![]() |
Dante bilang angka gangguan kesehatan mental di Indonesia masih tinggi. Sekitar 2 persen remaja di atas usia 15 tahun alami depresi. Depresi ini bikin mereka sedih berkepanjangan, kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari, dan sulit jalani rutinitas. Sebagian lagi alami psikosis. Psikosis muncul saat penderita sulit bedakan kenyataan dengan halusinasi atau delusi. “Angka gangguan kesehatan mental di Indonesia masih cukup tinggi. Sekitar 2 persen remaja usia di atas 15 tahun mengalami depresi dan sebagian mengalami psikosis,” ujar Dante saat temui wartawan di sela seminar.
Data lain tunjukkan 4 dari setiap 1.000 keluarga di Indonesia punya anggota dengan masalah kesehatan mental. Kondisi ini picu angka bunuh diri yang tinggi. Banyak kasus bunuh diri terkait depresi tak tertangani atau tekanan sosial. Masalah ini ganggu keluarga dan masyarakat luas.
Dante jelaskan penanganan kesehatan mental butuh waktu. Tak bisa selesai sekejap. Strategi harus bertahap. Manfaatkan teknologi digital untuk bantu akses layanan. Kementerian Kesehatan RI sudah luncurkan layanan Healing 119. Ini konsultasi kesehatan mental gratis. Akses lewat WhatsApp atau telepon. Mudah dijangkau siapa saja, kapan saja.
Dalam tiga bulan pertama, Healing 119 catat lebih dari 10.000 kunjungan. Angka ini bukti banyak orang butuh bantuan cepat. Dante tegas bahwa kesehatan holistik meliputi tiga aspek. Pertama, kesehatan fisik seperti tubuh bebas penyakit. Kedua, kesehatan mental agar pikiran stabil. Ketiga, kesehatan sosial untuk hubungan baik dengan orang lain. Ketiganya saling dukung agar masyarakat kuat hadapi tantangan.
Seminar ini juga hadir Wakil Menteri Operasionalisasi Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Timor-Leste, Flávio Brandão M. de Araújo. Ia bahas kesehatan mental di negaranya. Masalah utama datang dari pasca-konflik. Konflik dahulu tinggalkan trauma dalam. Peristiwa kekerasan puluhan tahun lalu masih rasakan efeknya sekarang.
“Walaupun terjadi sudah puluhan tahun lalu, dampaknya masih dirasakan hingga saat ini oleh masyarakat. Gangguan yang banyak muncul berupa kecemasan, depresi, dan gangguan kepribadian,” kata Flávio saat temui wartawan di seminar yang sama. Kecemasan bikin orang gelisah terus-menerus. Depresi picu rasa putus asa. Gangguan kepribadian ubah pola pikir dan perilaku sehari-hari.
BACA JUGA:Grand Final Weyoco Junior Chef Indonesia Musim 5 Mempertemukan 50 Finalis
Banyak anak di Timor-Leste lahir dari orang tua yang alami trauma konflik. Luka psikologis ini turun ke generasi anak. Anak-anak tumbuh dengan beban emosi dari cerita orang tua. Dampak trauma sering baru kelihatan setelah 20 hingga 30 tahun. Baru saat dewasa, gejala muncul nyata.
Flávio nilai penanganan di daerah pasca-konflik butuh cara khusus. Salah satunya obati trauma masa kecil, atau inner child trauma. Ini bantu orang sadar dan pulihkan luka dari pengalaman buruk waktu kecil. Peran psikoterapis harus kuat. Mereka bantu di tingkat individu, satu per satu. Juga di tingkat komunitas, lewat kelompok dukungan.
“Salah satunya melalui penyembuhan trauma masa kecil atau inner child trauma. Peran psikoterapis di tingkat individu dan komunitas juga perlu diperkuat,” tambah Flávio. Pemerintah Timor-Leste kembangkan program supportive care. Program ini dampingi masyarakat sehari-hari. Bantu mereka hadapi masalah mental dengan pendampingan rutin.
Flávio tekankan kesehatan mental dipengaruhi banyak faktor. Faktor sosial seperti hubungan antarwarga. Faktor ekonomi seperti kemiskinan. Faktor politik seperti stabilitas pemerintahan. Ketiganya bekerja sama. Pengaruhnya saling timbal balik. Upaya penanganan harus tangani semua aspek ini agar efektif.
Seminar seperti ini buka mata akan urgensi kesehatan mental. Baik di Indonesia maupun Timor-Leste. Teknologi dan komunitas jadi kunci bangun masa depan yang lebih sehat.
BACA JUGA:Produk Altitud Rendah Antara Tarikan AERO Asia 2025
Tag :














