
Indonesia, Perssilam - Southampton kini menghadapi krisis besar. Asosiasi Sepak Bola Inggris atau FA resmi membuka investigasi baru. Mereka menyelidiki skandal spionase yang mengguncang klub dalam beberapa hari terakhir. Tekanan ini datang tepat setelah The Saints mendapat hukuman berat. Mereka dicoret dari play-off Championship. Selain itu, klub kena pengurangan empat poin untuk musim depan. Kasus ini terbongkar setelah Southampton mengaku memata-matai latihan Middlesbrough. Aksi itu dilakukan sebelum laga semifinal play-off Championship.
Advertising
Ternyata ini bukan kejadian pertama. Klub juga mengaku mengintip latihan Oxford United pada Desember lalu. Mereka melakukan hal serupa kepada Ipswich Town pada April 2026. Semua aksi ilegal ini terjadi di bawah kendali Tonda Eckert. Ia menjabat sebagai pelatih kepala sejak awal Desember. Karena pola ini terulang, FA mempertimbangkan sanksi tambahan. Klub asal Hampshire ini terancam hukuman lebih berat jika terbukti ada pelanggaran sistematis.
BACA JUGA: Aplikasi Canva Desktop Menyediakan Fitur Offline untuk Mengedit Tanpa Koneksi Internet
BACA JUGA: Pemerintah Melaksanakan Ekspor Terpadu Melalui PT Danantara
Juru bicara FA menyatakan pihaknya sedang memeriksa semua bukti. Mereka ingin teliti sebelum mengambil keputusan akhir. Kasus ini menjadi sorotan tajam di sepak bola Inggris. Perwakilan FA menegaskan tidak akan memberi komentar lagi sampai proses belajar bukti selesai. Keputusan komisi disiplin independen EFL sudah final. Southampton resmi keluar dari play-off Championship. Posisi mereka di final diambil alih oleh Middlesbrough. Middlesbrough akan melawan Hull City pada Sabtu malam, 23 Mei 2026, di Stadion Wembley.
Advertising
Kabar ini memukul mental para pemain. Leo Scienza, pemain terbaik The Saints musim ini, mengungkapkan rasa sedihnya di Instagram. Bintang asal Brasil itu merasa kerja keras tim selama setahun sia-sia. Ia merasa akhir musim ini sangat menyakitkan. Scienza menulis bahwa ia merasa kecewa, marah, dan sedih. Ia sulit mencari kata yang pas untuk menggambarkan situasi ini.
Menurutnya, kejadian ini menyakiti klub, pemain, dan terutama para fans. Ia merasa momen penentuan musim tidak seharusnya berakhir seperti ini. Pemain itu menambahkan bahwa tim sudah berjuang mati-matian. Tujuan mereka hanya satu, membawa Southampton kembali ke Premier League. Ia merasa suporter adalah pihak yang paling dirugikan. Para fans sudah memberi dukungan luar biasa sepanjang musim namun mendapat akhir yang buruk.
Advertising
Di sisi lain, chief executive Southampton Phil Parsons tidak tinggal diam. Ia mengecam keras hukuman dari EFL. Parsons menganggap sanksi itu terlalu berlebihan jika dibanding kasus lain di Inggris. Ia juga menyoroti kerugian finansial klub. Southampton sudah menjual lebih dari 37 ribu tiket final sebelum keputusan pengeluaran itu muncul.
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Reaksi :
Artikel Terkait











