
Indonesia, Perssilam - Kue bulat kenyal berisi gula merah ini jadi kudapan ikonik di seluruh Nusantara. Bentuknya mirip di mana-mana. Tapi namanya beda-beda. Itu sering bikin orang debat seru. Nama tergantung daerah dan budaya lokal. Panduan ini jelaskan perbedaan itu berdasarkan lokasi. Buku "Kuliner Jajanan Pasar di Jalur Sutra" karya Bondan Winarno sebut di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY, kue ini namanya Klepon. Tepung ketan hijau dibentuk bola. Isi gula merah cair. Luar dibalut kelapa parut. Saat digigit, gula merah meleleh manis. Kelapa tambah gurih. Rasa itu bikin nagih. Klepon sering ada di pasar tradisional. Jadi camilan harian. Bukan cuma saat Ramadan. Selalu favorit sepanjang tahun.
Advertising
BACA JUGA:Ekonomi : Bank Indonesia telah menyiapkan dana sebesar 185,6 triliun untuk menyambut Ramadan dan Idulfitri tahun 2026Di Sumatra dan Malaysia, kue sama disebut Onde-Onde. Di sini, itu bola ketan isi gula merah. Bukan yang lapis wijen seperti di Jawa. Orang sering bingung gara-gara nama mirip. Padahal intinya sama: ketan kenyal berisi gula merah. Di pasar Sumatra, onde-onde ini laris pagi hari. Pedagang goreng segar. Bau harum nyebar jauh.
Sulawesi punya cerita sendiri. Masyarakat Bugis dan Makassar sebut Onde-Onde. Bukan sekadar camilan. Ada makna dalam adat. Misal di ritual Barzanji atau syukuran rumah baru. Kue ini disajikan. Simbol harapan rezeki dan bahagia melekat. Lengketnya seperti rezeki yang tak lepas. Manisnya wakili kebahagiaan keluarga. Saat acara, onde-onde ditata rapi di dulang. Tamu ambil satu per satu.
Advertising
BACA JUGA:Nasional : Lima jalur penyeberangan telah disiapkan, sebagai strategi Menteri Perhubungan untuk mengurai arus mudik Lebaran antara Jawa dan SumateraDi Jawa dan Jakarta, Onde-Onde beda lagi. Itu kue goreng lapis biji wijen. Isi kacang hijau. Tekstur renyah. Beda dengan Klepon yang kenyal. Sering ada di pasar tradisional Jawa. Cara buatnya: adonan digoreng kering. Wijen tambah kriuk. Kacang hijau manis padat. Orang Jakarta beli untuk sarapan atau ngemil sore. Perbedaan nama ini lahir dari budaya dan sejarah lokal. Ambil contoh Sulawesi Selatan. Onde-onde lebih dari makanan. Hadir di ritual adat. Simbol keberuntungan. Lengket dan manisnya gambarkan rezeki yang nempel. Keluarga bagikan saat syukuran. Itu perkuat ikatan. Di Jawa, pengaruh Tionghoa ubah nama. Onde-Onde dari Jian Dui. Itu bola ketan goreng lapis wijen. Mirip tapi beda isi. Supaya tak campur aduk, orang Jawa pilih Klepon untuk versi gula merah. Ini tunjuk kuliner Indonesia campur budaya asing.
BACA JUGA:Liga Champions : Kekalahan Telak dari Galatasaray, Spaletti Menyatakan Juventus Kehilangan Jiwa
BACA JUGA:Liga Champions : Kekalahan Telak dari Galatasaray, Spaletti Menyatakan Juventus Kehilangan JiwaTionghoa bawa resep via pedagang. Lalu nyebar di pasar. Fakta menarik: di Belanda, kue ini populer sebagai Klepon. Diaspora Indonesia bawa pasca kolonial. Komunitas sana jual di toko halal. Nama Klepon dipakai untuk ketan isi gula merah. Jadi favorit eks-pat. Meski di tanah air nama beragam, di sana Klepon menang. Kue ini laris saat Ramadan. Sajian buka puasa. Klepon atau Onde-Onde tambah ramai di meja. Cita rasa manis khas bikin ceria. Acara buka bersama selalu punya. Pedagang tambah stok. Keluarga buat sendiri di rumah. Itu bikin bulan puasa lebih hangat.

Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :













