
Musi Rawas, Perssilam News - Kolumnis Corriere dello Sport, Alberto Polverosi, menyoroti dua wajah berbeda yang ditunjukkan Inter Milan saat menghadapi AC Monza pada laga pembuka Serie A 2026-2027. Inter mengawali musim dengan kemenangan telak 4-1 atas Monza. Hasil tersebut terlihat meyakinkan di atas kertas. Namun, Polverosi menilai skor akhir tidak sepenuhnya menggambarkan jalannya pertandingan. Menurutnya, Inter tampil dalam dua bentuk yang berbeda sepanjang laga. Perubahan itu terlihat jelas setelah Nerazzurri mencetak gol pembuka dan mulai kehilangan kendali atas permainan. Polverosi menyebut penampilan Inter pada babak pertama dan babak kedua seperti diperagakan oleh dua tim berbeda. Ia membagi permainan tersebut menjadi Inter yang "palsu" dan Inter yang "asli". Inter palsu adalah tim yang tampil terlalu percaya diri setelah unggul. Mereka tidak lagi menjaga tekanan dengan cara yang sama seperti pada awal laga. Sementara itu, Inter asli adalah tim yang agresif, disiplin, dan mampu memaksa lawan bermain di bawah tekanan. "Ada dua Inter di laga perdana. Yang pertama palsu, yang kedua asli. Yang pertama sedikit sombong, sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya, yang kedua garang seperti biasanya," ujar Polverosi. Inter memang memulai pertandingan dengan sangat baik. Enam menit setelah laga dimulai, mereka mencetak gol indah melalui rangkaian empat umpan. Polverosi memberi perhatian pada pola serangan tersebut karena hampir seluruh umpan bergerak vertikal. Hanya umpan terakhir dari Diouf yang mengarah ke sisi lain sebelum peluang itu berakhir menjadi gol.
Rangkaian tersebut menunjukkan cara Inter membangun serangan dengan cepat. Bola bergerak ke depan, pemain terus mencari ruang, dan Monza tidak diberi waktu untuk mengatur pertahanan. Pada fase itu, Inter terlihat mampu mengendalikan tempo sejak awal. Mereka menyerang dengan arah yang jelas dan membuat gol tersebut terasa seperti hasil dari kerja tim, bukan aksi individu semata. Namun, keunggulan cepat itu juga membawa perubahan pada sikap Inter. Setelah mencetak gol, para pemain Nerazzurri dinilai mulai mengira bahwa mereka dapat mengatasi Monza tanpa usaha yang sama besar. Intensitas menurun. Pergerakan tanpa bola tidak lagi seagresif sebelumnya. Tekanan terhadap pemain Monza pun berkurang. "Dan ketika Inter menjadi diri mereka sendiri, tak ada yang bisa menandingi. Kesannya usai enam menit, usai gol indah hasil rangkaian empat umpan yang seluruhnya vertikal kecuali umpan terakhir dari Diouf, Inter seolah membayangkan superioritas yang datang begitu saja terhadap Monza," kata Polverosi. Menurut sang kolumnis, perubahan itu membuat pertandingan berbalik arah saat skor masih 1-0. Inter tidak lagi berusaha menutup pertandingan dengan tekanan tinggi. Monza, meski memiliki kualitas teknis yang berada di bawah Inter, tetap menemukan keberanian untuk keluar menyerang. Mereka mulai membuka ruang, mengalirkan bola dengan lebih bebas, dan mencari celah di pertahanan tuan rumah.
"Justru pada skor 1-0, laga berbalik arah. Inter tak lagi berusaha menutup pertandingan, sementara Monza, meski kalah kelas teknis, mencoba membuka kembali peluang. Dan mereka berhasil tepat ketika tim asuhan Chivu benar-benar terlena." Komentar tersebut menyoroti masalah utama Inter pada babak pertama. Keunggulan awal tidak diikuti konsentrasi yang stabil. Tim asuhan Chivu membiarkan Monza kembali percaya diri. Padahal, dalam pertandingan Serie A, lawan tetap dapat menghukum kesalahan kecil ketika diberi ruang dan waktu untuk berkembang. Situasi berubah setelah jeda. Polverosi menduga Chivu menyampaikan pesan tegas di ruang ganti. Inter kemudian tampil dengan sikap yang berbeda pada awal babak kedua. Tim yang terlihat lembek dan terlalu santai pada babak pertama kembali menunjukkan tekanan, keberanian, serta kecepatan yang menjadi ciri permainan mereka. "Di babak kedua, sesuatu pasti disampaikan Chivu kepada anak-anak asuhannya saat jeda, karena di awal babak kedua, Inter yang lembek di babak pertama sudah tak lagi terlihat, melainkan kembali menjadi Inter lama." Inter kembali bermain lebih langsung. Para pemain bergerak dengan tujuan yang lebih jelas. Tekanan diberikan lebih cepat, sirkulasi bola menjadi lebih tajam, dan Monza kembali kesulitan mempertahankan bentuk pertahanannya. Perubahan ini membuat Inter mampu mengambil kembali kendali pertandingan setelah sebelumnya memberi lawan kesempatan untuk bangkit.
Polverosi juga memberikan pujian khusus kepada Pio. Ia menggambarkan pemain tersebut sebagai sosok yang kuat, agresif, dan tidak mudah menyerah ketika berada di area penalti. Perannya dianggap penting karena ia mampu menghadapi bek lawan dengan berbagai cara. Pio dapat menerima bola dengan membelakangi gawang, tetapi juga mampu berbalik dan menyerang ruang di depannya. "Pio adalah kekuatan alam, tak pernah menyerah, di kotak penalti ia seperti singa sekaligus rusa, sekeras marmer namun selentur karet, bisa bermain membelakangi maupun menghadap gawang, dan yang terpenting kondisinya sudah sangat prima," ujar Polverosi. Bagi Polverosi, sosok seperti Pio membantu menjelaskan perbedaan Inter pada babak kedua. Ketika tim kembali menekan dan bermain dengan keyakinan penuh, kemampuan fisik serta ketajaman di kotak penalti menjadi senjata penting. Inter tidak hanya mengandalkan penguasaan bola, tetapi juga keberanian untuk terus menyerang setelah mendapatkan peluang. Kemenangan 4-1 atas Monza tetap menjadi awal yang sangat baik bagi Inter. Namun, penilaian Polverosi mengingatkan bahwa hasil besar tersebut juga menyimpan catatan. Nerazzurri perlu menjaga fokus setelah mencetak gol dan tidak membiarkan keunggulan membuat mereka kehilangan agresivitas. Saat tampil sebagai "Inter yang asli", mereka mampu menguasai laga dan membuat lawan kesulitan. Saat terlalu yakin dengan keunggulan, permainan mereka memberi Monza kesempatan untuk kembali ke pertandingan.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Tags :