![]() |
| Hilirisasi pertambangan menjadi kebijakan utama di Indonesia |
Baca Juga:
Tapi, jumlah sumber daya alam yang besar tidak langsung bikin Indonesia jadi negara maju. Negara maju butuh lebih dari sekadar cadangan alam. Harus ada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ini berarti pendidikan yang lebih baik dan keterampilan kerja yang tinggi. Selain itu, perlu kuasai teknologi canggih. Teknologi ini bantu proses ekstraksi dan pengolahan yang efisien. Fakta hari ini tunjukkan Indonesia masih lemah di bidang itu. Banyak tenaga ahli kurang terlatih. Inovasi lokal juga masih minim. Akibatnya, pengelolaan sumber daya alam jadi kurang optimal. Kontribusinya untuk kemajuan negara belum maksimal. Misalnya, ekspor mentah mendominasi, bukan produk olahan bernilai tinggi.
Baca Juga:
Pemprov Jateng Menargetkan 71 Juta Wisatawan, Dengan Wisata Religi Sebagai Kekuatan Utama
Kita perlu jujur akui kondisi ini mirip dengan apa yang disebut Richard M. Auty sebagai kutukan sumber daya alam, atau resource curse. Konsep ini jelaskan fenomena aneh. Di satu sisi, negara punya stok alam yang berlimpah. Ia bisa hasilkan pendapatan besar dari penjualan. Tapi di sisi lain, rakyatnya justru tidak rasakan manfaatnya. Mengapa begitu? Sering kali, ketergantungan pada alam bikin ekonomi lain terabaikan. Korupsi dan konflik juga muncul. Auty, ekonom asal Inggris, perkenalkan ide ini pada 1993. Ia amati banyak negara kaya minyak atau mineral justru alami pertumbuhan lambat. Indonesia hadapi tantangan serupa. Pengelolaan yang buruk bikin ketimpangan sosial bertambah. Pendapatan negara naik, tapi kemiskinan tetap tinggi di daerah penghasil. Untuk lepas dari kutukan ini, Indonesia harus fokus bangun institusi kuat dan investasi pada pendidikan. Hanya begitu, kekayaan alam bisa benar-benar jadi berkah bagi semua.
Baca Juga:
Reaksi :














