
Indonesia, Anggota Komisi I DPR RI Okta Kumala Dewi ungkapkan keprihatinan yang dalam. Ia nilai serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela sebagai tanda jelas. Hukum internasional kini tampak rapuh di tatanan dunia saat ini.
Dunia kini hadapi situasi pilu. Negara-negara besar abaikan aturan bersama. Padahal Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa tegas larang hal itu. Pasal 2 ayat 4 nyatakan larangan pakai kekuatan. Juga ancaman kekuatan terhadap wilayah utuh negara lain. Dan kedaulatannya. Okta sampaikan ini di Jakarta. Pada Rabu, 7 Januari 2025.
Ia tegaskan Venezuela adalah negara merdeka penuh. Hukum dunia tak izinkan serangan militer sepihak dari negara lain. Tindakan begini langgar prinsip dasar hubungan antarnegara. Itu bisa rusak fondasi perdamaian global.
Okta bilang tindakan AS berisiko ciptakan contoh buruk. Aktor lain di kawasan berbeda bisa tiru langkah serupa. Misal di Timur Tengah atau Asia. Hal ini ancam kestabilan dunia. Keamanan global jadi taruhan besar.
Indonesia memang jauh secara peta dari Venezuela. Tapi Okta khawatir praktik ini jadi kebiasaan. Konflik bersenjata bisa muncul di mana saja. Di Asia Tenggara misalnya. Atau wilayah Pasifik. Perdamaian dunia terancam.
Legislator Fraksi PAN ini minta Kementerian Luar Negeri bertindak cepat. Siapkan rencana evakuasi Warga Negara Indonesia di Venezuela. Jika keamanan sana memburuk parah.
Negara wajib lindungi rakyatnya. Itu perintah Pembukaan UUD 1945. Lindungi seluruh bangsa Indonesia. Dan seluruh tanah airnya. Keselamatan WNI jadi prioritas nomor satu. Okta tekankan poin ini dengan tegas.
Okta dorong Kemlu lebih vokal. Mainkan peran besar lewat diplomasi banyak pihak. Di forum regional seperti ASEAN. Juga forum dunia seperti PBB. Libatkan negara lain. Dorong turunkan ketegangan konflik. Ciptakan kestabilan dunia lagi.
BACA JUGA:Menpora mempersiapkan 'Industri Olahraga-Wisata' sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang baru
Ia soroti pesimisme masyarakat dunia terhadap PBB. Organisasi ini lemah hadapi konflik besar. Terutama jika libatkan negara kuat. Dan kepentingan strategis mereka. Contoh kasus Venezuela tunjukkan batas PBB sekarang.
Kondisi ini tak boleh dibiarkan berlarut. Indonesia harus pimpin suara reformasi PBB. Biar organisasi itu kerja maksimal. Adil bagi semua. Berwibawa penuh. Jalankan tugas utama. Jaga perdamaian dan keamanan dunia.
Okta harap langkah ini cegah eskalasi lebih lanjut. Venezuela butuh dukungan internasional. Indonesia bisa jadi jembatan diplomasi. Dengan begitu dunia hindari jurang perang baru. Stabilitas kembali ke rel yang benar. (Red)
Dengarkan
Berita dan Artikel lainnya di :













