
Temukan lebih banyak
Bisnis
Advertising
"Ketersediaan SDM industri yang kompeten jadi penggerak utama tingkatkan daya saing nasional," kata Menperin lewat keterangan tulis. Pernyataan itu keluar Minggu, 1 Februari 2026.
Tahun 2025 lalu, Kemenperin catat sukses besar. Mereka luluskan 5.386 siswa dan mahasiswa. Sebanyak 22 sekolah vokasi di bawah mereka ikut andil. Lulusan ini kuasai keterampilan pas untuk industri manufaktur. Mereka siap kerja langsung. Dan bisa ikut arus teknologi baru. Saat lulus, 68 persen langsung terserap ke pabrik. Targetnya naik jadi 100 persen dalam enam bulan. Angka ini tunjukkan program efektif. Banyak perusahaan butuh pekerja terlatih begini.
Advertising
Badan Pengembangan SDM Industri (BPSDMI) Kemenperin pegang peran kunci. Mereka perluas kerjasama. Mitra utama adalah perusahaan industri dan sekolah. Baik lokal maupun luar negeri. Ini bantu ciptakan tenaga kerja kelas dunia. Contoh nyata ada di Politeknik ATK Yogyakarta. Sekolah ini di bawah BPSDMI. Fokusnya kembangkan industri kulit, karet, dan plastik. Mereka kirim 10 mahasiswa ke Tiongkok. Programnya namanya Luban–Mozi College. Kerjasama dengan Sailun Group dan Qingdao Technical College (QTC). Peserta mulai belajar sejak September 2025. Kelulusan rayakan Selasa, 20 Januari 2026.
Kepala BPSDMI Doddy Rahadi puji program ini. Ia sebut itu bukti kerjasama global nyata. Antara sekolah dan industri. Tujuannya cetak SDM unggulan. "Pengalaman belajar di pabrik internasional bentuk talenta pintar. Siap hadapi industri modern," kata Doddy. Doddy tambah lagi. SDM masa depan butuh lebih dari skill teknis. Mereka harus adaptasi dengan digitalisasi. Dan paham smart manufacturing. Ini cara produksi cerdas pakai mesin otomatis.
Program berjalan empat bulan. Peserta pelajari teknologi canggih. Seperti Internet of Things (IoT) yang hubungkan alat-alat. Dan Artificial Intelligence (AI) yang bantu keputusan pintar. Plus belajar Bahasa Mandarin. Itu kuatkan kemampuan global mereka. Lulusan ini spesial. Mereka mahasiswa asing pertama dibina Sailun Group dan QTC. Beberapa lulus uji simulasi HSK Level 3 Bahasa Mandarin. Yang lain capai Level 4. HSK adalah tes standar bahasa itu. Tingkat ini buktikan mereka mahir bicara bisnis dengan orang Tiongkok.
Temukan lebih banyak
BUSINES SERVICES AND PROCUREMENT
President QTC Xing Guanlu senang. Ia bilang program ini langkah penting. Integrasi industri dan sekolah jadi kuat. Dukung strategi ekspansi global perusahaan. "Saya harap peserta bawa pulang ilmu dari Tiongkok ke Indonesia. Jadi ahli teknis. Lancar Mandarin. Dan paham budaya luas," kata Guanlu. Kerjasama ini beri manfaat besar. Mahasiswa dapat pengalaman langsung di pabrik asing. Mereka paham standar internasional. Saat pulang, mereka siap dorong industri lokal maju. Tingkat serapan kerja tinggi karena skill unik ini. Kemenperin targetkan lebih banyak program serupa. Demi capai visi Asta Cita penuh. Industri nasional akan lebih tangguh lawan kompetisi dunia.
Temukan lebih banyak
Musi Rawas
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :







.png)








