Selamat Datang dan Bergabung Bersama Perssilam Silampari News teknologi app iconDownload App Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga menargetkan agar kredit untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencapai Rp2.000 triliun ~ Perssilam Silampari News
×
W3.CSS
Dark Mode

Pages

Memuat berita...

Wednesday, 12 August 2026

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga menargetkan agar kredit untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencapai Rp2.000 triliun


Musi Rawas, Perssilam News - Pemerintah menaikkan target penyaluran kredit untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM menjadi Rp2.000 triliun. Sasaran ini disiapkan untuk memperkecil jarak pembiayaan yang masih terjadi di antara pelaku usaha. Pemerintah juga ingin mengisi ruang usaha menengah yang selama ini belum mendapat dukungan pembiayaan secara memadai. Target baru tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam UMKM Finance Summit 2026 di Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2026. Menurut Airlangga, penyesuaian target dilakukan setelah pemerintah melihat kondisi pembiayaan UMKM saat ini. Penyaluran kredit untuk kelompok usaha tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan total kredit perbankan nasional. Airlangga menyebut total kredit nasional berada di kisaran Rp9.000 triliun. Dari jumlah tersebut, pembiayaan untuk UMKM baru sekitar Rp1.500 triliun. Dengan angka itu, porsi kredit UMKM masih berada di bawah kebutuhan yang diharapkan pemerintah untuk mendukung pertumbuhan usaha kecil dan menengah. Secara ideal, pemerintah ingin meningkatkan porsi kredit UMKM menjadi 30 persen dari total kredit nasional. Jika menggunakan angka kredit nasional sekitar Rp9.000 triliun, porsi tersebut setara dengan kurang lebih Rp3.000 triliun. Target itu masih menjadi arah yang ingin dicapai dalam jangka panjang. Namun, pemerintah menilai kenaikan dari Rp1.500 triliun menjadi Rp3.000 triliun terlalu besar untuk dicapai dalam satu lompatan. Nilainya meningkat 100 persen. Karena itu, target sementara ditetapkan pada Rp2.000 triliun agar prosesnya dapat berjalan secara bertahap, terukur, dan sesuai dengan kemampuan penyaluran pembiayaan. "Peningkatan dari Rp1.500 triliun ke Rp3.000 triliun itu lompatannya 100 persen, karena itu, target kita sesuaikan menjadi Rp2.000 triliun. Ini yang saya sampaikan di summit, target naik ke Rp2.000 triliun," ujar Airlangga saat memberikan sambutan dalam ajang UMKM Finance Summit 2026 di Jakarta. Kenaikan target tersebut berarti pemerintah harus mendorong tambahan pembiayaan sekitar Rp500 triliun dari posisi saat ini. Tambahan itu tidak hanya diarahkan kepada usaha mikro dan kecil yang membutuhkan modal kerja. Pemerintah juga ingin memperluas akses pembiayaan bagi usaha menengah yang memiliki kebutuhan modal lebih besar dan berpotensi naik kelas. Airlangga menegaskan, pencapaian target Rp2.000 triliun tidak dapat hanya mengandalkan Kredit Usaha Rakyat atau KUR. KUR merupakan pembiayaan yang mendapat dukungan pemerintah dan ditujukan bagi pelaku usaha yang membutuhkan akses modal dengan skema yang lebih terjangkau. Program tersebut tetap akan dijalankan, tetapi cakupannya perlu dilengkapi dengan pembiayaan komersial. Pembiayaan komersial ditujukan kepada pelaku usaha yang sudah memiliki kegiatan bisnis lebih besar. 
Advertising


BACA JUGA:
Ruben Amorim menginginkan empat rekrutan baru untuk melengkapi skuad Milan
Kebutuhan modal mereka bisa digunakan untuk menambah kapasitas produksi, membeli peralatan, membuka cabang, memperluas pemasaran, atau memenuhi pesanan dalam jumlah besar. Untuk kelompok ini, plafon pembiayaan dapat dimulai dari Rp500 juta hingga Rp50 miliar atau lebih, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan usaha. Pemerintah melihat ada kelompok usaha di tengah yang belum sepenuhnya terlayani. Sebagian pelaku usaha sudah terlalu besar untuk hanya mengandalkan skema pembiayaan mikro. Namun, mereka juga belum memiliki akses yang cukup kuat ke sumber dana dengan nilai besar, termasuk pembiayaan melalui pasar modal. Ruang inilah yang ingin diisi melalui pembiayaan komersial. Airlangga menyebut sekitar 10 juta pelaku usaha belum terjangkau pembiayaan yang sesuai. Kelompok tersebut perlu mendapat dukungan dengan nilai pinjaman yang lebih besar, berkisar Rp5 miliar hingga Rp500 miliar, berdasarkan kebutuhan usaha dan kapasitas pembayaran masing-masing. "Sekitar 10 juta pelaku usaha yang belum terjangkau inilah yang perlu didorong dengan pembiayaan berkisar Rp5 miliar hingga Rp500 miliar. Ini penting agar kelompok usaha di tengah yang selama ini kosong bisa naik kelas mendekati porsi capital market yang saat ini sudah menguasai sekitar Rp7.500 triliun," kata Airlangga. Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya mengejar pertumbuhan jumlah kredit. Pemerintah juga ingin memperbaiki susunan pembiayaan nasional agar pelaku usaha memiliki pilihan dana yang sesuai dengan tahap perkembangan bisnisnya. Usaha mikro memerlukan modal dengan nilai dan persyaratan yang berbeda dari usaha menengah. Karena itu, satu jenis pembiayaan tidak bisa digunakan untuk semua kelompok. Pelaku usaha yang baru berjalan mungkin membutuhkan modal untuk membeli bahan baku dan menjaga arus kas. Usaha yang lebih besar dapat membutuhkan dana untuk membangun fasilitas produksi, membeli mesin, atau memenuhi kontrak penjualan. Kebutuhan tersebut memerlukan penilaian kredit, jangka waktu, dan nilai pembiayaan yang berbeda. Menurut Airlangga, peningkatan pembiayaan bagi kelompok usaha menengah menjadi tugas bersama Menteri UMKM Maman Abdurrahman, Otoritas Jasa Keuangan atau OJK, serta DPR. Kerja sama tersebut dibutuhkan untuk memperluas akses pembiayaan dan memastikan aturan yang dibuat sesuai dengan kondisi pelaku usaha. OJK memiliki peran dalam pengawasan lembaga jasa keuangan dan menjaga agar penyaluran dana berlangsung dengan baik. DPR berperan dalam pembentukan kebijakan dan pengawasan program pemerintah. Sementara itu, kementerian terkait perlu memastikan pelaku usaha yang menjadi sasaran benar-benar dapat mengakses pembiayaan yang tersedia.
Advertising

