karena itu, kegiatan seperti Gendhing Setu Legi menjadi sangat relevan untuk menjaga agar tradisi tetap hidup di tengah masyarakat,” kata Yuli dalam keterangan resminya pada Minggu, 25 Januari 2026. Ia tegas. Acara ini lebih dari pertunjukan seni. Ia wadah kreativitas seniman Purworejo.
Advertising
BACA JUGA:Tehnologi : Segera Ubah Kata Sandi! 149 Juta Akun Gmail dan TikTok Terungkap di Internet
Lewat panggung ini, seniman ekspresikan karya baru mereka. Mereka campur elemen tradisi dengan sentuhan modern. Ini perkenalkan kekayaan seni budaya daerah ke generasi muda. Anak muda sering sibuk dengan tren global. Acara seperti ini tarik mereka kembali ke akar budaya. Bupati beri apresiasi pada seniman dan pihak terkait. Mereka konsisten jaga denyut kebudayaan Purworejo.
Temukan lebih banyak
BUSINES SERVICES AND PROCUREMENT
Ia harap semangat berkesenian terus tumbuh. Jangkau warga dari berbagai kalangan. Mulai petani di desa hingga pelajar di kota. Peringatan Hari Jadi ke-195 ini momentum khusus. Bukan hanya rayakan capaian bangunan dan infrastruktur. Lebih dalam lagi.
BACA JUGA:BRI Super League : Rombak Susunan Tim, Persijap Sangat Serius Memperbaiki Diri Di Putaran Kedua
Refleksi bagaimana nilai budaya jadi fondasi hidup masyarakat. “Dengan semangat guyub rukun, budaya harus menjadi perekat kebersamaan. Dari situlah persatuan tumbuh dan kemajuan daerah bisa dicapai,” tambah Yuli. Guyub rukun artinya gotong royong dalam harmoni. Nilai Jawa kuno yang kuat. Acara ini hidupkan nilai itu. Warga kumpul, nikmati seni, dan bangun ikatan. Di tengah arus globalisasi, langkah seperti ini vital. Ia pastikan tradisi Purworejo tetap bernyawa. Generasi mendatang pun bisa warisi warisan leluhur dengan bangga.
Berita dan Artikel lainnya di :
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Tag :
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)






.png)








