Indonesia - Perssilam, Fenomena zero-click dari kemajuan kecerdasan buatan atau AI kini mengubah cara orang baca berita di media online. Dampaknya nyata. Hendry Chairudin Bangun, mantan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia atau PWI, bilang hal ini sudah terjadi beberapa tahun lalu. Ia lihat perubahan ini jelas. Orang sekarang suka info cepat dari mesin pencari. Mereka tak lagi klik tautan ke situs media.
Temukan lebih banyak
Bisnis
Advertising
Cukup lihat ringkasan otomatis yang muncul di halaman pencarian. Misalnya, saat cari "harga bensin hari ini", jawaban langsung tampil. Orang merasa puas dengan itu. Tak perlu baca artikel penuh.
Hendry sebut ini rugikan media tradisional. Mereka masih hitung pembaca dari jumlah klik. Padahal, ukuran benar bukan cuma berapa kali dibuka. Tapi berapa lama orang baca. Dan seberapa dalam pahamnya. "Jadi maksudnya bukan berapa kali saja tapi berapa lama," kata Hendry. "Sehingga sebenarnya kalau dibaca sejuta kali tapi hanya 2-3 detik saja juga enggak ada manfaatnya juga untuk pengiklan, kan begitu."
Advertising
Bayangkan iklan di halaman web. Kalau pengunjung cuma lihat sekilas, tak ada untung. Pengiklan bayar berdasarkan waktu tonton atau interaksi nyata. Jadi, zero-click buat traffic palsu. Media kehilangan pendapatan.
Tapi Hendry yakin media bagus tetap menang. Yang kredibel dan beri info dalam. Orang cari mereka untuk cek fakta. Atau dalami topik rumit. Contoh, saat isu politik panas. Publik butuh sumber tepercaya. Kunci bertahan adalah naikkan kualitas konten. Buat tulisan yang tak tergantikan mesin AI.
Sebelumnya, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, bahas ancaman lain dari AI. Serangan siber kini masuk ke kehidupan sehari-hari. Targetnya rekening bank pribadi. Identitas digital seperti email atau akun medsos. Juga perangkat harian seperti ponsel dan laptop. Nezar bilang pola serangan berubah besar. Pelaku kejahatan pakai AI untuk bikin lebih pintar. Dulu, korban harus klik link berbahaya. Sekarang tak perlu. Ancaman datang tanpa sadar. Tak selalu gara-gara ceroboh pengguna.
Temukan lebih banyak
BUSINES SERVICES AND PROCUREMENT
Ia tekankan zero-click attack. Cukup terima pesan masuk. Malware langsung aktif. Ini dari keterangan resmi Nezar di Jakarta. Pesan WhatsApp atau email saja bisa picu. Tanpa buka lampiran. "Data Boston Consulting Group atau BCG pada Desember 2025 tunjukkan serangan siber tumbuh lebih cepat dari upaya bela diri," ujar Nezar. Makanya, warga sering kena tanpa tahu. Mereka pakai perangkat setiap hari. Risikonya tinggi. Pemerintah dorong kesadaran. Lindungi data sejak dini.
Temukan lebih banyak
Musi Rawas
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :







.png)