BACA JUGA: Kekayaan Elon Musk mencapai Rp14.276 triliun setelah saham SpaceX mengalami lonjakan
Airlangga juga menyebut masih ada perbedaan data mengenai jumlah UMKM di Indonesia. Sejumlah data menunjukkan jumlah unit UMKM berubah dari sekitar 64 juta menjadi 54 juta unit. Perbedaan itu membuat pemerintah perlu menyamakan sumber data dan metode pencatatan sebelum menetapkan kebijakan secara lebih tepat. Data yang jelas dibutuhkan untuk mengetahui jumlah pelaku usaha, bidang usaha, kebutuhan modal, serta wilayah yang belum memperoleh layanan pembiayaan. Tanpa data yang seragam, penyaluran kredit berisiko tidak mencapai kelompok yang paling membutuhkan. Pemerintah juga akan lebih sulit menilai apakah program yang berjalan sudah memberi hasil sesuai target. Di sisi lain, Airlangga menyatakan optimisme bahwa pertumbuhan kredit perbankan dapat kembali mencapai dua digit. Harapan tersebut dikaitkan dengan berbagai program pemerintah yang sedang berjalan. Dua program yang disebut antara lain penguatan Koperasi Merah Putih dan Program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Koperasi Merah Putih diharapkan ikut memperkuat kegiatan ekonomi di tingkat masyarakat. Sementara itu, pelaksanaan MBG dapat menciptakan kebutuhan barang dan jasa dari pelaku usaha di berbagai daerah. Keterlibatan UMKM dalam rantai pasok program pemerintah dapat membuka peluang penjualan sekaligus meningkatkan kebutuhan modal kerja. Peluang tersebut tetap harus diikuti penilaian yang cermat. Pelaku usaha perlu memiliki kemampuan untuk memenuhi pesanan, mengelola arus kas, dan membayar kembali pinjaman. Bank juga harus menilai kondisi usaha sebelum menyalurkan kredit, termasuk kemampuan usaha menghadapi perubahan penjualan dan biaya produksi.
Airlangga mengingatkan industri perbankan agar memperkuat manajemen risiko seiring dengan rencana perluasan pembiayaan. Manajemen risiko diperlukan untuk menjaga kualitas kredit dan mencegah penyaluran dana yang tidak sesuai dengan kemampuan debitur. Ekspansi kredit yang terlalu longgar dapat meningkatkan masalah pembayaran di kemudian hari. "Realisasi KUR sejauh ini sangat baik, tinggal kita jaga manajemen risikonya. Dengan berbagai program pemerintah yang berjalan, kita optimis penyaluran kredit tetap tumbuh kuat dan aman bagi industri perbankan," ujarnya. Pemerintah kini menghadapi dua sasaran yang harus dijalankan bersamaan. Penyaluran kredit perlu ditingkatkan agar lebih banyak UMKM memperoleh modal. Pada saat yang sama, kualitas pembiayaan harus dijaga agar pertumbuhan tersebut tidak menimbulkan beban baru bagi bank maupun pelaku usaha. Target Rp2.000 triliun menjadi tahap antara menuju sasaran porsi kredit UMKM sebesar 30 persen. Pemerintah memilih angka tersebut karena lebih dekat dengan kondisi pembiayaan saat ini dan dinilai lebih mungkin dicapai. Keberhasilannya akan bergantung pada perluasan KUR, pembiayaan komersial, perbaikan data UMKM, serta pengawasan risiko yang konsisten. 
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Tags :
Artikel Terkait
Share:
Nasional
Loading 6 berita Nasional...
RECOMMENDED
Loading 9 berita nasional...
Liga Inggris
Loading 6 berita Liga Inggris HD...
Anda Mungkin Juga Suka
You Might Like

🛒 Shopee Hari Ini

MOST VIEWED BRI SUPER LEAGUE

X
×

Other Latest

Loading...

Daftar Isi

    📧 Dapatkan Berita Terbaru Langsung ke Email!

    Premier League

    Close Ads
    Close Ads

    Serie A

    Archive

    🔥 Flash Sale Shopee Hari Ini

    Dapatkan voucher & gratis ongkir


    Total Pageviews

     

    ×